BTN Bidik 6,7 Juta Peserta Taspen

BTN Bidik 6,7 Juta Peserta Taspen
Maryono. ( Foto: Antara )
/ FER Senin, 12 Februari 2018 | 21:04 WIB

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk bersama PT Taspen (Persero) siap bersinergi menyediakan hunian bagi sekitar 6,7 juta peserta Taspen yang terdiri atas pensiunan dan aparatur sipil negara (ASN) aktif melalui program kredit pemilikan rumah (KPR).

"Penyediaan layanan KPR kepada peserta Taspen di seluruh Indonesia, bagian dari upaya strategis meningkatkan pertumbuhan penyaluran kredit BTN kepada masyarakat," kata Direktur Utama Bank BTN Maryono, di Jakarta, Senin (12/2).

Menurut Maryono, Bank BTN dalam perjanjian kerja sama itu, menyediakan fasilitas pembiayaan hunian rumah ataupun apartemen yang dibangun oleh pengembang anggota REI.

Sementara Taspen memberikan informasi dan data peserta yang membutuhkan dan berminat memiliki rumah, mengkoordinasikan dengan Pemerintah Pusat dan Pemda serta instansi terkait di seluruh Indonesia untuk sosialisasi dan pemasaran program KPR tersebut.

Saat ini jumlah peserta Taspen mencapai lebih dari 6,7 juta orang, dimana sebanyak 4,2 juta merupakan peserta ASN aktif, dan sekitar 2,5 juta pensiunan.

"Peserta Taspen dapat menikmati fasilitas pembiayaan KPR BTN dengan suku bunga kredit terjangkau, diantaranya 8 persen fixed selama 3 tahun dan suku bunga 9 persen berlaku fixed selama 5 tahun," ujar Maryono.

Kerja sama dengan Taspen diharapkan membuka peluang yang lebih luas untuk produk dan layanan perbankan seperti deposito, cash management, payroll dan meningkatkan pendapatan pendapatan non bunga (fee based income). "Kami menargetkan kerja sama ini bisa meningkatkan pertumbuhan pembiayaan kredit BTN pada 2018 hingga sekitar 30 persen," ujarnya.

Sementara itu, Dirut Taspen Iqbal Latanro mengatakan peserta Taspen yang masih aktif, yang memasuki masa pensiun dan yang telah pensiun dimudahkan mencari hunian yang lebih layak dan dapat mencicil hunian hingga di masa pensiun. "Perjanjian ini merupakan langkah Taspen mendukung percepatan perkembangan ekonomi nasional," ujar Iqbal.



Sumber: ANTARA
CLOSE