Ananda Sukarlan Ingin Memasyarakatkan Musik Klasik

Komposer musik klasik, Ananda Sukarlan (49). (Suara Pembaruan/Dina Fitri Anisa)

Oleh: Dina Fitri Anisa / FER | Rabu, 8 November 2017 | 17:14 WIB

Jakarta - Hingga saat ini, musik klasik masih saja mendapatkan perlakuan dan pengakuan khusus sebagai musik kaum intelek dan borjuis. Mengakarnya konotasi negatif yang melekat pada musik klasik, membuat salah satu maestro musik klasik dunia, Luciano Pavarotti, ingin mengubah pandangan tersebut. Sayangnya, usaha Pavarotti harus berhenti di 2007, karena meninggal dunia.

Melihat memiliki kesamaan misi dengan sang idola, komposer musik klasik asal Indonesia, Ananda Sukarlan (49) ingin meneruskan misi beliau di Indonesia.

Ananda pun melihat kejadian serupa dengan Eropa di Indonesia, bahwa peminat musik klasik kurang, bukan karena pemikiran musik klasik milik kalangan atas saja, tetapi karena ketidaktahuan masyarakat Indonesia akan musik tersebut.

"Saya kira Pavarotti tidak hanya menginspirasi saya, tetapi kepada seluruh musisi klasik di dunia pengaruhnya besar sekali. Untuk membuktikan bahwa classical music belongs to everybody. Kita lihat di Eropa, musik klasik selalu dianggap boring and dying. Di Indonesia, saya tidak ingin kesalahan iu terjadi. Jadi saya ingin menanamkan pemikiran kepada masyarakat Indonesia bahwa semua musik adalah alat pemersatu," ungkap Ananda, di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (7/11).

Ananda tidak memiliki organisasi atau lembaga khusus untuk menjalankan misinya. Dirinya melakukan pendekatan langsung, melalui media sosial atau acara pertemuan di sekolah musik, dan universitas, untuk menyebarkan informasi tentang musik klasik.

Pria kelahiran Jakarta ini mengaku siap sedia, bila banyak pertanyaan tentang musik klasik yang dilontarkan padanya, meskipun hal itu pertanyaan yang norak.

"Saya juga tidak mau seperti orang-orang Eropa, yang tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan norak. Saya ingin menunjukan, musik klasik itu milik kita semua. Tak ada pembatas antara kita. Walaupun terkadang sulit dimengerti, bukan berarti kita tidak bisa menikmatinya," jelasnya.

Selain kegiatan-kegitan non-official yang dilakukan untuk mempromosikan musik klasik di Indonesia, Ananda mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI) bersama beberapa rekannya.

YMSI bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan musik klasik di Indonesia. Salah satu programnya adalah Children In Harmony (charm) yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak usia muda untuk belajar musik klasik di Jakarta.

Selain Charm, juga ada program Music For Humanity, yaitu program musik klasik melalui konser atau seminar untuk membantu sesama, melalui penggalangan dana ataupun berpartisipasi dalam kegiatan berbagi untuk kemanusiaan dan perdamaian.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT