National Geographic Akui Pernah Bersikap Rasis

National Geographic Akui Pernah Bersikap Rasis
Salah satu foto terbitan National Geographic. ( Foto: National Geographic )
Heru Andriyanto / HA Rabu, 14 Maret 2018 | 04:30 WIB

Majalah fotografi dan alam National Geographic mengaku bahwa dalam sejarahnya pernah bersikap rasis dalam liputan tentang warga kulit hitam dan etnis minoritas di Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Selain itu majalah tersebut dulu juga sering menampilkan karikatur “noble savage”, kaum primitif yang belum tersentuh peradaban.

Investigasi internal yang dilakukan tahun lalu mendapati bahwa sampai era 1970an, National Geographic mengabaikan kehadiran etnis minoritas Amerika yang bukan buruh atau pembantu rumah tangga, dan menggambarkan orang-orang non-kulit putih di seluruh dunia sebagai orang yang "eksotis, kerap tak berbaju, pemburu yang gembira, primitif -- semua tipe yang klise", bunyi laporan tersebut.

Edisi yang akan terbit April nanti didedikasikan tentang ras, dan bertepatan dengan peringatan ke-50 tahun pembunuhan pejuang hak-hak kulit hitam Martin Luther King Jr. Pemimpin Redaksi Susan Goldberg mengatakan acara peringatan itu merupakan "momen berharga untuk menengok ke belakang, meninjau ulang pandangan kami tentang ras”.

"Saya tahu ketika kami menengok ke belakang, akan ada sejumlah kisah yang jelas tidak mau kami garap hari ini, tidak akan pernah kami garap, dan juga tidak membuat kami bangga. Namun bagi saya, jika kami ingin bicara mengenai ras secara kredibel, sebaiknya kami mengingat bagaimana dulu cara kami bicara tentang ras," kata Goldberg.

Dalam edisi khusus itu, National Geographic juga menerbitkan kembali sejumlah contoh liputan yang dinilai rasis. Sebuah artikel tentang Australia yang terbit pada 1916 mencantumkan foto dua orang suku asli Australia dengan keterangan: “Blackfellows dari Australia Selatan: Para kaum primitif ini berada di ranking terendah soal intelijensia semua manusia."

Blackfellow adalah sebutan jaman dulu untuk suku Aborijin namun istilah tersebut sekarang dianggap melecehkan dan tidak dipakai lagi.

Artikel-artikel lain tentang Pacific Islanders atau para penghuni kepulauan Pasifik sejak 1962 menunjukkan sejumlah foto orang yang terheran-heran dengan teknologi, dan banyak foto para wanita pulau Pasifik.

Peninjauan atas arsip-arsip internal National Geographic ini sebagian dilakukan oleh John Edwin Mason, sejarawan bidang fotografi di University of Virginia dengan spesialisasi sejarah Afrika. Nyaris tidak ditemukan fakta bahwa majalah itu berani melawan stereotype rasis pada abad 19 dan abad 20.

“Warga Amerika memahami dunia lewat film-film Tarzan dan karikatur kasar tentang ras,” ujarnya kepada National Geographic.

National Geographic lahir di puncak era kolonialisme, dan dunia sedang terbagi antara penjajah dan jajahan."

Peninjauan internal ini dilakukan ketika organisasi-organisasi media lainnya juga meninjau kembali riwayat liputan mereka tentang ras.

Belum lama ini The New York Times mengaku bahwa sebagian besar obituari atau kisah orang yang telah meninggal mengulas tentang para pria kulit putih, dan mulai menerbitkan obituari tentang wanita-wanita terkenal dalam kolom berjudul “Overlooked”, yang punya makna "Terlewatkan".

“Orang-orang kulit berwarna sering hanya berpakaian minim, orang-orang kulit berwarna umumnya tidak tinggal di kota-kota, orang-orang kulit berwana tidak sering mendapati teknologi kendaraan, pesawat, kereta api, atau pabrik," kata Mason.

“Orang-orang kulit berwarna kerap digambarkan hidup seperti nenek moyang mereka ratusan tahun silam, dan itu sangat kontras dengan warga Barat yang selalu berpakaian lengkap dan membawa teknologi."

Edisi khusus National Geographic April 2018 membahas soal ras.
Halaman sampul bertuliskan: "Hitam dan Putih: Saudara kembar ini membuat kami
memikirkan ulang semua yang kami tahu tentang ras." (The Guardian)



Sumber: The Guardian