Dr. Elvina Karyadi (Tengah) beserta Arif Mujahidin dari Sarihusada dan Prof. Lydia Freyani Hawadi Dirjen PAUDNI.

Jakarta – Permasalah gizi akan selalu menjadi topik yang tidak ada habisnya untuk dibahas. Masih banyaknya masyarakat yang tergolong miskin membuat asupan gizi bayi dan balita tidak tercukupi dengan baik. Menurut Dr Elvina Karyadi, ahli gizi dan Direktur Micronutrient Initiative Indonesia, saat ini Indonesia termasuk 15 negara terbesar yang bayi dan balitanya mengalami stanting atau pendek.

“Sesuai dengan data dari Riskesdas 2007-2010 bahwa sepertiga anak balita di Indonesia tidak mengalami pertumbuhan yang maksimal atau pendek. Itu tandanya sekitar lima juta anak,” ujarnya pada acara Nutritalk yang dipersembahkan oleh Sarihusada di Restoran Kembang Goela, Jakarta, Selasa (21/5).

Dia menambahkan bahwa angka itu sangat memprihatinkan.

“Yang lebih memprihatinkan lagi saat kita meriset penyebab kekurangan gizi pada balita bukan hanya faktor ekonomi, tapi juga kurangnya pengetahuan orangtua terhadap gizi,” lanjutnya.

Elvina menjabarkan bahwa masyarakat sering menyepelekan asupan gizi mikro yang terdiri dari mineral, vitamin, yodium dan lain sebagainya.

“Gizi mikro adalah gizi yang memang diperlukan dalam jumlah yang tidak terlalu besar, namun akan berdampak fatal bila kita abaikan,” tambahnya.

Contoh yang dia berikan adalah kekurangan yodium yang angkanya masih relatif tinggi di Indonesia. Dampak dari kekurangan yodium adalah Cretinisme, kerusakan sebagian otak dan kurang energi karena hypothyroid.

“Kita sering mengecek beberapa produk garam beryodium yang ada di pasaran, hasilnya banyak dari produk tersebut tidak mengandung yodium. Padahal memasukan yodium ke garam atau biasa disebut fortifikasi pangan adalah cara paling mudah dan murah untuk menghasilkan pangan yang berkualitas. Namun, banyak produsen yang masih tidak peduli,” ujarnya.

Lebih lanjut lagi dia juga mengatakan bahwa permasalahan gizi yang dialami balita bukan hanya kekurangan, tetapi juga kelebihan. Permasalah-permasalahan gizi di Indonesia tersebut adalah kurang energi protein (kurus dan pendek), kurang vitamin A, Anemia, kurang yodium dan yang terakhir adalah gizi lebih atau overweight.

“Pravelensi kelebihan gizi di usia kurang dari 15 tahun meningkat pada tahun 2007. Sehingga, selain pendek kita juga sedang menghadapi obesitas,” ujar Elvina.

Salah satu hal yang diduga penyebab permasalahan gizi di Indonesia adalah menurunnya pemberian ASI eksklusif dari sekitar 60 persen menjadi 40 persen menurut hasil riset DHS 2002 – 2007.

Penulis: Kharina Triananda