Industri Startup Kebanjiran Modal, tetapi Kekurangan Ide Segar

Tech in Asia Conference di Jakarta Convention Center 1-2 November 2017. Acara ini diikuti oleh 300 startup dan 250 investor. (Beritasatu.com/Faisal Maliki Baskoro)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Jumat, 3 November 2017 | 12:54 WIB

Jakarta - Industri startup atau perusahaan rintisan tidak akan kekurangan modal di tahun 2018, tetapi kurangnya ide segar membuat para investor lebih selektif dalam memilih startup.

"Sekarang lagi banyak arus modal masuk. Investor dari Tiongkok dan Korea mulai masuk, private equity fund juga mulai masuk. Mereka mau coba-coba investasi langsung. Tahun depan, jumlah pendanaan bakal naik tetapi pertanyaannya seberapa besar dari dana itu yang akan benar-benar disalurkan ke startup?" kata Dea Surjadi, business development dari Golden Gate Ventures asal Singapura, kepada Beritasatu.com, baru-baru ini.

"Startup yang baru banyak. Seminggu saya bisa ketemu tiga-empat startup tetapi yang kualitasnya benar-benar bagus jarang," lanjutnya.

Menurut Dea, industri startup di Indonesia sudah lebih matang dibandingkan lima tahun lalu sehingga venture capital (VC) lebih selektif dalam memilih startup.

"Kita jadi lebih tahu trennya apa yang berhasil dan yang tidak. VC lebih selektif. Kecuali investor asing yang baru masuk. Mereka masih lebih mau untuk coba-coba," kata dia.

Golden Gate menargetkan menyalurkan hingga US$60 juta dolar sejak pertengahan tahun lalu hingga akhir tahun ini untuk mendanai startup baru dan melanjutkan investasi lama (follow on investment). Tahun depan, jumlah tersebut bisa naik hingga mencapai US$ 100 juta dolar untuk kawasan Asia Tenggara. "Tahun ini jumlah pendanaan kita agak melambat karena kita lebih selektif. Tetapi, tahun depan Indonesia masih menjadi prioritas," kata Dea.

Menurut Dea, masih banyak peluang yang bisa ditangkap startup, terutama di sektor pendidikan, kesehatan, agrikultur, jasa keuangan, dan subsektor e-commerce seperti logistik. "Masih banyak problem yang bisa diselesaikan startup".

Dea mengatakan saat ini investor asing banyak masuk dari Tiongkok karena industri startup di Tiongkok sudah jenuh (saturated) dan karena dana yang beredar di sana juga sudah banyak. Alibaba dan Tencent baru-baru ini menyuntikkan dana ke Lazada dan Go-Jek. Dea melihat tren ke depan akan lebih banyak investor kecil atau seed investors yang bermain di industri startup di Indonesia.

"Investor yang mereka lihat itu kesempatan (opportunity), kompetisinya bagaimana. Tiongkok sudah jenuh, dananya juga sudah banyak sekali, jadi investor mulai mencari market baru," kata Dea.

Menurut riset Euromonitor, nilai transaksi ritel internet di Indonesia akan naik lebih dari dua kali lipat ke US$ 6,2 miliar pda 2021. Sementara, pemerintah Indonesia lebih bullish dengan menargetkan nilai transaksi e-commerce mencapai US$ 130 miliar pada 2020, dari estimasi US$ 12 miliar di 2014.

Sementara itu, Willson Cuaca, managing partner East Ventures, mengatakan investasi asing perlu disambut baik. "Kita tidak takut akan masuknya investasi Tiongkok, kita lebih takut kalau Tiongkok keluar," kata Willson di konferensi Tech in Asia di Jakarta yang diikuti lebih dari 300 startup dan 250 investor, 1-2 November lalu.

Willson mengakui jumlah pendanaan startup tahun ini melambat dibandingkan tahun lalu karena kurangnya ide-ide yang original. Untuk 2018, dia belum bisa memprediksi apakah pendanaan akan naik atau turun. "Kita akan responsif saja".

"Tantangan industri startup adalah mencari talent atau bakat. Talent yang ada diambil perusahaan-perusahaan besar. Tetapi, saya tetap bullish terhadap pertumbuhan industri startup karena populasi Indonesia yang besar, pertumbuhan penetrasi internet yang pesat dan e-commerce kita masih 2 persen dari ritel. Jadi masih banyak peluang selama masih ada inefisiensi," kata dia.

Pieter Kemps, principal Sequoia Capital, juga bullish mengenai pertumbuhan startup lokal tetapi perkembangan teknologi masih menjadi tantangan. "Kualitas engineering di India dan Tiongkok sudah selevel dengan AS, tetapi di Indonesia masih tertinggal. Kami bullish tetapi kami ingin Indonesia belajar lebih cepat".

Grace Yun Xia, principal Jungle Ventures, mengatakan startup Indonesia masih di tahap awal kewirausahawan."Banyak starter yang belum tersentuh. Yang kami cari adalah pendiri startup yang memiliki pemikiran independen dan memiliki pandangan unik terhadap pasar".

Jaede Tan, regional director App Annie untuk wilayah Asia Tenggara dan India, mengatakan rata-rata orang Indonesia memiliki 100 aplikasi di smartphone mereka, atau ada di atas rata-rata dunia di kisaran 60-90 aplikasi. Tetapi, dari 100 aplikasi itu, hanya 39 yang digunakan sehari-hari.

Kebiasaan orang Indonesia melihat smartphone menjadi peluang bagi pengembang aplikasi. "Orang Indonesia menghabiskan waktu hingga enam jam di smartphone mereka, tertinggi di dunia. Waktu dan revenue berbanding lurus. Semakin lama waktu dihabiskan menggunakan aplikasi maka pendapatan perusahaan aplikasi akan semakin naik. Waktu adalah uang," kata Tan.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT