Dea Panendra Belajar dari Panggung Teater

Dea Panendra Belajar dari Panggung Teater
Dea Panendra. ( Foto: BeritaSatu Photo / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 30 November 2018 | 12:07 WIB

Jakarta - Masih ingat sahabat perempuan Marlina dalam Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak? Ia adalah Novi, yang diperankan oleh Dea Panendra (27). Dalam karakter tersebut, akting Dea tidak kalah memikat dengan Marsha Timothy. Bahkan, Dea berhasil dinobatkan sebagai Aktris Peran Pendukung Terbaik, Cinema Awards 2017.

Dea mengungkapkan, rahasia kemahiran akting yang ia miliki berawal dari panggung teater. Sejak gagal di ajang Indonesian Idol, Dea mendapat tawaran dari komposer Erwin Gutawa untuk mengikuti audisi pergelaran drama musikal Laskar Pelangi.

Dea pun lolos dan tampil pada Desember 2010. Selang 3 tahun, Dea berperan sebagai Burung Cenderawasih untuk drama musikal Timun Mas.

"Hampir delapan tahun saya berkecimpung di dunia musikal. Proses yang lama untuk menyukseskan sebuah pertunjukan memberikan saya energi tersendiri. Sampai tua aku ingin berada di dunia panggung, karena saya enjoy berada di atas panggung selama berjam-jam tanpa ada istilah cut,” terangnya saat dijumpai SP, usai jumpa pers teater musikal Bunga untuk Mira, baru-baru ini.

Dea pun mengatakan, sejak terbiasa dipanggung ia menjadi lebih mudah untuk menghafal dialog panjang saat mendapat tawaran bermain film. Bahkan, ia mampu memberikan gambaran mimik dan ekpresi senatural mungkin.

Lain sisi, ia juga mengamati, saat ini perkembangan dunia teater di Indonesia semakin berkembang. Tidak hanya bergerak dari komunitas profesional, tapi saat ini komunitas kecil pun sudah berani unjuk gigi.

"Tahun 2010 itu, Mira Lesmana sulit sekali menjual musikal Laskar Pelangi, meski akhirnya laris manis. Melihat sulitnya penjualan saat itu, membuat orang-orang yang ingin menyelenggarakan musikal atau teater semakin mengecil. Bahkan saat itu mungkin hanya ada dua pertunjukan besar. Berbeda dengan sekarang, tahun ini saja saya kebagian empat tawaran untuk teater musikal. Belum lagi kita lihat banyak komunitas kecil dan besar yang membuat pertunjukan lain tanpa henti,” jelasnya.

Pun demikian, perkembangan dunia teater di Indonesia harus diikuti dengan kualitas SDM yang mumpuni. Hal inilah yang kian menjadi tantangan. Pasalnya, menurut Dea untuk menjadi seorang aktor di atas panggung, setidaknya orang tersebut harus menguasai tiga kemampuan, yaitu bernyanyi, menari, dan juga akting.

"Untuk itu, saya dan teman dekat memiliki cita-cita untuk membuat sekolah yang bisa mengajari anak-anak untuk berakting, bernyanyi dan menari. Kalau saya ada rezeki, cita-cita ini akan saya wujudkan. Sekarang kita lagi mencari tempat, dan waktu yang tepat,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE