PDIP Siap Hadapi Kemungkinan Poros Ketiga di Pilpres 2019

PDIP Siap Hadapi Kemungkinan Poros Ketiga di Pilpres 2019
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (kanan), berbincang dengan Sekjen Partai Nasdem Johnny G Plate, seusai menggelar pertemuan tertutup di kantor DPP Nasdem, Jakarta, 3 April 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Markus Junianto Sihaloho / JAS Selasa, 12 Juni 2018 | 15:55 WIB

Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) sudah siap dengan segala kemungkinan di Pilpres 2019, termasuk apabila ada poros ketiga pasangan calon presiden-calon wapres yang digagas oleh Partai Demokrat (PD).

Seperti disampaikan oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, pihaknya sudah biasa menghadapi pertarungan dengan calon lebih dari dua pasangan.

"Dengan lima calon, dengan dua calon, tiga calon, kami semuanya siap. Dan strategi kami akan menyesuaikan dengan dinamika politik yang ada," kata Hasto, Selasa (12/6).

"Strategi utama PDIP adalah bergerak di bawah ke tengah rakyat," kata Hasto.

Masalah kini PD kerap mengkritik pemerintahan Jokowi padahal di awal sempat melakukan penjajakan koalisi, Hasto mengatakan hal itu wajar. Yang jelas, rakyat akan melihat konsistensi dari parpol dalam melakukan kritikan.

"Kalau kritik itu harusnya diberikan berdasarkan objektivitasnya. Bukan didasarkan pada kepentingan politiknya," ujarnya.

"Ketika mau ketok pintu cerita yang baik-baik, kemudian ketika ada agenda berbeda kemudian memberikan kritik yang berbeda. Rakyat melihat ketidakkonsistenan di situ," imbuhnya lagi.

Selama ini, lanjutnya, dari berbagai sinyal termasuk dari Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memang ada upaya membangun dialog positif. Namun PDIP tak bisa memaksanakan karena ujungnya kembali kepada kebijakan masing-masing parpol.

Di luar itu, diakui Hasto, komunikasi dengan PD agak terganggu akibat perhelatan sejumlah pilkada karena PDIP dan PD kerap berseberangan calon. Hal itu terjadi seperti di Sumatera Utara dan Jawa Timur.

"Nah tentu saja pilkada ini senapas dengan pileg dan pilpres. Ketika di dalam pilkada juga ada perbedaan-perbedaan yang tajam, tentu saja ini juga kurang kondusif untuk membangun kerja sama ke depan," beber Hasto.

Untungnya, ‎lanjut dia, soliditas parpol pendukung Jokowi sangat kuat. Yakni di antara PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, dan PKB yang selalu diajak berkomunikasi.

"Sehingga tinggal bagaimana agar kerjasama yang ada diarahkan untuk memastikan terpenuhinya kekuatan 50 persen plus satu itu dapat terpenuhi di depan," kata Hasto.



Sumber: BeritaSatu.com