OJK: Pembiayaan P2P Lending Naik 600% Tembus Rp 1,6 T

Riswinandi, Kepala Eksekutif IKNB, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di acara OJK Fintech Days 2017 (Ist)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Minggu, 12 November 2017 | 15:01 WIB

Makassar – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan pertumbuhan penyaluran dana melalui peer-to-peer lending (p2p) atau skema pendanaan gotong royong online di Indonesia mencapai Rp 1,6 triliun hingga kuartal-III tahun ini.

P2p lending merupakan sebuah platform teknologi yang mempertemukan secara digital peminjam yang membutuhkan modal usaha dengan pemberi pinjaman. Layanan ini menawarkan fleksibilitas di mana pemberi pinjaman dan peminjam dapat mengalokasikan dan mendapatkan modal atau dana hampir dari dan kepada siapa saja, dalam jumlah nilai berapa pun, secara efektif dan transparan, serta dengan imbal balik yang kompetitif.

"Tidak hanya jumlah dan nilai transaksinya yang mengesankan, pertumbuhan fintech peer-to-peer lending juga terbukti dari menjamurnya jumlah pelaku usaha dan jenis layanan yang ditawarkan,” ungkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Kepala Eksekutif Pengawas IKNB, Riswinandi, di sela-sela acara OJK Fintech Days 2017 di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla, 9-10 November lalu.

Hingga Q3 2017 penyaluran kredit p2p lending sudah mencapai Rp 1,6 triliun atau naik lebih dari 600 persen YoY. Sementara itu, nilai pendanaan di luar Pulau Jawa meningkat sebesar 1.074 persen sejak akhir tahun lalu menjadi Rp 276 miliar. Hal tersebut didukung adanya peningkatan jumlah pemberi pinjaman (lender) di luar pulau Jawa sebesar 784 persen, begitu juga dengan jumlah peminjam (borrower) yang meningkat sebesar 745 persen. Peningkatan ini menjadi bukti industri Fintech p2p lending dapat membantu program pemerintah untuk membangun Indonesia dari daerah pinggiran.

OJK mencatat sampai saat ini terdapat 25 perusahaan fintech p2p lending yang sudah terdaftar atau mendapatkan izin dari OJK, 33 perusahaan sedang dalam proses pendaftaran, dan 27 perusahaan sudah menyampaikan minat untuk mendaftar, sehingga secara total sampai dengan saat ini terdapat 85 perusahaan pinjam meminjam berbasis teknologi (p2p lending) yang beroperasi di seluruh Indonesia.

Adapun, pelaku p2p lending di tanah air antara lain: Pinjamwinwin, Crowdo Indonesia, KIMO, Danamas, UangTeman, Akseleran, Investree, Modalku, KlikACC, Koinworks, Pendanaan, TaniFund, Amartha, Karapoto.

Data OJK menunjukkan bahwa masih terdapat 49 juta UKM di Indonesia yang belum bankable dan membutuhkan akses terhadap pinjaman. Selain itu, terdapat kesenjangan pembiayaan pembangunan sebesar Rp 1.000 triliun setiap tahun. Saat ini institusi keuangan yang ada hanya mampu menyerap kebutuhan sekitar Rp 700 triliun dari total kebutuhan sebesar Rp 1.700 triliun tiap tahunnya. Indonesia juga masih dihadapkan pada permasalahan tidak meratanya ketersediaan layanan pembiayaan di mana 60 persen dilaporkan masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

"Oleh karenanya, layanan p2p lending diharapkan dapat menjadi angin segar untuk menyiasati tantangan tersebut dengan menghadirkan solusi khas fintech yang praktis, lincah dan diciptakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," kata Riswinandi.

Adrian Gunadi, Wakil Ketua Aftech dan Co-Founder Investree, mengatakan daerah-daerah di luar Pulau Jawa dan utamanya kawasan timur Indonesia merupakan kantong-kantong ekonomi dengan potensi yang luar biasa besar, namun perkembangan usahanya –utamanya yang masih berskala rintisan– belum tertangani secara optimal.

"Inilah yang melandasi motivasi dan memperkuat tekad Aftech dalam mengembangkan pasar-pasar di luar Jawa dan menjadikan dirinya katalis bagi pertumbuhan ekonomi lokal," kata Adrian.

Akseleran sebagai penyedia platform peer-to-peer lending, ingin mengajak masyarakat di Indonesia Timur untuk dapat berinvestasi dalam bentuk pinjaman dengan mudah dan aman.

“UKM menjadi tulang punggung perekonomian di negara kita. Karena itu peran teknologi finansial (financial technology) untuk mendorong peningkatan inklusi keuangan sangat penting. Akseleran berkomitmen untuk terus membantu pertumbuhan inklusi keuangan dengan berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi cara berinvestasi dengan skema peer-to-peer lending yang aman di dunia digital,” ungkap Ivan Tambunan, CEO Akseleran.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT