Ilustrasi salah satu bar, tempat nongkrong kala malam di Jakarta.
Bak dua mainstream aliran politik, baik penganut mazhab cinta sesaat dan mazhab kekasih gelap juga memiliki filosofi yang berbeda.

Panggil saja Ferry, manajer di sebuah perusahaan bonafid di Jakarta. Saban hari dia pulang pergi ke kantor dengan kendaraan pribadinya. Rumahnya di pinggir Jakarta membuatnya ia menghabiskan hampir 2 jam untuk sampai di kantornya. Demikianlah ia melewati rutinitasnya dari tahun ke tahun. Sampai satu hari ia berkenalan dengan staf dari divisi lain, di perusahaan yang sama. Sebutlah perempuan manis itu dengan nama Desi.
 
Sama sekali tak ada perasaan atau rencana iblis apapun dari perkenalan tersebut. Hingga akhirnya keduanya saling tahu ternyata rumah mereka di daerah yang sama. Cuma beda cluster. Alhasil mereka berdua selalu pulang bareng.

Perawakan Desi memang enak dipandang. Apalagi secara fisik Desi cukup "sehat". Kalau bahasa ngetopnya "masa depan dan latar belakang" cukup berisi. Seperti kata pepatah alah bisa karena biasa. Lama-lama kedua insan berbeda jenis itu pun mulai ada rasa sayang.

Seperti ABG yang baru kenalan, minggu pertama cuma ngobrol-ngobrol dalam perjalanan pulang. Merasa ada harapan membangun relationship, hubungan itupun meningkat mulai pegangan tangan, french kiss, hingga mulai menjurus ke hubungan intim. Mungkin tak terhitung berapa kali mereka check in ke hotel sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Keduanya akhirnya menjadi pasangan seks yang cocok. Ferry dan Desi selalu meluangkan untuk memadu kasih sepulang kantor. Bukan cuma di hotel saja, namun mereka malah memilih yang lebih sensasional dengan sex in the car.

Ferry dan Desi tidak sendiri. Di Jakarta yang serba macet ini, jam pulang kantor selalu dijadikan alasan untuk melambatkan pulang dengan alasan menghindari macet. Nah, justru di sinilah seks selepas kantor dimulai.

Banyak Alternatif
Kehidupan seks after office hours tidak hanya dilatari oleh kemacetan sebagai alasan yang dicari-cari, namun juga berkilah di balik alasan kerja lembur yang memaksa pulang larut malam. Toh tak semua karyawan benar-benar kerja. Sebagian di antaranya memilih melepas nafsu dengan wisata seks.

Ada yang memilih datang ke tempat panti pijat plus-plus. Ada yang ke klub yang penarinya bisa dipakai. Bisa juga ke karaoke yang sekalian ditemani lady escorts. Bahkan ada yang sejak masih bekerja di kantor, pikiran cabul sudah direncanakan dengan menghubungi suplier kenikmatan sesaat. Seperti magnet besar yang menyedot tiap besi logam, tempat hiburan selalu memiliki daya tarik.

Pendek kata, orang Jakarta sepulang kerja ada yang memilih datang ke tempat cinta instan, namun ada pula yang bertemu dengan kekasih gelapnya alias selingkuhan. Term terakhir ini dalam perkembangannya mengalami kemajuan dan banyak istilah: mulai dari selingkuhan, teman tapi mesra (TTM), hubungan tanpa status (HTS) dan lainnya.

Bak dua mainstream aliran politik, baik penganut mazhab cinta sesaat dan mazhab kekasih gelap juga memiliki filosofi yang berbeda. Mazhab pertama lebih suka membeli sate, sementara mazhab kedua rela memelihara kambing dari kecil hingga dibesarkan. Aliran cinta sesaat adalah aliran cinta transaksional. Ada uang, ada kenikmatan. Sementara aliran kedua hubungan tak sekedar di tempat tidur: berbagi suka duka, tangis tawa yang dilengkapi dengan hubungan intim di ranjang.

Perbedaan filosofi ini juga membawa perbedaan medan percabulan mana yang dikunjungi. Aliran cinta transaksional biasanya berkunjung ke sini:

-Panti pijat. Bagai mencari jarum di tumpukan jerami, mungkin kita akan kesulitan mencari panti pijat di Jakarta yang tak memberi layanan service esek-esek. Keberadaan panti pijat itu kian tambah dan bertebaran di tiap ujung kota. Di tiap kawasan bisnis selalu ada fasilitas ini. Di belakang nama brand tempat pijat, kadang diimbuhi satu kalimat yang menunjukkan klub kesehatan, spa, massage dan lainnya. Berderet kata itu malah menjelma menjadi semacam kode bagi para penggunanya.

