Ketum REI: Pengembang Siap Pacu Pasokan Rumah

Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata. (Imam Mudzakir/Investor Daily)

Oleh: Feriawan Hidayat / FER | Jumat, 14 Juli 2017 | 21:16 WIB

Balikpapan - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Realestat Indonesia (DPP REI), Soelaeman Soemawinata, mengatakan, pihaknya menyambut gembira dan siap mendukung penuh komitmen Presiden Jokowi dalam pembangunan rumah rakyat bagi MBR. Apalagi, REI sudah mengikrarkan diri sebagai Garda Terdepan Membangun Rumah Rakyat.

"Kami senang sekali Bapak Presiden Jokowi berkenan meninjau lokasi proyek rumah subsidi yang dibangun anggota REI yakni PT Karya Pama Marga Abadi di Balikpapan," kata pria yang akrab dipanggil Eman ini, Jumat (14/7).

Sekarang ini, lanjut dia, REI memang fokus membangun rumah MBR. Menurut Eman, pihaknya mempunyai target membangun 200.000 unit rumah rakyat di tahun ini.

"Sehingga, kunjungan ini diharapkan memacu pengembang di daerah lain untuk memasok lebih banyak rumah rakyat," tambahnya.

Menurut Eman, semangat pengembang daerah cukup tinggi membangun rumah subsidi. Untuk Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) saja, tahun ini target akan dibangun 8.000 hingga 10.000 unit rumah, dan hingga Juni 2017 sudah terealisasi separuhnya.

"REI akan terus membangun rumah rakyat guna membantu pemerintah menyediakan rumah layak dan terjangkau. Namun, pengembang juga mengharapkan program mulia ini juga didukung penuh stakeholder lainnya," kata dia.

Ketika REI ingin berlari kencang, kata Eman, harus akui justru dukungan dari sejumlah stakeholder belum maksimal. Dia merujuk pada perizinan, sertifikasi tanah yang lama atau pasokan listrik di sejumlah daerah yang masih jadi kendala.

"Pengembang kan sudah selesaikan proyeknya sesuai spek yang ditentukan. Jadi ini perlu didukung oleh stakeholder yang lain misalnya perbankan, pemda, PLN, PDAM dan BPN. Karenanya, REI berharap semua stakeholder bisa optimal mendukung program sejuta rumah," papar Eman.

Menurut dia, penyediaan listrik dan air bersih merupakan salah satu syarat untuk akad kredit. Kalau semangat tidak sama, kemudian pasokan listrik atau air lama, maka akad kredit tertunda dan yang menderita adalah pengembang, karena menanggung bunga kredit konstruksi (modal kerja) yang tinggi. Padahal, membangun rumah subsidi margin-nya cukup kecil yakni dibawah 10 persen.

"Kalau enggak bisa jualan dan harus bayar bunga pinjaman modal kerja terus, nanti boro-boro untung malah tumbang," pungkasnya.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT