Hotel Mercure Nusa Dua Bali
Kenaikan TPK yang tertinggi terjadi di Jambi sebesar 11,77 poin, Kalimantan Timur 9,64 poin, dan Kalimantan Barat 7,61 poin

Rata-rata tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang dari 20 provinsi di Indonesia pada September 2012 mencapai 52,96 persen atau naik sebesar 1,21 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sekitar 51,75 persen.

“Data tersebut berasal dari BPS dan Pusdatin Kemenparekraf. Data itu menunjukkan, ada mobilitas wisatawan yang signifikan,” kata Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) M Faried, di Jakarta, Rabu (7/11).

Faried mengungkapkan, kenaikan TPK yang tertinggi terjadi di Jambi sebesar 11,77 poin, Kalimantan Timur 9,64 poin, dan Kalimantan Barat 7,61 poin. Sementara secara kumulatif, rata-rata TPK hotel bintang dari 20 provinsi bulan Januari hingga September 2012 sebesar 52,31 persen atau mengalami kenaikan 0,06 poin dibandingkan Januari hingga September 2011 sebesar 52,25 persen.

Kenaikan TPK tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sebesar 9,65 poin, Jawa Tengah 7,93 poin dan DI Yogyakarta 4,09 poin. Dalam hal ini, Kemenparekraf menggandeng para pemangku kepentingan di sektor pariwisata meliputi airlines, perusahaan biro perjalanan wisata, dan perhotelan.

Mereka bertujuan untuk mengoptimalkan strategi agar mobilitas wisatawan di Indonesia bergerak naik signifikan. “Apalagi tingkat pendapatan masyarakat semakin tinggi sehingga kebutuhan berwisata mereka juga meningkat,” tandas Faried.

Sebelumnya, lembaga riset Knight Frank Indonesia mengungkapkan, tingkat keterisian kamar (okupansi) perhotelan sepanjang semester II-2012 ditaksir bertumbuh sebesar 5-10 persen dengan didorong makin banyaknya kegiatan pertemuan yang diadakan di hotel hingga akhir tahun. Selain itu, liburan akhir tahun dan perayaan tahun baru akan mendongkrak okupansi tersebut.

Senior Research Manager Knight Frank Indonesia Hasan Pamudji berpendapat, lembaga pemerintahan dan perusahaan akan gencar mengadakan pertemuan menjelang akhir tahun. Dengan demikian dari kegiatan meeting incentive conference and exhibition (MICE) dapat meningkatkan okupansi hotel menjadi 80-85 persen dibandingkan hari normal yang berkisar 70-75 persen.

“Okupansi akan naik 5-10 persen atau setidaknya stabil hingga akhir tahun,” ujar Hasan.

Okupansi hotel di wilayah Jakarta yang umumnya lebih banyak menyasar segmen bisnis, sambung dia, diperkirakan tumbuh pada kuartal III-2012. Sementara hotel yang lebih menitikberatkan pada segmen wisata atau leisure, baik di Jakarta maupun kota-kota pariwisata, akan merasakan pertumbuhan terutama di akhir 2012 dan awal tahun depan.

Penulis: /FEB