Kasus Rizieq, Tudingan Ada Operasi Intelijen Hanya Halusinasi

Kasus Rizieq, Tudingan Ada Operasi Intelijen Hanya Halusinasi
Polisi meminta keterangan Rizieq Syihab di Arab Saudi. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 8 November 2018 | 17:48 WIB

Jakarta - Penyelidikan terhadap Rizieq Syihab terkait pemasangan bendera yang teridentifikasi berafiliasi ekstremisme oleh otoritas keamanan Kerajaan Arab Saudi, memunculkan spekulasi, halusinasi, delusi, dan prasangkat atas perstiwa tersebut. Kasus itu kemudian dikaitkan dengan pemerintah Indonesia oleh sebagian pihak di Tanah Air.

Ketua Fraksi PPP di MPR, Arwani Thomafi mengatakan, tudingan ada operasi intelijen, apalagi yang dilakukan pemerintah Indonesia, tidak memiliki dasar yang kuat. “Saya sangat menyesalkan spekulasi, halusinasi, delusi, dan syak wasangka yang dikonstruksi oleh sejumlah pihak atas peristiwa yang menimpa Rizieq Syihab di Mekkah. Spekulasi tersebut justru membuat kegaduhan baru di Tanah Air,” ujar Arwani di Jakarta, Kamis (8/11).

Dikatakan, hal itu berdampak pada munculnya sikap saling curiga di antara anak bangsa. Pernyataan yang menyebutkan ada operasi intelijen dalam kasus itu merupakan pernyataan fatal yang tak berdasar. Relasi RI dan Arab Saudi, kata dia, telah berjalan cukup lama dan dalam perkembangan mutakhir semakin menunjukkan harmoni dan saling menghormati satu dengan lainnya.

Hubungan itu jangan dirusak oleh penyataan yang hanya berpijak pada halusinasi yang tak mendasar. Padahal, sejatinya dalam kasus Rizieq, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi aktif melakukan pemantauan dan pendampingan atas peristiwa itu.

“Langkah Menlu dan Dubes Indonesia untuk Arab Saudi dalam kasus ini sudah tepat. Pemerintah telah melindungi warga negara Indonesia, termasuk Rizieq Syihab,” ujar anggota Komisi I DPR itu.

Dikatakan, peristiwa yang dialami Rizieq itu terjadi di Mekah, Arab Saudi, bukan di Tanah Air. Untuk itu, sebaiknya kasus itu diserahkan sepenuhnya kepada otoritas keamanan di Arab Saudi.

“Pemerintah Arab Saudi memiliki kedaulatan yang mandiri untuk menuntaskan masalah tersebut. Semakin kita berspekulasi dan berhalusinasi, justru semakin membuka ruang penghinaan kepada kedaulatan Arab Saudi,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE