Jalak Bali Meningkahi Pesona Ujung Barat Pulau Dewata

Jalak Bali Meningkahi Pesona Ujung Barat Pulau Dewata
Jalak bali di Taman Nasional Bali Barat. ( Foto: BeritaSatu.com / Mahmur Marganti )
Mahmur Marganti / NEF Selasa, 17 April 2018 | 10:35 WIB

Kicau burung meningkahi angin yang bertiup dalam rerimbunan pepohonan area Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Pulau Bali. Siulannya begitu indah, berima yang berasal dari paruh burung yang dikenal dengan sebutan jalak bali.

Ya, sesuai namanya burung ini hanya ada di Bali, tepatnya di hutan bagian barat Pulau Bali. Jalak bali juga satu-satunya spesies endemik Bali. Tak heran jika burung ini menjadi lambang fauna Pulau Dewata pada 1991.

Bernama latin leucopsar rothschildi, hewan ini adalah sejenis burung pengicau dengan panjang sekitar 25cm, dari suku sturnidae. Penamaan ilmiah ini diambil dari nama pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada 1912.

Jika hendak menelusuri riwayat jalak bali, maka bisa dimulai pada 24 Maret 1911. Tatkala seorang ahli biologi Jerman, Dr Baron Stressman, mendarat di wilayah Singaraja karena kapal Ekspedisi Maluku II yang ditumpanginya mengalami kerusakan. Sehingga ia memutuskan menetap di Bali Barat 3 bulan.

Melalui penelitian yang tak disengaja, Baron Stressman menemukan spesies burung endemik yang langka, yaitu jalak bali di Desa Bubunan, sekitar 50 km dari Singaraja.

Penelitian selanjutnya dilakukan Dr Baron Viktor von Plesen, yang menyimpulkan bahwa penyebaran jalak bali hanya meliputi Desa Bubunan sampai ke Gilimanuk, yaitu seluas kurang lebih 320 km2. Oleh karena populasi jalak bali ketika itu terbilang langka.

Pada 1928 sejumlah 5 ekor jalak bali dibawa ke Inggris dan berhasil dikembangbiakan. Kemudian tahun 1962, Kebun Binatang Sandiego di Amerika Serikat juga dikabarkan telah mengembangbiakkan burung ini. Kini di Indonesia sudah ada sejumlah penangkaran jalak bali.

Selain jalak bali, hewan langka lainnya yang hidup di taman nasional ini adalah harimau bali, burung ibis putih kepala hitam, kijang, rusa, trenggiling, landak, serta kancil.

Untuk melindungi hewan-hewan langka tersebut, Dewan Raja-raja di Bali mengeluarkan SK No. E/I/4/5/47 tanggal 13 Agustus 1947 yang menetapkan kawasan Hutan Banyuwedang dengan luas 19.365,6 hektare sebagai Taman Pelindung Alam yang statusnya sama dengan suaka margasatwa.

Jika hendak melahap habis seluruh area Taman Nasional seluas 15.587,89 daratan dan 3.415 terdiri dari laut ini jelas membutuhkan waktu khusus. Setidaknya akan memakan waktu 5 jam untuk benar-benar menikmati beberapa spot yang dibolehkan untuk pelancong. Sebagian wilayah dilarang masuk sebab menjadi area konservasi demi pelestarian beberapa flora dan fauna.

Taman nasional ini memiliki jenis ekosistem yang unik, yaitu perpaduan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. Di kawasan ini, wisatawan dapat menjelajahi ekosistem daratan (hutan), mulai dari hutan musim, hutan hujan dataran rendah, savana, hingga hutan pantai.

Sementara pada ekosistem perairan (laut), wisatawan dapat menyaksikan hijaunya hutan mangrove, keelokan pantai, ekosistem coral, padang lamun, serta perairan laut dangkal dan dalam.

Wilayah TNBB terbentang di dua kabupaten, yaitu Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, dan Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Taman Nasional Bali Barat bisa dicapai baik dari Kota Denpasar maupun dari Pelabuhan Gilimanuk. Hal ini karena lokasi taman nasional ini dilalui oleh jalan raya Gilimanuk—Negara maupun jalan raya Gilimanuk—Singaraja.

Harga tiket untuk menikmati Taman Nasional Bali Barat adalah Rp 25.000,- per orang untuk wisatawan domestik, dan Rp 50.000,- untuk wisatawan asing. Taman Nasional Bali Barat memiliki berbagai macam akomodasi dan fasilitas, antara lain pemandu wisata, pondok wisata, menara pandang, dan jalan setapak untuk memudahkan penjelajahan.

Berada di hutan dengan pepohonan rindang yang tumbuh diatas sisa 4 buah gunung berapi kuno lengkap dengan suara-suara indah burung berkicau dari balik pepohonan, rasanya tak ingin cepat-cepat meniggalkan kawasan ujung barat Pulau Bali ini.

Anda yang belum sempat singgah, singgahlah, ajak keluarga nikmati keindahan ciptaan Tuhan sembari menambah ilmu pengetahuan.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE