Alasan Ponsel Baru Lebih Cepat Dipasarkan di Indonesia

Alasan Ponsel Baru Lebih Cepat Dipasarkan di Indonesia
Ilustrasi Ponsel Pintar ( Foto: Istimewa )
Herman / FER Rabu, 14 Maret 2018 | 20:46 WIB

Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sejak tahun 2017 telah melakukan penyederhanaan proses penerbitan sertifikasi perangkat telekomunikasi di Indonesia, sehingga waktu untuk mendapatkan sertifikasi menjadi lebih cepat.

Seperti diketahui, sebelum bisa dipasarkan di Indonesia, ponsel harus lebih dulu memperoleh sertifikasi lolos uji dari Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Telematika (Ditjen SDPPI) Kemkominfo. Penerbitan sertifikasi ini sebelumnya bisa memakan waktu hingga dua bulan. Namun, dengan penyederhanaan proses yang dilakukan, penerbitan sertifikasi kini hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja.

"Dulu itu kan untuk mendapatkan sertifikasi, prosesnya untuk ponsel yang diimpor bisa sampai dua bulan. Kalau setiap enam bulan sekali ada model baru, berarti kita rugi sepertiga waktu terhadap perkembangan teknologi. Namun, dengan penyederhanaan proses ini, dalam waktu dua hari sudah bisa keluar dan bisa lebih cepat dipasarkan," kata Menkominfo Rudiantara, di acara Indonesia LTE Conference 2018 yang digelar Indonesia LTE Community, di Jakarta, Rabu (14/3).

Untuk ponsel merek global, lanjut Rudiantara, pabrikan yang sudah kuat dan memiliki lab pengujian yang terpercaya kini tidak perlu mengajukan uji lab lagi di Indonesia dalam proses penerbitan sertifikasi perangkat ponsel. Apalagi, laboratorium yang mereka miliki juga lebih canggih. Mereka cukup memberikan test report (hasil uji perangkat), yang nantinya akan dicek kesesuaiannya dengan persyaratan teknis yang telah ditetapkan.

"Untuk produk yang diimpor, kita juga minta surat pernyataan bahwa produknya telah memenuhi standar internasional. Kalau nantinya ditemukan ada barang yang tidak sesuai, mereka bersedia untuk dikenakan penalti. Dengan begitu, barangnya bisa cepat masuk dan dipasarkan di sini," papar menteri yang akrab disapa Chief RA tersebut.

Untuk ponsel yang diproduksi di dalam negeri, Rudiantara mengatakan proses sertifikasi bisa dilakukan berbarengan dengan proses produksi. Dengan penyederhanaan ini, proses-proses yang tidak perlu bisa dihilangkan, sehingga produk baru menjadi lebih cepat beredar di pasar.

"Selama proses produksi, sertifikasinya sudah harus ada. Kalau perlu orang Kemkominfo yang datang ke pabrik, bukan orang pabrik yang datang ke Kemkominfo. Sebab kita harus membangun percepatan, memotong proses yang tidak perlu. Jadi produknya bisa lebih cepat dipasarkan," tutur Rudiantara.



Sumber: BeritaSatu.com