Teknologi Kayu Didorong Masuk Lanskap Kebijakan Perumahan

Ilustrasi. (JG Photo/ Yudhi Sukma Wijaya)

Oleh: Whisnu Bagus Prasetyo / WBP | Kamis, 12 Oktober 2017 | 10:40 WIB

Jakarta - Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, sudah saatnya teknologi kayu mendapat tempat dalam lanskap kebijakan perumahan. Teknologi kayu olahan sistem knockdown dengan teknologi tahan rayap dan ramah lingkungan dinilai bisa menjadi solusi mendorong percepatan akses rumah.

"Ketika mengaplikasikan model kayu dengan teknologi seperti itu, yang harus diperhatikan adalah jenis kayu yang akan digunakan, proses pembuatannya, sehingga bahan bisa lebih lebih awet dan tahan lama, idealnya bisa mencapai 20 tahun," ujar Nirwono, saat dihubungi media, Kamis (12/10).

Menurut Nirwono, menggunakan kayu dari sisi harga bisa lebih murah atau terjangkau. Memang jika menggunakan kayu konvensional tanpa lapisan teknologi harus dipilih kayu yang punya kekuatan tahan lama, tidak mudah lapuk. "Tidak semua jenis kayu bisa diterapkan atau digunakan, kayu seperti apa paling ideal, tentu yang awet, tidak mudah lapuk. Kayu itu ada di sekitar kita, bahan lokal, di setiap daerah berbeda-beda," ucap arsitek senior ini.

Ia memastikan, dari sisi biaya, untuk rancang bangun rumah dengan material kayu lebih murah. Tetapi, syaratnya antara lain konsep desain rumah knockdown dirancang dengan baik, mudah penerapan-pemasangan-perawatan. Sehingga, kalau ada yang rusak atau lapuk penggantiannya juga mudah, tidak harus bongkar rumah. "Selain itu bahan tahan lama minimal tahan hingga 20 tahun," kata dia.

Sayangnya hingga saat ini, meski kayu punya potensi dikembangkan sebagai bahan utama membangun rumah, pemerintah masih setengah hati. "Peran pemerintah dalam regulasi perumahan belum memadai. Perlu ada regulasi terhadap penggunaan bahan lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, seperti kayu, bambu, rotan, dan lain-lain," ujar Nirwono.

Salah satu perusahaan yang memiliki teknologi untuk meminimalkan backlog dan mendorong akses terhadap rumah yakni Songgoritty. Perusahaan ini menghadirkan teknologi tahan gempa, anti rayap, dan mudah dirakit. Songgority memiliki keahlian di bidang manufaktur dan pembelian rumah untuk pasar flooring di Amerika Utara. Produk OEM di Brazil, Tiongkok, Indonesia, India dan Malaysia.

Teknologi Songgoritty diyakini mampu berkontribusi untuk memastikan keberlanjutan dari sektor perumahan. Untuk itu, pemerintah perlu mendukung Songgority menyeting pabrik pembuat material bangunan tahan api pertama di dunia, termasuk material bangunan seperti, strand boards, chip boards, particleboards dan insulation boards.

Materi kayu tahan api dapat digunakan untuk pembangunan perumahan dengan budget menengah maupun rendah dan risiko kecil. Selain itu, murah dan cepat dan bisa dibangun dengan sistem berbasis modern. Rumah yang dibuat dengan bahan dasar kayu akan lebih murah dari rumah dengan bahan dasar bata dengan ukuran yang sama.

Agar teknologi kayu seperti dimiliki Songgority bisa diaplikasikan, pemerintah harus memperbaiki kebijakan land bank alias penyediaan tanah. Dengan begitu, teknologi itu bisa langsung diaplikasikan tanpa terbebani dengan persoalan ketersediaan tanah yang notabene disiapkan pemerintah. "Kebijakan land bank, ini seperti jalan di tempat ya, mayoritas dikuasai swasta, perlu terobosan mendorong penyediaan anggaran dalam APBD untuk pembelian lahan terutama di pusat kota dan lokasi strategis. Pemda juga bisa mendata ulang aset-aset lahan milik pemerintah dan melakukan penertiban lahan milik negara sebagai land banking," tegas Nirwono.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT