Wiranto: Tiap Hari 30 Orang Meninggal Akibat Narkoba

Wiranto: Tiap Hari 30 Orang Meninggal Akibat Narkoba
Menteri Koordinator Politik, Hukum, Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto saat menghadiri peringatan Hari Anti Narkoba (HANI) di Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido Bogor, Cigombong, Kabupaten Bogor, Kamis, 12 Juli 2018. ( Foto: Beritasatu Photo/Vento Saudale )
Vento Saudale / FER Kamis, 12 Juli 2018 | 22:51 WIB

Bogor - Menteri Koordinator Politik, Hukum, Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto menyatakan, Indonesia masuk kategori darurat narkoba. Pasalnya, sekitar 30 orang usia produktif di Indonesia meninggal dunia akibat penyalahgunaan narkoba.

"Setiap hari 30 usia produktif meninggal akibat narkoba. Kalau sebulan 900 orang, berarti setara dengan tiga pesawat Boeing 737 itu jatuh. Semuanya meninggal. Ini besar sekali," ujar Wiranto saat menghadiri peringatan Hari Anti Narkoba (HANI) di Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido Bogor, Cigombong, Kabupaten Bogor, Kamis (12/7).

Menurut Wiranto, masalah narkoba dinilai sebagai ancaman yang serius dan harus dihadapi secara serius pula. Cara hukum dan kesehatan dinilai harus ditingkatkan untuk mengurangi jumlah pengguna narkoba ini. Selain itu, aparat keamanan bertugas secara hukum untuk menangkap dan mengamankan para pengedar dan pemakai narkoba. Sementara dari aspek kesehatan, rehabilitas sangat membantu untuk memutus rantai kecanduan terhadap barang haram tersebut.

"Tadi saya menyerukan kepada BNN untuk jangan lelah dan terus berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan," ujarnya.

Wiranto juga mengatakan perang modern saat ini salah satu jenisnha dengan menggunakan narkoba. Narkoba bisa digunakan untuk melumpuhkan suatu kekuatan bangsa. Perang modern yang disebut dengan proxy war ini dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga.

"Lebih murah, tidak terlihat. Tapi korbannya cukup banyak. Perang narkoba sudah di depan mata. Tiap saat penangkapan hitungannya sudah tonan, bukan gram. Berapa juta orang teler karena itu," tambah Wiranto.

Pengukapan Kasus Meningkat

Kepala BNN, Heru Winarko menyatakan, dari data hasil survei pihaknya bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) pada 2017 menunjukkan, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba mencapai angka 3.376.115 orang. Atau sebesar 1,77 persen dari total penduduk Indonesia di usia produktif 10 hingga 59 tahun.

"Melalui kebijakan dan kegiatan itu survei prevalensi tahun 2014 menurun yaitu dari 2,12 persen menjadi 1,77 persen pada tahun 2017," kata Kepala BNN Heru Winarko.

Jumlah tersangka yang ditangkap oleh Polri dan BNN pada tahun 2017 sebanyak 64.526 orang. Sedangkan tahun 2016 sebanyak 61.748 orang. Jumlah barang bukti yang disita juga meningkat bila dibandingkan sitaan 2017 dengan 2018 periode Januari-Juni.

Selama tahun 2017 barang yang disita 1,144 ton shabu, 858.6 kg ganja, dan 218.212 butir pil ekstasi. Sedangkan 2018 ini barang bukti yang disita 1,3 ton shabu, 31 kg ganja, dan 217.526 butir pil ekstasi. "Jumlah pengungkapan kasus meningkat, tapi jumlah penggunaannya menurun," kata Heru.

Guna menekan jumlah penyalahgunaan narkoba yang sangat besar, BNN pun telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan dan melaksanakan berbagai kegiatan. Kegiatan yang dilakukan antara lain Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika (P4N) dan alih fungsi lahan tanam. Untuk alih fungsi lahan tanam sendiri sudah dilakukan di daerah Aceh, di lahan yang dilunya digunakan untuk menanam ganja.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE