Ini Penjelasan Kiai Ma'ruf soal "Buta" dan "Budek"

Ini Penjelasan Kiai Ma'ruf soal
Maruf Amin saat memberikan kuliah umum Pemimpin Indonesia, RSiS-NTU(S.Rajaratnam School of International Studies-Nanyang Technological University), Singapura, Rabu (17/10) ( Foto: beritasatu / istimewa )
Markus Junianto Sihaloho / FMB Sabtu, 10 November 2018 | 19:58 WIB

Jakarta - Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin, menjelaskan pernyataannya yang menyebut bahwa yang tak bisa mengakui kinerja Presiden Joko Widodo sebagai 'orang buta' dan 'orang budek'. 

Kata Abah Kiai Ma'ruf, sapaan akrabnya, pernyataan itu dibuatnya ketika menceritakan betapa jelasnya capaian pemerintahan Jokowi. Secara fisik, semua pembangunan yang dilakukan oleh Jokowi sangat jelas terlihat. Misalnya jalan-jalan baru, infrastruktur seperti bandara baru, yang membuat arus orang dan barang menjadi lebih cepat.

Begitupun di bidang pendidikan, Pemerintahan Jokowi mengeluarkan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Di bidang kesehatan, pemerintahan Jokowi mengeluarkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diperoleh oleh puluhan juta warga.

"Itu sudah jelas bisa dilihat dan didengar. Jadi kalau ada yang menafikan, tak mau melihat kenyataan itu, tak mau mendengar kenyataan itu, kan jadinya seperti orang buta, kayak orang bidek, yang tak mau melihat kenyataan, mendengar informasi soal prestasi itu," beber Kiai Ma'ruf.

"Katanya dengan itu Anda marah-marah?" tanya wartawan.

"Saya tidak marah, dan bukan sedang menuduh siapa-siapa. Saya cuma bilang, kalau ada yang yang menafikan kenyataan, yang tak mendengar dan melihat prestasi, nah sepertinya orang itu yang dalam Alquran disebut ṣummum, bukmun, 'umyun. Budek, bisu, dan tuli," jawab Abah Ma'ruf.

"Siapa yang anda maksud seperti itu?" tanya wartawan lagi.

"Saya tak menuduh siapapun," jawab Kiai Ma'ruf.

Bila ada yang menuduh seorang ulama tak pantas menyatakan demikian, Kiai Ma'ruf menyatakan bahwa semua yang dia katakan sudah ada di dalam Alquran. Yang dimaksudnya adalah 'ṣummum, bukmun, 'umyun', yang tertera di surat QS al-Baqarah (2):18.

"Artinya orang yang tak mendengar, orang yang tak mau melihat, yang tak mau mengungkapkan kebenaran itu namanya bisu, budek, buta," kata Kiai Ma'ruf.

"Jadi itu bahasa 'kalau' ya. Saya tak menuduh orang, atau siapa-siapa. Saya heran, kenapa jadi ada yang tersinggung. Tak tak menuduh dia kok," lanjutnya.

"Kecuali kalau saya menuduh, kamu itu (pelakunya), nah baru itu (masalah). Jadi tak ada yang salah dengan kalimat itu," ujarnya sambil tersenyum.

Lebih jauh, Kiai Ma'ruf juga menjawab ketika ada yang menuduhnya telah menyindir orang yang secara fisik adalah buta maupun budek.

"Tak ada konteks buta (fisik). Saya cuma bilang, yang tak mengakui itu kayak orang buta karena tak mau melihat. Kayak orang budek karena tak mau mendengar. Kayak orang bisu yang tak mau ungkapkan kebenaran. Itu saja sebenarnya. Kalimat itu juga biasa bunyi di Alquran. Lihat saja di Alquran kalau tak percaya," beber Kiai Ma'ruf.

Sebelumnya, dalam peresmian rumah relawan Barisan Nusantara (Barnus), di Jalan Cempaka Putih Timur, Nomor 8, Jakarta Pusat, Sabtu (10/10), Kiai Ma'ruf menyebut Jokowi telah berhasil membuat daerah makin maju. Sehingga hanya orang yang 'budek dan buta' yang tak menyadari prestasi itu.

"Orang yang sehat bisa lihat kelas prestasi yang ditorehkan, kecuali orang budek dan buta yang tak bisa melihat dan mendengar realitas kenyataan," kata Kiai Ma'ruf.

Pernyataan Kiai Ma'ruf itu lalu langsung diserang oleh Tim Sukses Prabowo-Sandi, yang menuding Ma'ruf telah marah-marah dan menunjukkan dirinya bukanlah ulama besar.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE