Pilpres 2019

Prabowo-AHY Realistis

Prabowo-AHY Realistis
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) didampingi Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kiri) saat menerima Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) di kediamannya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, 24 Juli 2018. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / AB Kamis, 2 Agustus 2018 | 12:24 WIB

Jakarta - Jika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto realistis dan pragmatis, maka dia akan memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon wakil presiden (cawapres). Pasalnya, AHY mempunyai dukungan politik dan logistik yang kuat, serta elektabilitasnya cukup bagus.

Prabowo lebih membutuhkan sokongan logistik dan figur yang bisa mendongkrak elektabilitas di kalangan muda. Dalam hal ini, Partai Demokrat dan SBY mempunya kemampuan lebih baik daripada PAN dan PKS.

Hal tersebut disampaikan peneliti Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC), Sirajuddin Abbas di Jakarta, Kamis (2/8).

Menurutnya, Partai Demokrat juga tidak akan bekerja sepenuh hati untuk Prabowo jika harapan mereka tidak terpenuhi, yakni menempatkan AHY sebagai cawapres. Apalagi dalam koalisi, Partai Demokrat berada pada posisi memimpin. Sebaliknya, ruang bagi PAN dan PKS untuk menyeberang ke kubu Joko Widodo semakin sempit, jika mereka tidak sepakat dengan Demokrat dan Prabowo. PAN dan PKS saat ini hanya bisa mengupayakan konsesi terbaik buat mereka.

Namun, PKS masih bisa menaikkan daya tawar menyusul ijmak ulama yang merekomendasikan Ketua Majelis Syuro, Salim Segaf Al Jufri, sebagai cawapres Prabowo. Rekomendasi tersebut menguntungkan posisi PKS. Oleh karena itu, PKS tidak akan mudah mendukung cawapres dari Partai Demokrat tanpa konsesi yang memadai.

Abbas memprediksi kompromi dan tarik-menarik kepentingan untuk mendapat konsesi akan berlangsung hingga akhir masa pendaftaran capres-cawapres. Bentuk konsesi bagi PAN dan PKS, antara lain posisi-posisi kunci di kabinet dan akses pada sumber-sumber kekuasaan di pemerintahan.

Lebih lanjut, Abbas mengatakan sebenarnya Gerindra dan Partai Demokrat sudah memenuhi syarat untuk mencalonkan pasangan capres-cawapres, tetapi keduanya tetap membutuhkan PAN dan PKS.

"PKS dan PAN merepresentasikan segmen pemilih Muslim tertentu. PAN masih terasosasi dengan Muhammadiyah. PKS dapat dukungan dari alumni Aksi 212. Jadi, meskipun secara administratif Gerindra dan Demokrat sudah cukup untuk maju di pencalonan, mereka tetap membutuhkan partai-partai yang bisa menyumbang suara dari kelompok Islam," pungkasnya. 



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE