Menangi Balap Mobil Irit, Tim Filipina Mengaku Beruntung

Perlombaan driver world championship (DWC) dalam ajang Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2017, yang berlangsung di Changi Exhibition Centre, Singapura, Minggu, 19 Maret 2017. (Beritasatu.com/Markus Junianto)

Oleh: Markus Junianto Sihaloho / FER | Minggu, 19 Maret 2017 | 17:58 WIB

Singapura - Tim FLUX dari De La Salle University berhasil jadi juara pertama driver world championship (DWC) dalam ajang Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2017.

Padahal, dalam tes keiritan, tim ini gagal dan kalah. Bahkan, untuk masuk lima besar, tim itu tak bisa menembus dominasi Indonesia.

Dosen Pembimbing Tim FLUX, Manny Biona, mengakui, sejak awal pihaknya mengetahui tidak akan bisa mengalahkan tim dari Indonesia untuk faktor keiritan. Sehingga, kata Manny, mereka konsentrasi sejak awal membangun mobil yang cukup irit, tapi mampu kencang di arena balapan.

"Jadi, kami membangun mobil memang untuk race karena kami tahu Indonesia jago irit. Kami membuat mobil yang balance antara stiffness dan ringan bobotnya," kata Manny, di Changi Exhibition Centre, Minggu (19/3).

‎Mobil mereka dibangun dengan mesin sepeda motor merek Suzuki berkapasitas 110 cc. Diakuinya, bahwa pihaknya memodifikasi Electronic Computer Unit (ECU) dari mesin mobil yang dilombakan.

Mengingat pentingnya ECU, kata Manny, untuk lomba SEM tingkat global di London, pada Mei mendatang, pihaknya akan segera belanja sebuah ECU baru yang bisa ditulis ulang dengan angka parameter baru. Hal tersebut, lanjut dia, demi menjamin keseimbangan mobil rancangan mereka.

"‎Mungkin, kami akan cari di Jepang. Jadi, bisa kami perbaiki beberapa hal seperti injection setting," kata Manny.

ECU atau unit kontrol elektronik berfungsi untuk melakukan optimasi kerjanya mesin kendaraan. Dalam sebuah mobil, biasanya ada beberapa ECU. Semisal ECU untuk kontrol injeksi bahan bakar, kontrol waktu pengapian, dan kontrol waktu katup.

Mode-mode operasi mesin yang dikontrol oleh ECU biasanya mencakup mode start, saat banjir bensin, waktu berjalan, akselerasi, deselerasi, pemutus aliran bensin, pemutus bensin secara selektif, mode backup, dan koreksi tegangan baterai.

Ketika ditanya apakah pihaknya memakai teknologi hybrid di kendaraannya dengan menambah fuel cell di mesin bensin mereka, Manny tak menjawab jelas. Dia hanya mengatakan, pihaknya beruntung bisa jadi pemenang pertama karena gugurnya tim dari Indonesia saat kualifikasi sebelum balapan (racing).

Menny mencontohkan, tim Sadewa dari Universitas Indonesia, yang jadi pemenang di kontes irit kategori mobil perkotaan (urban concept).

"Kami hanya beruntung. Mungkin kami bisa menang karena banyak tim Indonesia didiskualifikasi. Khususnya tim dari UI," kata Manny.

"Kami tak sangka tim UI didiskualifikasi. Kalau seandainya mereka bisa masuk, mungkin kami akan susah menang," tambahnya sambil tersenyum.

Tim Sadewa memang tak bisa ikut perlombaan DWC karena dianggap tak lolos tes awal akibat tak memenuhi standar pengereman.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT