Pramono Anung
Kuatnya motivasi politik dan ekonomi mengindikasi pemahaman akan potensi lembaga legislatif sebagai institusi sentral yang melahirkan sejumlah kebijakan

Motivasi utama mayoritas orang untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR adalah kekuasaan politik dan kepentingan ekonomi. Motivasi kepentingan ekonomi disebabkan karena biaya kampanye yang tinggi untuk merebut satu kursi anggota DPR. Apalagi pasca-putusan sistem proporsional terbuka oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Dengan sistem proporsional yang liberal itu, biaya politik meningkat menjadi luar biasa.

Hal itu dikemukakan Wakil Ketua DPR Pramono Anung dalam sidang terbuka dan pengukuhannya sebagai doktor komunikasi politik, di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/1).

“Kuatnya motivasi politik dan ekonomi mengindikasi pemahaman akan potensi lembaga legislatif sebagai institusi sentral yang melahirkan sejumlah kebijakan yang berpotensi untuk dapat diarahkan secara politik dan ekonomi yang dapat menguntungkan pribadi, kelompok atau golongannya. Ini membahayakan demokrasi,” kata Pramono.

Pramono akhirnya dinyatakan lulus dengan predikat Cum Laude. Dia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Komunikasi Politik dan Pemaknaan Anggota Legislatif Terhadap Konstituen Studi Interpretif Pemilu 2009”. Tampak hadir puluhan tokoh nasional, antara lain Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Dewan DPR Marzuki Alie, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Hadi Purnomo, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, Ketua Umum Nasional Demokrat Surya Paloh dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tanjdung.

Menurut Pramono, pemilu legislatif berdasarkan suara terbanyak atau proporsional terbuka tersebut ditandai dengan adanya hambatan pendanaan yang belakangan dijadikan sebagai pendukung utama kampanye politik. Kuatnya faktor pendanaan yang rata-rata berkisar dari Rp200 juta hingga Rp6 miliar per orang untuk menjadi seorang anggota DPR, telah menyebabkan tergesernya aktivis partai oleh kalangan pengusaha yang punya pendanaan kuat.

Dia menambahkan, perubahan sistem keterwakilan itu membuat politik kemasan yang bertumpu pada pencitraan menjadi sangat menonjol. Pencitraan tersebut sangat terlihat dari maraknya penggunaan media massa nasional maupun lokal.

Karena itulah, dia menyampaikan solusi atas permasalahan yang diangkat. Mantan Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengusulkan jalan tengah yakni penggabungan sistem pemilu proporsional terbuka dan tertutup. Pasalnya, sejumlah negara demokrasi juga sudah mengadopsi sistem gabungan tersebut. Sistem yang menurutnya berlaku di Jerman itu jauh lebih baik.

Sebab, 50 persen anggota dewan nantinya akan dipilih rakyat secara langsung. Sedangkan, sisanya ditunjuk langsung oleh partai. Dengan cara seperti itu, partai akan mendelegasikan kader-kader politik terbaiknya untuk duduk di parlemen. “Saya menawarkan sistem proporsional gabungan, menggabungkan antara sistem terbuka dan tertutup. Dengan sistem ini, partai punya kesempatan untuk mengajukan orang-orang terbaik. Setengah oleh (pemilihan) langsung, setengah partai,” paparnya.

Pramono sempat terharu dan menitikkan air mata saat mengetahui dirinya berhasil meraih gelar doktor. Dia lantas mengungkapkan, ada dua sosok perempuan yang sangat menjadi energi dan spirit dalam hidupnya hingga bisa meraih gelar doktor. Dua perempuan itu adalah ibu kandungnya,Sumarni, 77, dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

”Apresiasi secara khusus untuk Presiden kelima (sempat berhenti sejenak karena menahan air mata) yang selalu saya panggil Mbak Mega serta Ketua MPR Mas Taufiq (Kiemas) yang selama ini menjadi inspirasi dan guru politik praktis dan selalu saya bertanya. Beliaulah yang membuat saya terus semangat. Orang tua (kembali terhenti karena menahan suara terisak), almarhum bapak, dan ibu saya Ibu Sumarni yang datangkan sumber energi,” ungkap Pramono.

Usai pengukuhan, Megawati menyampaikan rasa bangganya atas prestasi akademik salah satu kader terbaiknya. ”Saya sangat bangga,apa yang diberikan Pram (Pramono Anung) dalam penelitiannya sangat berbobot dan itu adalah empirik yang terjadi dalam proses komunikasi politik,terutama dalam pemilu di Indonesia,” katanya.

Pramono berharap gelar doktor yang dicapainya bisa menjadi contoh bagi politisi lainnya. “Semoga gelar doktor mampu memberikan contoh bahwa politisi tidak hanya bisa ribut tapi bisa kuliah dengan baik, tepat waktu dan tanpa minta diberikan kemudahan maupun keringanan,” harapnya.



Penulis: /FEB