"Ruwah Gumregah", Tradisi Jelang Puasa Warga Langenastran

Sejumlah warga Kampung Wisata Budaya Langenastran, Panembahan, Kraton Yogyakarta, menyelenggarakan acara “Ruwah Gumregah”, Minggu, 13 Mei 2018. Acara tersebut diselenggarakan dalam bentuk lomba membuat apem dan pelatihan membuat batik Shibori untuk warga di wilayah RW 01, RW 02, dan RW 03 Langenastran, Panembahan, Kraton Yogyakarta. ( Foto: Istimewa / Asni Ovier )
Asni Ovier / AO Rabu, 16 Mei 2018 | 00:26 WIB

Yogyakarta - Warga Kampung Wisata Budaya Langenastran, Panembaham Kraton Yogyakarta, menyelenggarakan acara “Ruwah Gumregah”. Acara yang digelar pada Minggu (13/5) itu diselenggarakan dalam bentuk lomba membuat apem dan pelatihan membuat batik Shibori untuk warga di wilayah RW 01, RW 02, dan RW 03 Langenastran.

Tahun ini merupakan penyelenggaraan yang kedua kali. Ketua Paguyuban Kampung Wisata Budaya Langenastran KRT Radyowisroyo Sumaryo mengatakan, acara “Ruwah Gumregah” digelar untuk menyambut bulan Ruwah (Jawa) sebagai waktu untuk menghormati secara khusus kepada arwah leluhur. Acara ini juga bertujuan untuk nguri-uri (melestarikan) kebudayaan Jawa, Yogyakarta khususnya, yang muaranya untuk keakraban antarwarga.

“Salah satu tradisi dan budaya masyarakat Jawa yang dilakukan sebelum bulan puasa (Ramadan) adalah Ruwahan. Kata ruwah konon berasal dari kata arwah atau roh para leluhur dan nenek moyang. Dari kata arwah inilah, bulan tersebut diasosiasikan atau diindentikkan sebagai bulan untuk mengenang para leluhur,” ujar Sumaryo dalam pernyataan yang diterima di Yogyakarta, Selasa (15/5).

“Ruwah” atau “Nyadran” merupakan bulan urutan ke delapan dan berbarengan dengan bulan Syaban tahun Hijriyah. Ruwah atau Nyadran ini biasanya warga berbondong-bondong ke makam leluhur untuk memberikan doa atau umumnya disebut dengan “Nyadran”. Para peziarah biasanya meneruskan besik atau membersihkan makam.

Humas Kampung Budaya Langenastran, Y Sri Susilo menambahkan, makna lain dari “ruwahan”, seperti persiapan untuk puasa Ramadan yang dianggap sebagai jihad melawan hawa nafsu. Selain itu dapat pula dimaknai bahwa sebelum berangkat perang, maka harus membersihkan diri dengan memohon restu dari para pendahulu.

Sementara, tradisi Apeman (membuat apem ditambah kolak dan ketan) mempunyai makna memohon kekuatan kepada Tuhan. Nama Apem dipercaya berasal dari bahasa Arab, yaitu “Afwan”, yang artinya memohon ampunan. Juga bisa berasal dari kata “Afuan”, yang artinya meminta maaf.

“Dengan ini, makna Apem adalah kita diharapkan selalu bisa memberi maaf atau memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Juga bisa dimaknai sebagai pertobatan manusia yang memohon ampun,” ujar Sri.

Nama “kolak” dipercaya berasal dari bahasa Arab, yaitu “Khalaqa”, yang artinya menciptakan. Bisa juga dari kata “Khaliq” yang berarti Sang Pencipta. Dengan kata lain, Kolak merujuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kolak merupakan simbol harapan dari pembuatnya agar selalu ingat kepada Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian nama “Ketan” juga dipercaya berasal dari ”Kemutan” dalam bahasa Jawa yang berarti “teringat”. Hal ini sebagai simbol perenungan dan instropeksi diri atas kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan. Dengan kata lain, sebagai manusia, kita harus selalu ingat atas dosa-dosa dan merenungkannya.

“Ada pula yang memercayai nama ketan diambi dari bahasa Arab, Khatam, yang artinya tamat. Hal ini menyimbolkan umat dari nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang mempercayai nama 'Ketan' dari kata Khotam, juga dari bahasa Arab yang berarti kesalahan,” katanya.

Paguyuban Kampung Wisata Budaya Langenastran didirikan pada 2016 dengan motor penggerak KRT Radyowisroyo Sumartoyo, AM Putut Prabantoro, dan Y Sri Susilo. Tujuan didirikan untuk menggali dan mempromosikanb potensi budaya serta menjadikan aset wisata di sekitar Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Secara rutin, paguyuban menyelenggarakan acara tahunan, misalnya “Festival Batik dan Bathok”, “Ruwah Gumregah”, serta diskusi yang berkaitan dengan budaya dan wisata.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE