Ilustrasi proyek properti andalan Lippo Karawaci
Saham-saham sektor properti (konstruksi, properti, dan real estat) diperkirakan tetap kinclong setidaknya hingga tahun depan, karena valuasinya masih rendah

Saham-saham sektor properti menjadi jawara indeks sektoral secara year to date, dengan membukukan capital gain 31,42%.

Saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), misalnya, membukukan capital gain 106,7% dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) 48,5%.

Saham-saham sektor properti (konstruksi, properti, dan real estat) diperkirakan tetap kinclong setidaknya hingga tahun depan, karena valuasinya masih rendah.

Price to earning ratio (PER) saham sektor ini masih 17,44 kali, paling rendah setelah sektor keuangan (12,63 kali) dan per tambangan (17,06 kali). PER juga lebih rendah dari PER indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (19,07 kali).

Sedangkan harga saham LPCK melonjak dari Rp 1.790 per 30 Desember 2011 menjadi Rp 3.700 pada 21 September lalu. Untuk harga saham LPKR naik dari Rp 660 menjadi Rp 980.

Head of Research KSK Financial Group David Cornelis menandaskan, tren kenaikan saham properti secara konsisten sejak awal bulan ini bakal bertahan setidaknya hingga tahun depan.

"Up trend (tren kenaikan) didorong ekspektasi yang bagus terhadap kinerja keuangan emiten di sektor ini," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia menjelaskan, gain yang dicetak saham sektor properti sejak awal tahun ini hingga akhir pekan lalu lebih tinggi dari sembilan sektor yang lain.

Kinerja indeks tersebut juga jauh lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan indeks LQ-45 masing-masing 11,06% dan 8,44%.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dari 45 saham emiten properti, tujuh di antaranya mendulang gain di atas 100% dan hanya tujuh saham yang terkoreksi.

Sejumlah analis saham yang lain juga yakin, hingga tahun depan, saham-saham sektor properti masih solid dan berada dalam up trend.

Mereka adalah analis Morgan Stanley Sean Gardiner dan Victor G Murthi, analis Bahana Securities Natalia Sutanto, analis Danareksa Anindya Saraswati, serta Kepala Riset PT Universal Broker Satrio Utomo.

Mereka merekomendasikan sejumlah saham properti untuk dikoleksi, yakni LPKR, PT Alam Sutera Tbk (ASRI), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Metropolitan Land (MTLA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA).

David menjelaskan, saham properti sempat sideways pada Juni-Agustus 2012 karena imbas kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan batas minium down payment (uang muka/DP) kredit pemilikan rumah (KPR) dari 20% menjadi 30%.

"Namun setelah laporan keuangan kuartal I dan II yang lalu positif, pasar kembali memiliki ekspektasi bagus terhadap kinerja saham properti, baik untuk kuartal III dan IV tahun ini maupun tahun depan," papar dia.

Secara umum, menurut David, kondisi keuangan emiten properti masih solid. Emiten-emiten ini juga masih berekspansi secara kontinu, sehingga sustainable profitability (keuntungan berkelanjutan) lebih terjamin. "Aliran dana kasnya juga bagus," ujar dia.

Ia menambahkan, kebangkitan sektor properti di Tanah Air didukung kuatnya penjualan dan pertumbuhan keuntungan. Saham sektor properti saat ini memiliki rata-rata price to book value (PBV) 2,4 kali, PER 17 kali, return on equity (RoE) 16,5%, dan dividend yield sekitar 1,5%.

Anindya Saraswati juga merekomendasikan saham LPKR. Peluncuran apartemen baru dan rumah sakit (RS) akan melambungkan harga LPKR ke level Rp 1.010.

"Selain meluncurkan menara II dan III di Kemang Village, Lippo Karawaci siap meluncurkan apar temen lain pada semester II ini," tutur dia.

Anindya menjelaskan, bisnis kesehatan terus tumbuh dan semakin memperkuat kinerja keuangan Lippo Karawaci. Emiten tersebut telah mengoperasikan 10 RS dan segera menyusul dibuka tiga RS baru di Bali, Palembang, dan Jakarta Selatan.

"Bisnis kesehatan dapat memberikan kontribusi 32% terhadap total pendapatan Lippo Karawaci tahun ini,” ujar dia.

Sedangkan Sean Gardiner dan Victor Murthi mengunggulkan empat emiten properti, yakni LPKR, ASRI, SMRA, dan BSDE.

LPKR direkomendasikan karena emiten itu sedang mengembangkan bisnis RS yang akan menawarkan pertumbuhan struktural yang mengesankan, dengan kenaikan pendapatan 40-60% pada 2012-2013.

"Jika tahun ini pendapatan diproyeksikan mencapai Rp 5,26 triliun-5,58 triliun, tahun depan nilainya naik menjadi Rp 6,57 triliun-7,37 triliun," ucap Victor Murthi.

Sedangkan Natalia Sutanto menjagokan saham CTRA dengan target harga Rp 950, atau berpotensi naik Rp 280 (41,79%) dari harga penutupan akhir pekan lalu Rp 670.

"Harga CTRA berpeluang terus menguat karena kinerja penjualan proyek-proyeknya sangat bagus," kata dia.

Menurut Natalia, penjualan properti Ciputra Januari-Juli 2012 sama dengan total penjualan tahun 2011, yakni sebesar Rp 3,6 triliun. Dibandingkan penjualan tujuh bulan per tama 2011, penjualan ini naik 102%.

"Kinerja CTRA ditopang penjualan produk di 11 kota pengembangan," kata Natalia dalam risetnya.

Satrio Utomo mengemukakan, kesinambungan kinerja saham sektor properti akan dipengaruhi laporan keuangan kuartal III-2012. Sebagian investor masih bersikap wait and see (menunggu) sampai laporan keuangan kuartal ini dipublikasikan.

"Kalau laporan keuangannya bagus, ke depan harga sahamnya bagus. Tapi kalau jelek, ke depannya juga jelek. Ini terkait dampak kebijakan BI menaikkan minimum DP KPR. Investor akan mengukur sejauh mana dampak kebijakan itu terhadap kinerja emiten," papar pria yang akrab dipanggil Tommy ini.

Menurut Tommy, tak semua saham properti layak dikoleksi. Investor jangka panjang sebaiknya menghindari saham yang PER-nya sudah kelewat tinggi.

"Carilah saham yang PER-nya masih rendah. Kalau mengambil saham yang PER-nya sudah terlalu tinggi, itu namanya spekulasi, kecuali bagi investor trading," tandas dia.

Penulis: /WBP