LIPI Tawarkan Teknologi Atasi Krisis Air

Embung atau cekungan penampung air hujan di Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. (psda.jatengprov.go.id)

Oleh: Ari Supriyanti Rikin / FER | Kamis, 23 Maret 2017 | 15:39 WIB

Jakarta - Penerapan teknologi dapat mengatasi permasalahan krisis air yang masih dialami sebagian penduduk Indonesia. Oleh karena itu dalam 10 tahun terakhir Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) konsisten meneliti dan mengimplementasikan teknologi hasil risetnya yang dapat mengatasi krisis air.

Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto, mengatakan, di Jawa misalnya terjadi krisis air. Namun, di daerah lain ada yang kelebihan air. Krisis air yang terjadi di Indonesia terjadi karena air tidak dikelola dengan baik.

"Air hujan di Jakarta misalnya, dibiarkan mengalir begitu saja tanpa ditampung. Saat musim kemarau malah kekurangan air," kata Anto dalam Diskusi Publik Hari Air Sedunia 2017 bertema One Island, One Plan, One Water di Jakarta, Rabu (23/3).

Konsep one island, one plan, one water ini, tambah Anto, merupakan konsep dimana satu pulau memiliki satu perencanaan mulai dari sumber air, bagaimana menjaganya, memastikan ketersediaannya, mengolah dan mendistribusikannya dengan tepat mengacu aspek ekohidrologi.

Untuk penerapan teknologi, kata Anto, saat ini LIPI sudah melakukan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bangka Barat.

"Permasalahan yang terjadi di sana adalah banyak air di lokasi bekas tambang," jelasnya.

Selanjutnya, LIPI melakukan pengelolaan air bekas tambang sebagai sumber air bersih bagi masyarakat. LIPI menerapkan teknologi online monitoring kualitas dan kuantitas air.

"Dilakukan pula pengolahan air bekas tambang menjadi air bersih/minum dengan metode Advanced Oxidation Processes dan Electromagnet Water Treatment," papar dia.

Teknologi wetland, kata Anto, juga dilakukan untuk pengendalian dan pengolahan air bekas tambang untuk pemanfaatan air pertanian. Sistem pengendalian dan distribusi air memanfaatkan teknologi online monitoring.

"Tidak semua teknologi tinggi yang ditawarkan LIPI, tetapi juga teknologi sederhana yang mengandung kearifan lokal," ujarnya.

Pengambilan air tanah yang tinggi di perkotaan seperti Jakarta, akan membuat penurunan permukaan tanah. Oleh sebab itu, kata Anto, perlu dibuat sumur injeksi atau sumur resapan dengan pemanenan air hujan.

"Pembuatan embung tertutup juga bisa dilakukan bagi daerah sulit air. Badan kanan kiri embung dilapisi dan ditutup agar air hujan tidak menguap," tambahnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT