Indeks Kembali Tembus 6.500

IHSG Masih Kondusif, Aksi IPO Saham Prospektif

IHSG Masih Kondusif, Aksi IPO Saham Prospektif
Ilustrasi IHSG. ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
Devie Kania / WBP Senin, 12 Maret 2018 | 22:41 WIB

Jakarta– Praktisi pasar modal menilai koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan lalu dalam batas wajar, karena indeks kembali mencapai 6.500, dan diprediksi masih kondusif. Oleh karena itu, aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham korporasi tetap prospektif.

Analis PT Recapital Asset Management Kiswoyo Adi Joe menyatakan, pada pekan lalu koreksi IHSG masih dalam area wajar. Bahkan, kini indeks mulai kembali menguat, dan mencapai level psikologis 6.500. Dengan pencapaian tersebut, IHSG berpeluang kembali menanjak lebih tinggi.

Berdasarkan data penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) 12 Maret 2018, IHSG menguat 67,36 poin (1,05 persen) hingga mencapai level 6.500,69. “Rencana Federal Reserve (The Fed) menaikan suku bunga acuan menjadi sentimen bagi IHSG. Namun kondisi bursa kita masih kondusif,” ujar Kiswoyo kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (12/3).

Namun ia mengakui, secara historis indeks biasa terkoreksi pada Mei atau Juni. Berpatokan dengan data historis, ia menyarankan, perusahaan yang ingin IPO sebaiknya dapat merealisasikannya selama 1-1,5 bulan ke depan. “Jika perusahaan melakukan bookbuilding, atau mini ekspose ke BEI, sebaiknya kejar IPO sebelum Mei mendatang. Sedangkan jika belum, perusahaan dapat memperhatikan koreksi IHSG pada Mei-Juni 2018, untuk memproyeksi kondisi pasar pada semester II,” jelas dia.

Andaikan pada Mei-Juni 2018 koreksi sudah berlangsung, Kiswoyo yakin, prospek IPO saham akan baik pada semester II-2018. Namun ia mengakui, investor mungkin akan memperhatikan implementasi 171 pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada Juni mendatang. “Mengenai IPO, korporasi lebih baik melaksanakannya saat pasar bullish. Hanya soal perolehan dana, itu kembali terhadap minat investor kepada perusahaan tersebut,” tegas Kiswoyo.

Analis PT Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama menilai, fundamental emiten di BEI, maupun makro ekonomi masih kondusif. Sehingga meski indeks terkoreksi seperti pekan lalu, aksi IPO saham masif prospektif.

Dia memprediksi, support terendah IHSG berada dalam level 6.293. Sedangkan IHSG berpeluang mencapai level resistance tertinggi 7.033 pada 2018. Untuk itu, Nafan menilai, IHSG yang sempat mencapai level 6.368,26 pada pada pekan lalu, masih dalam area wajar. “Investor dapat memanfaatkan momentum koreksi untuk mengakumulasi saham, sehingga peluang IPO masih prospektif hingga saat ini,” tegas Nafan kepada Investor Daily.

Seiring banyak perusahaan yang berniat IPO, Nafan berharap, hal tersebut dapat menarik minat investor asing. Adapun keputusan IPO, menjadi penanda bahwa korporasi optimistis dengan kestabilan kondisi makro ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap,pemerintah dapat menjaga kondisi tetap kondusif, sehingga pelaku pasar nyaman berinvestasi,” ungkap dia.

Terkait IPO, BEI telah meraih tambahan dua emiten baru sejak 1 Januari-12 Maret 2018. Emiten itu terdiri dari PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM), dan PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS). Selanjutnya, sejumlah korporasi yang sudah melakukan bookbuilding untuk IPO, antara lain PT Sky Energy Indonesia, PT Jaya Trishindo, PT Artajasa Pembayaran Elektronik, dan PT Tridomain Performance Material.

Sebelumnya Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat memprediksi, minimal akan ada 10-12 perusahaan yang IPO dan sudah mencatatkan (listing) saham pada semester I-2018. Adapun ia menyatakan, PT BTPN Syariah termasuk dari korporasi yang berencana melakukan IPO saham pada semester I-2018.

Berdasarkan catatanm anak usaha dari badan usaha milik negara (BUMN) yang pernah menyampaikan rencana IPO, meliputi PT Wika Realty, PT Adhi Persada Gedung, PT PP Energi, PT PP Urban, PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT), dan PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP). Kemudian, PT Krakatau Tirta Industri (KIT), PT Krakatau Bandar Samudra (KBS), PT KHI Pipe Industries, PT Tugu Pratama Indonesia, dan PT BRI Syariah.



Sumber: Investor Daily