Penerapan Konsep Pedestrian yang Aman dan Nyaman

Penerapan Konsep Pedestrian yang Aman dan Nyaman
Pedestrian Tugu Malang ( Foto: Istimewa/PR )
Feriawan Hidayat / FER Sabtu, 2 April 2016 | 16:31 WIB

Jakarta - Masyarakat yang tinggal di sejumlah negara maju, terbiasa beraktivitas dengan menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki hingga beberapa ratus meter. Hal tersebut, sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah di negara-negara maju membuat pedestrian yang nyaman bagi masyarakatnya untuk beraktifitas sehari-hari.

Hal tersebut berbanding terbalik 360 derajat dengan kondisi yang ada di Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya di Indonesia. Untuk menempuh radius 300-500 meter hingga 1 kilometer (jarak yang dianggap memungkinkan bagi seseorang cukup berjalan kaki) seringkali dilakukan dengan menggunakan kendaraan.

Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia? Coba perhatikan, seberapa banyak teman atau kenalan yang memilih berjalan kaki saat ini?

Pedestrian Jalan Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan

GTS Manager Granito, Kuntjoro Tjahjosarwono, mengatakan, alasan utama sebenarnya bukan hanya karena malas berjalan kaki, melainkan tidak ada tempat untuk berjalan kaki. Area pedestrian yang bisa memberikan rasa nyaman sekaligus aman bagi pejalan kaki, kian hari terasa terbatas sekali.

"Pedestrian atau biasa disebut trotoar, harusnya bisa menjadi fasilitas yang bersahabat bagi pejalan kaki. Yang terjadi kini, area tersebut sering kali terokupansi oleh kendaraan bermotor, pedagang kaki lima, bahkan beralih fungsi menjadi lahan parkir. Belum lagi kondisi pedestrian yang tidak terawat dan sulit untuk dilintasi," ujar Kuntjoro, di Jakarta, Sabtu (2/4).

Pedestrian sendiri, lanjut dia, pada dasarnya memiliki karakteristik berbeda, tergantung lokasi di mana pedestrian tersebut berada. "Pedestrian di lingkungan pusat perbelanjaan pada umumnya dituntut lebih lebar dibandingkan di area perkantoran dan kawasan perumahan," paparnya.

Secara sederhana, kata dia, trotoar diharapkan bisa mengakomodasi perjalanan secara dua arah, yang masing-masing jalur bisa digunakan untuk minimal dua orang yang berjalan bersisian. Agar memperoleh rasa nyaman, lebar pedestrian setidaknya berukuran sekitar 2,5 meter.

"Selain urusan lebar jalan, elemen penting lainnya adalah keleluasaan dalam berjalan, memperhatikan unsur kebersihan dan keindahan, serta menggunakan bahan permukaan dan tekstur jalan yang sesuai," jelasnya.

Menurut Kuntjoro, tekstur permukaan jalan untuk area pejalan kaki ini cukup beragam, tergantung material yang digunakan, seperti batu bata, batu beton, batu granit atau paving block. Karena pedestrian merupakan fasilitas umum, material yang dipilih sebaiknya yang mudah dipasang, tahan lama, dan mudah pemeliharaannya.

"Penggunaan batu granit tentu memberikan nilai ekstra, khususnya dalam membangun suasana nyaman, serta memberikan keindahan," tambahnya.

Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE