UPH dan Tokopedia Ajarkan Ekonomi Digital untuk Siswa SMA

Ilustrasi dunia digital. (Antara)

Oleh: Emanuel Kure / HA | Rabu, 8 November 2017 | 18:03 WIB

Karawaci, Tangerang - Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui School of Information Science and Technology (SISTECH) bersama marketplace Tokopedia menggelar program satu hari untuk memberikan wawasan dan pengetahuan tentang perkembangan dunia digital kepada sekitar 300 siswa SMA/SMK.

UPH maupun Tokopedia ingin memberikan wawasan mengenai perkembangan dunia digital yang sedang terjadi saat ini, sehingga sejak dini para siswa bisa mempersiapkan diri untuk memasuki era digital yang sedang berkembang.

Direktur Eksekutif Business Development UPH Lie Nathanael Santoso mengatakan, UPH selalu merespons perkembangan digital saat ini, yang telah mendisrupsi setiap lini industri di Indonesia.

Oleh karena itu, memberikan pemahaman sejak dini kepada para siswa mutlak diperlukan, sehingga ke depannya mereka mampu merespons sekaligus adaptif terhadap setiap perubahan yang terjadi.

“Kita mau mempersiapkan siswa dari high school, memberikan mereka wawasan, apa yang terjadi saat ini. Mulai dari digital transformation, aplikasi-aplikasi pintar, serta belajar dari raksasa digital industry di Indonesia maupun dunia, misalnya OVO, Tokopedia, Google dan Amazon. Mereka datang ke sini supaya membuka wawasan, supaya mengerti apa yang sedang terjadi di dunia saat ini,” kata Nathanael di Kampus UPH Lippo Karawaci, Tangerang, Rabu, (8/11).

Menurut Nathanael, sebagai upaya untuk merespons perkembangan digital yang sedang terjadi saat ini, pihaknya juga membuka program baru di UPH, yaitu program studi technopreneurship dan smart app development. Kedua program ini juga khusus membekali siswa supaya mereka bisa responsif dan adaptif dengan perkembangan dunia teknologi.

“Di program technopreneurship, mereka akan belajar bagaimana melihat suatu bisnis itu dengan memakai teknologi. Kita mau mahasiswa kita bisa menjadi founder, leader di digital company. Sedangkan program smart app development, kita mau supaya mahasiswa bisa membuat aplikasi sendiri, karena era ini adalah digital. Semua proses hanya dilakukan melalui genggaman dengan smartphone,” ujar Nathanael.

Para mahasiswa yang bergelut di program ini, lanjut Nathanael, akan diberikan kesempatan untuk memilih tiga opsi ketika memasuki semester akhir, yaitu opsi magang, membuat startup sendiri, dan riset. Opsi ini dipilih sebelum mereka mengerjakan skripsi pada semester terakhir.

“Jadi kalau yang mau magang, kita sudah bekerjasama dengan Amazon, Google, OVO, Mataharimall, Tokopedia, dan semua digital company di Indonesia. Sedangkan, yang mau bikin startup, kita juga sudah bekerjasama dengan berbagai digital company untuk membantu mereka. Begitupun riset. Jadi, intinya, kita mau supaya mereka dapat beradaptasi dengan perkembangan digital yang sedang terjadi saat ini,” jelas Nathanael.

Nathanael juga mengungkapkan, program yang diadakan oleh UPH ini juga sejalan dengan program Presieden Jokowi, supaya Indonesia bisa menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan Asean.

“Karena kita juga merespon visi dari Presiden Jokowi, dimana Jokowi melihat ada tantangan zaman, supaya kita jangan ketinggalan. Kita lihat di AS (Amerika Serikat), Tiongkok, mereka sudah nggak pakai cash lagi, udah cashless. Di Indonesia baru mulai yang cashless. Tetapi kalau kita hanya tunggu, Indonesia akan ketinggalan. Nanti salah satu aspek untuk merespons tantangan zaman itu adalah mempersiapkan mahasiswa supaya punya pengetahuan, punya skill dan beradaptasi merespons tantangan tersebut,” tutur Nathanael.

Sementara, CEO Office Strategic Development Tokopedia Doni Nathaniel mengungkapkan, perkembangan dunia digital di Indonesia sejalan dengan penetrasi internet di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya. Disebutkan, penetrasi internet di Indonesia merupakan tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sekitar 19% setiap tahunnya. Ini artinya, potensi untuk berkembang dari sisi ekonomi digital sangat besar.

“Kita harus mulai mempersiapkan skill digital native mulai dari sekarang. Karena saat ini kita dihadiahkan dengan bonus demografi yang tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh, sebesar 52,13% populasi di Indonesia adalah populasi milenial. Jadi, kegiatan-kegiatan seperti sharing session ataupun workshop seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan kaum milenial kita,” jelas Doni.

Doni melanjutkan, pihaknya ingin berkontribusi dengan melakukan berbagai pelatihan dan kegiatan yang mampu memberikan inspirasi kepada kaum milenia, karena tren digital akan menjadi tren yang akan terus berkembang ke depannya.

“Jadi, kami pengen kontribusi ke universitasnya. Apakah dengan sharing session, atau berbagai program yang bisa kita support ke universitas. Kami juga kasih beasiswa bagi yang berprestasi,” ungkap Doni.

Dia juga menuturkan, kehadiran Tokopedia mempunyai misi supaya bisa memeratakan ekonomi digitak di Indonesia. Dengan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki, diharapkan masyarakat Indonesia dapat mempunyai kesempatan yang sama memanfaatkan teknologi untuk meningatkan ekonomi digital.

“Kami pengin sekali supaya setiap orang seperti ibu rumah tangga, mahasiswa, itu bisa memiliki kehidupan yang proper untuk bisa memiliki bisnis. Mereka memiliki kesempatan yang sama dengan memanfaatkan teknologi,” pungkas Doni.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT