Taman Nasional Bantimurung Ditargetkan Jadi Ekowisata Karst Dunia

Taman Nasional Bantimurung Ditargetkan Jadi Ekowisata Karst Dunia
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ( Foto: Suara Pembaruan/Ari Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Sabtu, 30 April 2016 | 23:56 WIB

Makassar - Pemerintah menargetkan Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan menjadi destinasi ekowisata karst dunia.

Hal ini cukup beralasan karena, TN yang ditempuh sekitar 1 jam dari Makassar ini menyimpan kekayaan kanekaragaman hayati berupa karst dan kupu-kupu yang menjadi ikonnya. Selain unik, karst TN Bantimurung juga dikenal terindah di dunia setelah kawasan karst di Tiongkok Selatan.

Di Indonesia, bentang alam karst mencapai 154.000 kilometer persegi atau 0,08 persen dari luas daratan Indonesia. Sedangkan kawasan karst TN Bantimurung seluas 43.750 hektare menjadi bagian kawasan karst Maros Pangkep. Kawasan ini terkenal di dunia internasional dengan keanekaragaman hayati di dunia untuk kawasan tropika.

Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Sahdin Zunaidi, mengatakan, selain potensi karst, TN Bantimurung Bulusaraung juga memiliki flora fauna endemik. Di samping itu juga terdapat objek unik, gua alam yang memiliki cerita historis.

"Di taman nasional ini kita lakukan pemanfaatan jasa lingkungan dan memperhatikan keanekaragaman hayati," katanya di sela-sela kunjungan jurnalistik di TN Bantimurung Bulusaraung, di Maros, Sabtu (30/4).

Taman Nasional Bantimurung

TN yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No SK.398/Menhut-II/2004 ini saat ini memiliki koleksi 247 jenis kupu-kupu. Selain itu memiliki 730 jenis fauna dan 52 jenis di antaranya dilindungi undang-undang dan 364 jenis endemik Sulawesi.

Tak hanya itu TN Bantimurung Bulusaraung memiliki 709 jenis flora, di antaranya 43 jenis Ficus yang merupakan spesies kunci, 6 jenis dilindungi dan 116 jenis anggrek alam.

Terkait potensi lainnya, TN Bantimurung Bulusaraung memiliki 216 gua alam dan 41 gua prasejarah. Di antara jumlah itu, terdapat 14 gua vertikal kedalaman lebih dari 100 meter. Misalnya Leang Pute dengan pitch tunggal sedalam 263 meter, gua Salukang-Kallang memiliki panjang 12.463 meter dan mempunyai jumlah spesies terbanyak di kawasan tropis di dunia.

Bahkan TN Bantimurung Bulusaraung pernah meraih rekor Museum Rekor Indonesia untuk gua terpanjang dan terdalam di Indonesia. "Di gua-gua prasejarah itu menandakan adanya kehidupan di masa lalu berupa cap tangan dan sampah dapur berupa kerang," ucapnya.

Kunjungan wisatawan pun cukup signifikan, dalam kurun waktu 2011-2015 rata-rata kunjungan 439.716 per tahun dengan nilai penerimaan sekitar Rp 2,5 miliar per tahun. Untuk itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendorong program Ayo ke Taman Nasional sebagai destinasi wisata. "Karst punya kekhasan dan tidak boleh diganggu karena menyimpan air," ujarnya.

Bahkan cadangan karbon dari vegetasi yang ada mencapai 74,29-244,82 ton per hektare. Pengelola TN ini pun terus menjaga karena di bagian karst lain ada yang sudah diekplorasi untuk kebutuhan pabrik semen. Di samping itu terus melakukan penyadaran ke masyarakat agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Sumber: Suara Pembaruan