Dan saat era media online sudah menjadi trend, sudah banyak forum diskusi, bahkan ada beberapa situs yang menampung forum diskusi yang menyediakan thread khusus untuk orang bisa kasih testimoni tentang pemijat di sebuah klub.

-Klub di hotel. Di sini orang-orang sepulang kantor bisa memilih fitness, mandi di whirpool, sauna, pijit, mendengarkan musik dengan DJ yang menghentak, melihat sexy dancer sampai bugil. Yang ogah dengan prosesi itu, kadang langsung memilih perempuan untuk cinta satu malam. Karena di tempat ini juga disediakan hotel yang layaknya hotel menyewakan kamar-kamar. Klub ini mulai buka sejak sore hari hingga dini hari.

Dua venue di atas memang cenderung transaksional secara vulgar, di mana "ada uang, ada teman kencan". Nah, beberapa orang di Jakarta yang lebih condong pada aliran membangun relationship yang baik, paling minim membangun chemistry dalam hubungan, biasanya datang ke sini:

-Klub ajojing. Di klub-klub ini anak muda, orang kantoran, pemburu pasangan cinta satu malam berbaur menjadi satu. Jangan heran acara ladys night yang di banyak klub digelar tiap rabu malam, dipenuhi pengunjung. Begitu pula Jumat malam penuh sesak. Di hari kerja justru lebih crowded dibanding hari libur akhir pekan. Di klub model ini anda tak bisa langsung menunjuk perempuan yang kontes di hadapan Anda, mengajaknya minum lalu berakhir di tempat tidur. Di sini jalannya lebih berliku: membuka meja, memesan minum, menari untuk mencari kenalan, mengajaknya minum bersama di meja yang sudah dibuka, dan bila ada rasa ketertarikan bisa berakhir ke ranjang. Entah malam itu atau di lain hari.

-Hotel transit. Seperti pasangan Ferry dan Desi di atas yang membutuhkan penginapan, hotel transit juga bertebaran di Jakarta dan sekitarnya. Pada hotel yang normal, jam check out biasanya pada pukul 12.00 siang. Namun di hotel-hotel transit ini melayani minimal tiga jam dan enam jam. Di banyak tempat, hotel transit malah sepertinya dibuat untuk ajang kencan. Sebutlah mobil langsung masuk garasi yang langsung terhubung dengan kamar, tak ada lobi hotel karena transaksi langsung bisa diselesaikan dengan petugas yang melayani pembayaran di dalam kamar. Ada juga hotel yang langsung bayar di muka, dengan posisi Anda masih di dalam mobil. Hotel macam ini juga menjadi medan dari penganut aliran cinta transaksional.

Kita memang sedang bicara tentang kehidupan bebas Jakarta yang sepertinya tanpa batasan norma dan kesusilaan. Seks sepulang kantor hanyalah ending dari proses yang mereka jalani di sela-sela kerja. Saat kerja menumpuk dengan segudang target itu, banyak kaum laki-laki dan perempuan di Jakarta yang mencuri kesempatan membangun hubungan di bawah tangan.

Outlet sosial media seperti facebook, twitter dan lainnya makin memudahkan terjadinya rekatnya hubungan. Ditambah social networking macam Y! (Yahoo Messenger), Gtalk dan Blackberry Messenger (BBM) membuat relatonship dengan mudah dapat dipelihara.

Hubungan di bawah tangan semacam ini tidak hanya monopoli kaum adam saja, karena pada buktinya kaum hawa yang menemani. Itu pertanda kaum hawa juga melakukannya. Ada proses resripokal hingga kedua manusia berbeda jenis kelamin itu membangun hubungan yang pasti tak diketahui pasangan resminya.

Seperti kisah Ferry dan Desi di atas, keduanya sudah berkeluarga dan memiliki keturunan. Masing-masing sudah memiliki rumah sendiri-sendiri. Tapi rupanya mereka membangun rumah ketiga. Sebuah rumah semu yang benar-benar absurd, imajinatif dan tidak riil. Sebuah rumah asosial yang tak boleh ada yang tahu. Rumah yang meski semu tetap menghipnotis banyak orang untuk mewujudkannya.

Penulis: