Pasar Apartemen Masih Didominasi Investor

Pekerja menyelesaikan pembangunan apartemen Bellevue Place disela-sela pelaksanaan topping off apartemen tersebut di Jakarta, Sabtu (25/11/2017). Proyek ini dikembangkan di area seluas 4.200 m2 dengan 21 lantai yang merangkum 315 unit, dengan rincian 220 unit hunian dan 95 unit service apartment. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Oleh: Laila Ramdhini / EDO | Jumat, 12 Januari 2018 | 21:20 WIB

 

Jakarta - Pasar hunian vertikal di Jakarta masih didominasi pembeli dari kalangan investor sejak 2013 hingga 2017. Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, hal ini terlihat dari transakis yang dilakukan oleh konsumen. Selama empat tahun ke belakang metode pembayaran tunai bertahap (cash installment) menjadi pilihan utama para konsumen apartemen tersebut.

“Berbeda dengan pembelian landed house (rumah tapak) yang didominasi kredit pemilikan rumah (KPR). Transaksi apartemen lebih banyak dengan tunai keras dan bertahap. Ini juga karena pengembang memberikan penawaran yang menarik seperti cash installment selama 100 bulan,” kata Ferry di Jakarta, belum lama ini.

Ferry mengungkapkan, metode pembayaran kredit pemilikan apartemen (KPA) belum diminati di kalangan konsumen hunian vertikal dengan alasan masih tingginya bunga kredit perbankan. Selain itu, adanya peraturan bunga progresif untuk kepemilikan rumah kedua, ketiga, dan seterusnya sangat memberatkan konsumen khususnya para investor.

Terlepas dari itu, Ferry melihat adanya pergeseran preferensi konsumen dalam membeli apartemen mulai akhir 2017. Jumlah konsumen yang melakukan pembayaran tunai bertahap mulai berkurang dan beralih ke KPA.

Dari data Colliers, pada 2013, pembeli yang membayar secara tunai bertahap mencapai 63 persen, KPA 16 persen, dan tunai keras 21 persen. Sedangkan pada 2017, komposisi tunai bertahap turun menjadi 50 persen, KPA naik menjadi 32 persen, dan tunai keras 18 persen.

"Hal ini disebabkan aturan aturan pelonggaran loan toa value, ada yang 15 persen turun ke 10 persen. Bahkan ada golongan tertentu yang bisa 5 persen," sebut Ferry.

Ferry mengatakan, para pemangku kebijakan harus segera meninjau kembali kedua kebijakan yang bisa merangsang aktivitas pasar hunian yakni pelonggaran loan to value (LTV) dan penurunan suku bunga kredit. Hal ini juga, kata Ferry, untuk mendorong end user atau first home buyer memilik hunian di kota besar. Menurut Ferry, suku bunga menjadi faktor penentu bagi konsumen untuk membeli properti saat ini.

“Kendala bagi first home buyer yakni interest rate,” kata dia.

Ferry mengungkapkan, pada 2017 memang sudah terlihat adanya upaya penurunan suku bunga dari pemerintah dan perbankan. Namun demikian, hal ini belum efektif diterapkan di seluruh bank. Di beberapa bank, seperti BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, dan OCBC NISP, bunga kredit berkisar mulai dari 10-12,5 persen.

Ferry menilai, jika bunga tersebut bisa turun kembali, maka pertumbuhan kepemilikan hunian melalui KPA akan meningkat. "Sekarang ini trennya konsumen mulai membeli apartemen lewat KPA terutama yang kelas menengah bawah dan first home buyer," ujarnya.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT