Kemperin Dorong Peningkatan Investasi Industri Telematika i

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Oleh: / AB | Kamis, 8 Juni 2017 | 19:53 WIB

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemperin) mendorong peningkatan investasi serta tumbuhnya sektor industri telekomunikasi dan informatika (telematika) di dalam negeri.

"Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya membutuhkan dukungan dan kerja sama yang baik antara pemerintah dengan pelaku usaha sehingga dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto lewat siaran pers diterima di Jakarta, Kamis (8/6).

Langkah tersebut telah diperkuat dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 Tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer Tablet.

Data Kemperin menunjukkan industri telematika dalam negeri mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga 2016, terdapat 23 electronics manufacturing service (EMS), 42 merek, dan 37 pemilik merek, baik global maupun nasional. Total nilai investasi sebesar Rp 7 triliun dan menyerap 13.000 tenaga kerja.

"Produk lokal menjadi kekuatan kita dalam persaingan. Ini merupakan komitmen Indonesia sebagai basis ekspor ke ASEAN. Apalagi, Indonesia setengah sendiri dari ASEAN. Apabila Lenovo dan Motorola ingin menjadi pemimpin pasar dan mendukung ekonomi ASEAN, perlu memanfaatkan potensi ini," tuturnya saat meresmikan fasilitas produksi telepon seluler (ponsel) merek Motorola dan Lenovo di Banten, Kamis (8/6).

Airlangga juga menyampaikan pihaknya tengah bekerja sama dengan Qualcomm dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan untuk menghambat impor dan memberantas peredaran ponsel ilegal di Tanah Air. Hal tersebut untuk menjaga keamanan konsumen, juga melindungi industri dalam negeri.

"Sektor industri telematika ini menjadi prioritas bagi pemerintah, karena selain bernilai tambah tinggi, juga padat karya," ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan, dalam upaya meningkatkan daya saing industri ponsel nasional, pihaknya mendorong program pendidikan vokasi industri. "Kami berharap para pelaku industri ponsel dapat melakukan kemitraan dengan SMK dan politeknik yang ada di sekitar lokasi industri untuk penyerapan dan peningkatan kapasitas SDM," tutur Airlangga.

Menurutnya, pendidikan vokasi telah mendorong link and match antara industri dan SMK. Pasalnya, dari 3,3 juta lulusan SMK, sebanyak 1,7 juta terserap ke perguruan tinggi, dan sisanya 1,6 juta harus bisa masuk di dunia kerja. Bahkan, dalam menghadapi revolusi industri keempat, sektor manufaktur ponsel nasional harus siap menghadapi perubahan besar tersebut.

Terkait hal itu, Kemperin pun telah menyiapkan empat langkah strategis agar Indonesia siap mengimplementasikan Industry 4.0. Pertama, pengembangan human resources lewat vocational school. Kedua, pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) melalui e-smart IKM. Ketiga, penggunaan teknologi digital, seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality, serta keempat, inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis.




Sumber:
ARTIKEL TERKAIT