Pacu Konsumsi, LIPI Bangun Unit Pengolahan Susu

Pacu Konsumsi, LIPI Bangun Unit Pengolahan Susu
LIPI membangun program Meat-Milk Project yakni unit pengolahan susu. Program ini merupakan project hulu hingga hilir yang diintegrasikan dengan program biovillage LIPI di kawasan Cibinong Science Center- Botanic Garden, Bogor. ( Foto: Suara Pembaruan/Ari Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Senin, 29 Agustus 2016 | 15:08 WIB

Bogor - Angka konsumsi susu di Indonesia jauh tertinggal dibanding negara tetangga. Selain itu, produksi susu di Indonesia hanya mencukupi 30 persen kebutuhan dalam negeri, sementara sisanya sekitar 70 persen dipenuhi dari impor.

Untuk mendorong peningkatan produksi dan konsumsi, LIPI membangun program Meat-Milk Project yakni unit pengolahan susu. Program ini merupakan project hulu hingga hilir yang diintegrasikan dengan program biovillage LIPI di kawasan Cibinong Science Center- Botanic Garden, Bogor.

Wakil Kepala LIPI, Akmadi Abbas, mengatakan, unit pengolahan susu tidak hanya sebagai tempat produksi susu tetapi juga dilengkapi laboratorium quality control dan pendidikan.

"Indonesia masih sedikit konsumsi susu dibanding negara-negara tetangga lainnya. Unit pengolahan susu diharapkan meningkatkan riset dan pasokan susu nasional," katanya di acara Launching Unit Pengolahan Susu dan Open House Biovillage, di Bogor, Senin (29/8).

Terkait konsumsi susu per kapita, di tahun 2015 Indonesia hanya mengkonsumsi 2,1 liter per kapita per tahun. Jauh dari konsumsi Malaysia 36,2 liter per tahun, India 48,62 liter per tahun dan Singapura 44,5 liter per tahun.

Dalam unit pengolahan susu dan distribusinya, LIPI mengandeng PT INDI. Bersamaan dengan itu, syarat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan juga sedang diurus. "Untuk target pemasaran inginnya nasional, tapi kita akan coba dulu di sekitar Bogor," ujarnya.

Kepala Laboratorium Reproduksi Pemuliaan dan Kultur Sel Hewan LIPI, Syahruddin Said, mengungkapkan, unit pengolahan susu LIPI memiliki kapasitas maksimal 20 ton per harinya. Meskipun mesin produksi dibuat Spanyol, produk hasil risetnya murni milik LIPI.

"Andalannya susu yang diproduksi 100 persen susu segar. Yugort yang dihasilkan pun ada beberapa rasa dan rasa manisnya dari buah serta tidak ada gula," ucapnya.

Susu yang diproduksi pun bisa digunakan untuk susu fungsional, misalnya susu untuk penderita diabetes. Namun kendalanya susu segar dengan kualitas baik dan rasa berbeda ini belum tentu laku di pasar, sehingga masyarakat perlu diedukasi.

Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Boediyana, mengatakan, susu merupakan kebutuhan penting untuk dikonsumsi anak agar menghasilkan generasi mendatang yang berkualitas.

"Milk goes to school langkah bagus. Banyak yang sadar gizi tapi tidak mampu gizi. Pemerintah perlu turun tangan supaya anak-anak dari kalangan bawah bisa minum susu," tandasnya.

Teguh mencontohkan, di Iran pemerintah sengaja menganggarkan dalam satu minggu 12 juta murid sekolah dapat minum susu. Di Thailand 8 juta anak per hari minum susu, anggaran yang digelontorkan pemerintah mencapai US$ 500 juta untuk program ini. Vietnam juga serius menyiapkan generasi muda masa depan yang tangguh di era liberalisasi dengan program serupa.

"Kita sudah 20 tahun lalu kita push tapi belum peduli pemerintahnya. LIPI berupaya melakukannya dari sisi penelitiannya. Gerakan minum susu untuk anak sekolah perlu kita dorong. Pemerintah harus keluarkan biaya, terutama bagi anak-anak miskin," paparnya.





Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE