Nasdem: Cawapres Jokowi Lebih Baik dari Non Partai

Nasdem: Cawapres Jokowi Lebih Baik dari Non Partai
Presiden Joko Widodo memberi sambutan saat peresmian Jalan Tol Gempol-Pasuruan Seksi II di gerbang tol Pasuruan, Jawa Timur, 22 Juni 2018. ( Foto: Antara / Umarul Faruq )
Deti Mega Purnamasari / YUD Rabu, 11 Juli 2018 | 15:53 WIB

Jakarta - Partai Nasdem menilai calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo (Jokowi) akan lebih baik jika berasal dari non partai untuk menjaga soliditas koalisi.

Hal tersebut disampaikan Politisi Nasdem, Taufiqulhadi di Gedung DPR, Rabu (11/7). Ia berharap para partai politik (parpol) juga tidak perlu memaksakan kadernya menjadi cawapres untuk dipilih Jokowi.

"Itu lebih baik dan akan membangun sebuah situasi yang mendukung kebersamaan," ujar Taufiq.

Ia mengatakan, jika cawapres Jokowi bukan berasal dari non partai maka nantinya akan ada yang merasa lebih banyak mengambil keuntungan di dalam situasi tertentu. Dengan demikian, ia berpikir agar tidak ada hasrat berlebihan untuk menempatkan kader menjadi wakil dari parpol untuk menjadi cawapres.

Adapun jika Jokowi memilih kalangan non parpol, maka menurutnya efek ekor jas akan didapatkan bersama-sama. Sebab apabila total efek ekor jas itu hanya didapatkan satu partai saja, maka partai lainnya tidak akan mendapat apapun.

"Kami menganggap Pak Jokowi adalah sebagai figur bersama. Jadi kami yakin (efek ekor jas menyebar ke semua partai)," katanya.

Kendati demikian, katanya, harus ada cara lain yang dilakukan agar elektabilitas suara untuk partai didapatkan bersama-sama. Misalnya adalah kinerja partai, calon legislatif (caleg), dan beberapa hal lainnya.

Ia mengatakan, jika partai-partai politik pengusung ada yang merasa paling dekat dengan Jokowi dipersilakannya, termasuk Nasdem sendiri. Namun terkait dengan cawapres disebutkannya agar para partai pengusung memberi kesempatan saja kepada Jokowi untuk menentukan cawapresnya.

"Kalau saya berpikir nama-nama yang muncul tidak ada hal yang menurut saya perlu disanggah. Karena itu semua menguat," katanya.

Baca juga: PDIP Harap Partai Pengusung Konsisten Dukung Jokowi Siapapun Cawapresnya

Baca juga: Tokohnya Jadi Cawapres atau Tidak, PPP Janji Tetap Dukung Jokowi

Ia mengatakan, hal yang baik dalam konteks rumus politik di Indonesia adalah apabila seorang capres dari Jawa, cawapresnya dari luar Jawa, maka itu bisa menunjang elektabilitas. Namun selain itu
ada perhitungan lebih detail lagi karena saat ini untuk mengukur hal tersebut ada lembaga survei dan sebagainya.

"Jadi ada keterwakilan seperti itu dalam konteks di Indonesia sehingga perasaan-perasaan kebersamaan kami harus ada simbolnya, presidennya dari Jawa, wapresnya dari luar Jawa, kalau presidennya dari luar Jawa, wapres dari Jawa. Kenapa Jawa penting, karena Jawa merepresentasikan penduduk yang besar. Jawa satu sisi luar Jawa. Jawa itu lebih dari 50 persen penduduknya," terang Taufiq.

Pihaknya juga tidak pernah berpikir ada partai yang akan meninggalkan koalisi apabila Jokowi memilih cawapres dari non parpol. Termasuk Golkar yang menurutnya merupakan partai yang matang sehingga tidak akan bersikap zig zag.

"Kami tidak ada kekhawatiran, dia akan tetap bersama dengan koalisi," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE