CSIS: Jika Tidak Ada "Tsunami Politik", Ganjar Tinggal Dilantik

CSIS: Jika Tidak Ada
Dua pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Jawa Tengah yakni Ganjar Pranowo-Taj Yasin (kiri) dan Sudirman Said-Ida Fauziah (kanan) mengikuti acara Debat Terbuka Pigub Jawa Tengah putaran ke-2 di Sukoharjo, Jawa Tengah, 3 Mei 2018. ( Foto: Antara / Mohammad Ayudha )
Robertus Wardi / FMB Minggu, 13 Mei 2018 | 17:58 WIB

Jakarta - ‎Elektabilitas Calon Gubenur (Cagub) Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dan pasangannya Taj Yasin tidak tertandingi. Jika tidak ada kasus atau "tsunami politik", Ganjar-Yasin tinggal dilantik. Dengan begitu, Ganjar akan memimpin Jateng untuk periode kedua.

Hal itu terungkap dari hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dipaparkan di Jakarta, Minggu (13/5).

Paparan survei disampaikan peneliti CSIS Philips J Vermonte, Arya Fernandes dan Noory Okthariza. Survei dilaksanakan 16-30 April dengan mengambil 970 responden. Survei menggunakan metode wawancara dengn mengisi kuesioner oleh responden.

"Elektabilitas Ganjar-Yasin mencapai 66,5 persen. Penantangnya Sudirman Said dan Ida Fauziyah hanya 14,8 persen. Selisihnya mencapai 40 persen," kata Philips.

Dia menjelaskan yang belum menentukan pilihan hanya 18,7 persen. Jumlah itu sangat jauh dari selisih elektabilitas kedua pasangan.

"Jika yang belum menentukan pilihan yang mencapai 18 persen, akhirnya memilih Sudirman dan Ida, tidak membantu banyak untuk kemenangan keduanya. Ganjar-Yasin terlalu kuat di Jateng," ungkap Philips.

Menurutnya, hasil survei menunjukkan 52,1 persen sudah menyatakan tetap dengan pilihannya. Kecenderungan untuk berubah peta dukungan sangat kecil karena mayoritas pemilih sudah punya pilihan masing-masing.

Pasangan Ganjar-Yasin lebih banyak dipilih oleh pemilih yang menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah. Angkanya mencapai 65 persen. Sebaliknya 45,1 persen memilih Sudirman-Ida karena tidak puas dengan kinerja pemerintah.

"Ada 30,4 persen menyatakan tidak puas dengan kinerja pemerintah namun mendukung pasangan Ganjar-Yasin. Sebaliknya 54,2 persen menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah tetapi lebih memilih Sudirman-Ida," jelas Philips.

Dia menegaskan pilkada serentak 2018 menjadi teropong untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Pemilu 2019. Diantaranya mengenai asosiasi pemilih terhadap partai politik dan calon yang diajukan.

Untuk Jateng, 57,3 persen menyebut PDIP sebagai partai utama pengusung Ganjar-Yasin. Sementara hanya 16,8 persen menyebut Gerindra sebagai partai utama pasangan Sudirman-Ida.

"Temuan ini adalah gambaran awal bagi partai-partai mengenai asosiasi antar calon yang diajukan dengan identitas atau pengenalan pemilih terhadap parpol peserta pemilu 2019. Untuk Jateng, PDIP menjadi partai dominan dibandingkan partai-partai lain," tutup Philips.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE