Ini 7 Poin Kelemahan Pernyataan Prabowo

Ini 7 Poin Kelemahan Pernyataan Prabowo
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto (tengah) didampingi Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Syam (kedua kiri) dan Pimpinan Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin Asy'ari Akbar (kanan) tiba di lokasi Rakernas LDII di Jakarta, Kamis (11/10). Rapat kerja tersebut mengangkat tema "LDII Untuk Bangsa". ( Foto: ANTARA FOTO / Dhemas Reviyanto )
Markus Junianto Sihaloho / YUD Kamis, 11 Oktober 2018 | 20:38 WIB

Jakarta - Pernyataan Capres Prabowo Subianto dalam pidatonya di acara Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII), Kamis (11/10) hari ini, dikritisi oleh Wakil Direktur Saksi TKN Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Lukman Edy.

Ada 7 poin yang disampaikan Lukman Edy. Namun dia menilai bahwa Prabowo terlihat kembali grasa-grusu soal substansi yang disampaikannya.

"Saya menangkap kesan Prabowo benar-benar tidak diberikan informasi yang valid tentang kondisi bangsa kita hari ini, sehingga yang beliau sampaikan out of date," kata Lukman Edy, di Rumah Cemara, Menteng, Kamis (11/10).

Kata dia, seharusnya Tim Prabowo-Sandi, terutama tim ekonominya, memberikan narasi yang benar. Sebab bila tidak, apa yang disampaikan Prabowo bisa dianggap hoax ekonomi karena tidak didukung oleh fakta dan data.

Tujuh kelemahan

Pertama, kata Lukman Edy, Prabowo menyebut elite pemerintahan tidak peduli dengan bangsa dan negara, lebih mencari keuntungan untuk pihak dan keluarganya,

"Siapa yang mencari keuntungan untuk keluarganya. Kalau menuduh Pak Jokowi memperkaya keluarganya sendiri, siapa yang dituding itu? Anak-anak Pak Jokowi?. Pak Jokowi selama 4 tahun menjadi Presiden, keluarganya tidak terlibat sama sekali, beda dengan rezim-rezim sebelumnya. Anak dan keponakan Jokowi tidak ada yang jadi politisi, tidak ada yang jadi pejabat negara dan tidak ada yang menjadi konglomerat," beber Lukman Edy.

Kedua, Prabowo menyebut bangsa ini tambah miskin. Lukman Edy mempertanyakan data Prabowo sehingga membuat kesimpulan demikian. Sebab data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa di era Jokowi, angka kemiskinan berhasil diturunkan ke satu digit, di bawah 10 persen.

Selain itu, Indek Pembangunan Manusia Indonesia juga membaik dari 0,684 di 2014 menjadi 0,708 di 2017. Indeks semua provinsi di Indonesia juga naik, dimana yang tertinggi di Papua, Papua Barat, dan Gorontalo.

Ketiga, lanjut Lukman, Prabowo menyebut bangsa Indonesia tambah tidak baik. Pertanyaannya, indikator apa yang dipakai Prabowo untuk menyebut Indonesia bertambah baik atau buruk.

Lukman Edy lalu menunjukkan data bahwa Indonesia diprediksi masuk ke jajaran empat negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada 2050. "Indonesia bukan negara yang terancam bangkrut seperti yang selalu didengungkan oleh Prabowo," kata Lukman Edy.

Keempat, Prabowo menyebut mengalir keluarnya kekayaan nasional alias dikuasai asing. Menurut Lukman Edy, informasi inipun tidak benar. Posisi Indonesia berkenaan dengan penguasaan asing jauh lebih baik dibanding negara-negara se-Asia Tenggara lainnya. Belum lagi regulasi selama 4 tahun ini, kelihatan betul keberpihakan Pemerintahan Jokowi terhadap kekuatan bangsa sendiri.

"Yang paling fenomenal adalah kembalinya ke Ibu Pertiwi tambang emas terbesar di Papua dan blok minyak terbesar di Rokan Riau," kata Lukman.

Kelima, Prabowo menyebut bangsa ini menjadi kacung dari bangsa asing. Kata Politikus PKB itu, isi ini adalah isu lama yang sudah terbantahkan, Kata dia, Indonesia memiliki peraturan yang memproteksi tenaga kerja dalam negeri.

Keenam, Prabowo menyebut 'kita kehilangan tanah air kita'.

"Tanah Air mana yang hilang ? Timur Leste bukan zaman Jokowi, Aceh dan Papua aman-aman saja, dan 4 tahun terakhir ini hampir tidak ada gejolak di daerah tersebut. Bahkan diplomasi Indonesia di luar negeri utk mempertahankan batas-batas NKRI sangat progresif," ulasnya.

Ketujuh, Prabowo mengeluarkan slogan 'make Indonesia great again'. Kata Lukman Edy, Prabowo baru dalam tahapan membuat slogan. Sementara Jokowi sudah melakukannya lewat program pembangunan nasional yang masif.

"Prabowo baru slogan sementara Pak Jokowi sudah melakukannya," tands dia.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE