Fluoride salah satunya terkandung pada pasta gigi

Jakarta - Masalah kebersihan gigi dan mulut kerap dianggap sepele. Padahal hal ini memiliki peran yang sangat penting, tidak saja untuk kesehatan tapi juga estetika. Karenanya, kebiasaan baik yakni merawat gigi harus ditanamkan sejak dini agar terbawa hingga dewasa nanti.

Penyanyi Tasya Kamila mengaku merasakan benar manfaat dari kebiasaannya menjaga kebersihan gigi dan mulut.

"Sejak kecil saya sudah membiasakan menggosok gigi dengan baik dan benar. Untuk perawatan gigi pun setiap 6 bulan sekali pergi ke dokter gigi. Baik itu ketika ada keluhan maupun  tidak. Hingga usia saya 20 tahun, saya belum pernah merasakan sakit gigi dan tidak ada satupun gigi saya yang berlubang," tutur penyanyi yang terkenal dengan lagu Anak Gembala ini, pada kegiatan pembentukan kader kesehatan gigi di TK Pertiwi Kuningan, Kamis (21/2).

Tasya yang juga duta dari produk pasta gigi ini mengaku dengan menjaga gigi sejak dini memberikan hal positif bagi kesehatan gigi dan mulut.

"Saya jadi lebih percaya diri dengan gigi yang bersih dan sehat, apalagi pekerjaan saya mengharuskan berhubungan dengan banyak orang,” katanya.

Menurut Professional Relationship Manager Oral Care PT Unilever Indonesia Tbk Drg Ratu Mirah Afifah GCClindent MDSc, upaya untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut yang paling mendasar memang adalah menyikat gigi dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat. Menggosok atau menyikat gigi usahakan dilakukan dua kali sehari yakni setelah sarapan atau makan pagi dan malam sebelum tidur.

Dia mengatakan, cara yang benar adalah dalam menyikat gigi harus bersih dari sisa-sisa makanan. Dan untuk mengetahui kondisi gigi dan agar tetap terawat dengan baik periksakan dokter gigi minimal enam bulan sekali.

“Faktanya, kesadaran masyarakat Indonesia untuk berobat ke dokter gigi masih rendah. Mereka baru akan mendatangi dokter gigi bila sudah merasakan giginya sakit atau ada kelainan lain yang membuat tidak nyaman. Padahal perawatan gigi itu perlu minimal enam bulan sekali,” tuturnya.

Tingkat pendidikan juga menjadi faktor rendahnya untuk pergi ke dokter gigi. Mereka akan ke dokter kalau sudah mengeluh sakit, padahal ke dokter gigi bukan hanya mengobati tapi juga perawatan.

Data  dari Dinas Kesehatan Jawa Barat, sebanyak 90 persen gigi anak-anak di bawah usia 5-10 mengalami kerusakan. Kerusakan yang dialami adalah  mulai dari kerusakan ringan hingga berat.

Ketua Program Studi D3 Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Bandung Drg Dewi Sodja Laela M.Kes mengaku, jumlah anak SD di wilayah Jabar yang memerlukan perawatan gigi mencapai 10 ribu anak, namun hanya 10 persen yang bisa ditangani. Hal tersebut disebabkan kurangnya jumlah tenaga dan fasilitas kesehatan gigi.

Di Kuningan sendiri dari 37 puskesmas  yang ada baru 13 puskesmas yang baru melaksanakan pelayanan medik gigi, pelayanannya pun tidak semua dilakukan oleh dokter gigi. Ini tentu harus menjadi perhatian.

Namun, kata dia, upaya pencegahan lebih baik dan lebih mudah daripada mengobati. Pencegahan penyakit gigi dan mulut sangat mudah, dengan menyikat gigi minimal 2 kali diwaktu yang tepat, pagi sesudah sarapan dan malam sebelum tidur, terbukti mengurangi resiko terjadinya gigi berlubang sebanyak 50%.

Penulis: Euis Rita Hartati/FER

Sumber: Investor Daily