Inspirasi Lokal, Selera Global Chef Karen Carlotta

Inspirasi Lokal, Selera Global Chef Karen Carlotta
Chef Karen Carlotta tengah menunjukkan kreasi kue Red Velvet, yang cepat melesat menjadi tren dan mempopulerkan namanya. ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 4 Juni 2018 | 10:59 WIB

Jakarta - Siapa sangka Es Teler bisa jadi inspirasi kue cantik? Kreasi trendi ini, tercipta dari hasil 'imajinasi rasa' Chef Karen Carlotta, seorang Chef yang sering dijuluki Queen of Cake. Selain kue Es Teler, dirinya juga telah 'menggubah' kue Pisang Ijo dan kue Martabak. Dengan menggunakan teknik pastry tingkat tinggi, dirinya berhasil menerjemahkan cita rasa kudapan lokal ke dalam selera kue internasional.

Kue-kue cantik ini bisa didapatkan di AMKC Atelier, sebuah restoran dengan menu kreatif di Plaza Indonesia. AMKC merupakan singkatan dari nama Karen dan suami, Adhika Maxi, yang juga seorang Chef. Dibuka sejak 2016 lalu, restoran ini membawa selera baru di bisnis kuliner Jakarta, yang mengolah cita rasa Indonesia menggunakan teknik cooking dan baking ala Eropa.

Bersama suami, Karen yang akrab disapa 'KC' ini, merupakan brainchild di balik suksesnya restoran dan bakery Union, yang kini telah memiliki 4 branch di Jakarta. Di pertengahan 2018 ini, KC mengatakan, Union akan terus dibesarkan.

"Sebagai brand, Union sudah sangat kuat. Saya bersama suami dan partner bisnis kami akan terus membesarkan brand ini, membuatnya menjadi go-public," ujar Chef yang kerap tampil di sejumlah acara televisi ini, kepada Beritasatu.com, Senin (4/6). Melalui Union, karya pertamanya yang paling dikenal adalah kue Red Velvet, yang cepat melesat menjadi tren dan mempopulerkan nama Union.

Di balik pencapaiannya sekarang, KC mengakui sempat melewati masa 'salah arah'. Selulus kuliah di Fakultas Ekonomi sebuah universitas swasta di Jakarta, dirinya pernah bekerja di sebuah bank dan benar-benar tidak bisa menghayati apa yang dia kerjakan di sana. Suatu hari, KC mengalami tekanan pikiran yang cukup berat, yang membuatnya keluar dari bank tersebut. Dari sana, orang tuanya mulai memberi kepercayaan pada apa yang dia benar-benar suka, membuat kue.

Setelah tidak bekerja di bank, di tahun 2005 KC memilih kuliah di Singapore Hotel and Tourism Education Center (SHATEC). Dia mengambil diploma Pastry & Baking yang menjadi kecintaannya sejak kecil. Di sini, KC tidak merasakan kuliahnya sebagai sebuah proses belajar yang susah, jauh berbeda dibanding masa kuliah sebelumnya di jurusan Ekonomi.

"Semua terasa seperti mudah sekali buat saya, karena memang passion saya di sana," ujar KC yang berhasil lulus dengan predikat Cum Laude.

Di tahun 2009, karena suatu alasan personal, KC memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dia kemudian berkenalan dengan seorang Chef muda jebolan French Culinary Institute, New York, Amerika Serikat (AS), yang kini menjadi suaminya.

Bersama suaminya, KC mendirikan AMKC pertama kali bukan sebagai restoran, tapi sebagai layanan private dining yang melayani kalangan atas, di antaranya pernah menangani acara fine dining untuk Barrack Obama. Dari sana, kariernya terus berkembang bersama suami dan Union.

Di tengah pencapaiannya sekarang, KC mengakui lebih suka untuk tetap berada di-spot kesukaannya, dapur. "Dapur adalah dunia saya. Ketika berada di dapur, saya bisa seperti 'hilang'. Mungkin seperti mabuk-mabukan buat orang yang suka pesta, seperti lupa diri, bahkan sampai lupa makan," ujar KC yang mengaku bisa membayangkan rasa kue sebelum menciptakannya.

"Saya bisa membayangkan rasa sebuah kue sebelum kue itu diciptakan. Dari imajinasi saya itu, saya bisa menentukan bahan-bahan yang akan saya gunakan. Ini seperti pekerjaan seni buat saya. Kombinasi antara imajinasi dan presisi yang tinggi dalam penggunaan bahan-bahan. Orang melihat kue saya simple. Tapi percaya deh, itu semua memerlukan proses yang tidak simple dan kompleks," tutup KC.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE