PMKRI Gaungkan "Kita Indonesia"

PMKRI Gaungkan
Foto bersama sesuai seminar “Meneguhkan Kembali Semangat #Kita_Indonesia" yang diselenggarakan PMKRI di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). ( Foto: Istimewa )
Anselmus Bata / AB Jumat, 10 Agustus 2018 | 22:35 WIB

Kupang - Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menggelar rangkaian kegiatan di 15 kota di Indonesia. Kegiatan yang menggaungkan "Kita Indonesia" diawali di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui seminar kebangsaan bertema "Meneguhkan Kembali Semangat #Kita_Indonesia" di aula Universitas Katolik Widya Mandira Penfui, Kupang, Jumat (10/8).

Sekretaris Jenderal Presidium Pusat (PP) PMKRI, Thomson Silalahi, menyatakan kegiatan menggaungkan "Kita Indonesia" bertolak dari ketegangan yang ditimbulkan oleh tahun politik dan merebaknya isu-isu fundalisme. Akibatnya, di kalangan masyarakat muncul pemisahan antara kami dan kamu dari bingkai kekitaan.

"Rasa persaudaraan yang selama ini terbangun begitu apik di atas fondasi kebinekaan tergilas oleh pesona primordialisme yang menampilkan wajah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) demi kepentingan dan tendensi negatif. Isu-isu atas nama  SARA tak lain hanya menegaskan eksklusivitas identitas sektarian dalam bingkai berpikir yang sempit dan picik, tetapi dampaknya begitu luas pada kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Thomson.

"Kita Indonesia", kata Thomson, merupakan tema besar yang diangkat PMKRI sebagai slogan moral politik pembinaan dan perjuangan yang kini menjadi relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini.

"Gerakan 'Kita Indonesia' merupakan seruan moral sekaligus gerakan politik untuk menjahit kembali tenun kebangsaan yang terkoyak oleh arogansi identitas keakuan, kekamian, keagamaan, dan kesukuan. Gerakan ini menghendaki persatuan Indonesia, sekaligus menentang gerakan-gerakan yang mengoyak tenun kebangsaan kita. PMKRI secara konsisten menggaungkan 'Kita Indonesia' di 15 kota agar gerakan ini menjadi serum perdamaian yang mempersatukan seluruh anak bangsa demi memajukan Indonesia," ujar Thomson.

Saat menyampaikan pidato pembukaan seminar, Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang, Engelbertus Boli Tobin menyatakan terkoyaknya persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan sosial dan problem kemanusiaan. Ketidakadilan berdampak langsung pada kesenjangan ekonomi dan memicu terjadinya pelanggaran hak asasi manusia, serta menimbulkan gerakan-gerakan yang ingin menggantikan dasar negara Pancasila dengan ideologi yang datang dari luar.

Terhadap situasi tersebut, pemerintah perlu lebih serius mewujudkan keadilan berpijak di atas kepentingan semua dan di atas segalanya perlu menghormati martabat kemanusiaan.

"Pemerintah belum mampu mewujudkan cita-cita pendirian bangsa, yakni terwujudnya kesejahteraan umum di segala aspek kehidupan," tutur Obi.

Sementara itu, dalam seminar yang dihadiri ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTT, Abdul K Makarim yang menjadi narasumber mengatakan bangsa Indonesia memiliki keragaman, meliputi suku, adat, budaya, dan agama, menjadikan Indonesia memiliki kekhasan tersendiri di mata dunia. Bangsa lain tidak mampu mempersatukan keragaman dan perbedaan, sehingga muncul perpecahan maupun konflik. Namun, Indonesia mampu mempersatukan perbedaan-perbedaan itu, sehingga diperhitungkan bangsa lain.

"Keragaman bangsa kita ini tidak membuat perpecahan di antara kita, malah mampu memperat dalam tali persatuan. Sebagai generasi muda zaman now hendaknya menggali sejarah bangsa, membangun nasionalisme dalam diri kita masing-masing, serta memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa," katanya.

Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi yang majemuk telah membuktikan semangat persatuan dan kesatuan dalam hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. "Dalam berbagai forum nasional, saya selalu menyerukan bahwa NTT itu nusa tinggi toleransi. Itulah yang saya serukan berulang kali," kata Makarim.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE