Titiek Pindah ke Partai Berkarya, Golkar Diuntungkan

Titiek Pindah ke Partai Berkarya, Golkar Diuntungkan
Putri Presiden ke-II Soeharto, Titiek Soeharto (kanan) berbincang dengan rekan kader Partai Golkar disela rapat pleno komisi Munas Golkar IX di Nusa Dua, Bali, Rabu (3/12). ( Foto: Antara/Puspa Perwitasari )
Yustinus Paat / JAS Selasa, 12 Juni 2018 | 19:56 WIB

Jakarta - Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus menilai Partai Golkar diuntungkan dengan berpindahnya Titiek Soeharto ke Partai Berkarya. Pasalnya, kepindahan Titiek membuat Partai Golkar bebas dari beban politik dan psikologis yang dipikul selama 20 tahun.

"Selama Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto dan Partai Golkar, telah terjadi praktik pemusatan kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab secara berlebihan pada Soeharto sebagai Presiden atau Mandataris MPR RI saat itu. Lembaga negara tidak berfungsi dengan baik dan lemahnya kontrol masyarakat," ujar Petrus di Jakarta, Selasa (12/6).

Menurut Petrus, dengan adanya sisa-sisa kekuatan Orde Baru di tubuh Partai Golkar, membuat partai ini tidak leluasa mewujudkan amanat TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN, tanggal 13 November 1998 dan TAP MPR RI Nomor VIII/MPR/2001 Tentang Arah Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan KKN.

Pasal 4 TAP MPR RI Nomor: XI/MPR/1998 tertanggal 13 November 1998, menyatakan bahwa, "upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan Presiden Soeharto, dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak asasi manusia".

"Artinya reformasi telah mengamanatkan perlunya pemberantasan KKN terhadap siapapun tanpa pandang bulu, termasuk terhadap mantan Presiden Soeharto dan kroninya. Namun kenyataannya, hingga sekarang proses hukum terhadap pejabat Orde Baru termasuk mantan Presiden Soeharto dan kroninya tidak tuntas dilakukan (setengah hati) hingga Soeharto dan sebagian kroninya meninggal dunia," ungkap dia.

Dalam konteks ini, kata Petrus, adanya putra/putri Soeharto dan kroninya dalam Partai Golkar bahkan ada menjadi anggota DPR telah menghambat Partai Golkar mengemban amanat TAP MPR. Karena itu, kata dia, mundurnya Titiek Soeharto bahkan Tommy Soeharto dari Partai Golkar tidak boleh disesali melainkan harus disyukuri.

"Ini harus dipandang sebagai momentum terwujudnya 'Golkar Bersih' karena hal itu akan menurunkan beban politik dan psikologis bagi seluruh kader Partai Golkar. Ibarat duri dalam daging sudah tercabut," tutur dia.

Sekarang, lanjut dia, Partai Golkar bukan saja tanpa beban mengusung tagline "Golkar Bersih, Bersatu dan Bangkit", namun juga bagi masyarakat khususnya kader Golkar dapat mengembangkan partisipasi atau peran kontrol sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana diamanatkan oleh TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998.

"Jadi, Partai Golkar tanpa hambatan politik dan psikologis apapun lagi, apalagi Partai Golkar merupakan salah satu motor dalam melahirkan TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998 dimaksud," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE