Lukisan Klasik Bali Jadi Benda Cagar Budaya

Lukisan Klasik Bali Jadi Benda Cagar Budaya
Lukisan salah satu karya Nyoman Gunarsa. ( Foto: ANTARA )
Nurlis E Meuko / NEF Rabu, 14 Februari 2018 | 16:31 WIB

Semarapura -  Sebanyak 13 lukisan klasik Bali koleksi Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya peringkat kabupaten oleh pemerintah Kabupaten Klungkung, Bali.

"Karya kanvas itu sebagian besar merupakan lukisan yang telah berumur lebih dari satu abad, bahkan ada sejumlah lukisan telah dibuat pada 16 atau 17 abad yang lalu," kata Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta, sebagaimana dikutip antaranews.com, Rabu (14/2).

Ia mengatakan hal itu pada acara syukuran atas penetapan sejumlah lukisan menjadi benda cagar budaya yang dihadiri berbagai elemen masyarakat dan penanggungjawab Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa.

Sebanyak 64 lukisan koleksi Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa telah didaftarkan menjadi benda cagar budaya. Namun baru 13 lukisan yang selesai diproses pada 2017, sisanya sebanyak 51 lukisan akan diupayakan prosesnya pada 2018.

Selain lukisan yang terdapat ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya juga terdapat wayang kulit kuno, ukiran dan patung kuno.

Suwirta mengatakan, penetapan karya seni menjadi Benda Cagar Budaya merupakan cita-cita mendiang almarhum Gunarsa ketika masih hidup yang disampaikan langsung di hadapan dia dan Presiden Joko Widodo.

Nyoman Gunarsa yang meninggal di usia 73 tahun di Takmung, Angkan Klungkung, pada Minggu 10 September 2017. Semasa hidupnya, ia adalah dosen Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta.

Gunarsa melegenda karena lukisannya. Ia pernah pameran tunggal di berbagai daerah di Indonesia, juga Australia, Belanda, Jepang, dan Singapura. Bahkan Perancis, Monako dan Amerika Serikat pun kagum pada lukisannya.

Presiden Jokowi juga dibuatnya terkesima dengan karyanya berupa sang presiden sedang meminum jamu. Foto lukisan itu dibawa Gunarsa saat diundang Jokowi dan Iriana ke Istana Kepresidenan, April 2017.

Saat itulah ia mengundang balik Jokowi ke museumnya. Jokowi membalas kunjungannya pada Agustus 2017. Di museum Gunarsa yang luas, Jokowi kembali dibuat berdecak kagum. “Kok Pak Nyoman tahu saya suka minum jamu,” kata Jokowi kepada Gunarsa sebagaimana dikutip CNN.

Museum itu sendiri, yang dinamai Museum Seni Lukis Kontemporer Indonesia Nyoman Gunarsa, didirikan sekitar tahun 1990. Di dalam museum tak hanya berisi lukisan, juga ada keris keris dan benda-benda lain yang punya nilai seni serta sejarah.

Bukan hanya sekali Gunarsa melukis Jokowi. Lukisan terakhirnya sebelum menutup mata pun tentang Jokowi. Judulnya Alahkah Indahnya Indonesia jika Semua Presiden Bersatu.

Lukisan itu ada di rumahnya di Klungkung, digambar di atas kanvas 4x9 meter. Memang tak hanya memajang Jokowi yang memainkan wayang kulit selayaknya dalang. Dalam lukisan itu ada pula Megawati, Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan BJ Habibie dan Soeharto.

Melukis sejak 1970-an, Gunarsa berubah gaya menjadi ekspresionis sejak 1980-an. Laman CNN menuliskan, Gunarsa melukis seperti bermusik. “Saya menggambar garis seperti menyanyi dan menempati warna seperti menari,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE