Dapat Pendanaan US$ 9 Juta, Alodokter Akan Tambah Fitur di Aplikasinya

CEO Alodokter Nathanael Faibis (Ist)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Selasa, 14 November 2017 | 16:46 WIB

Jakarta - Perusahaan rintisan bidang kesehatan Alodokter pekan lalu mendapatkan pendanaan seri B senilai US$ 9 juta (Rp 121,9 miliar) yang dipimpin oleh Softbank Venture Korea, dan diikuti juga oleh Golden Gate Ventures dan Feng He. Alodokter akan menggunakan dana ini untuk mengembangkan layanan mereka.

Pendanaan ini adalah ronde ketiga. Sebelumnya, Alodokter mendapatkan pendanaan Seri A dari Golden Gate Ventures sebesar US$ 2,5 juta pada 2016.

CEO Alodokter Nathanael Faibis mengatakan Alodokter ke depan akan menambah layanan membuat janji dengan dokter, mengatur gaya hidup, chat dengan dokter spesialis hingga mencatat rekam medis di aplikasi mereka. Saat ini layanan yang tersedia antara lain konsultasi dengan dokter umum dan mencari dan membandingkan tarif dan layanan rumah sakit.

"Pada dasarnya, Alodokter ingin lebih banyak orang Indonesia memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah kesehatan mereka. Kami ingin menjadi one stop solution untuk segala hal terkait kesehatan mulai dari informasi medis hingga asuransi," kata Nathanael kepada Beritasatu.com, hari ini.

Nathanael mengatakan portal Alodokter per Oktober memiliki 14,5 juta pengguna, naik dari 8 juta pengguna di periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, aplikasi Alodokter telah diunduh lebih dari 1 juta kali sejak diluncurkan tahun lalu. Alodokter juga memiliki 350 lebih dokter yang melayani 250.000 pertanyaan per bulannya.

Untuk membantu dokter menjawab pertanyaan yang begitu banyak, Alodokter selama 18 bulan terakhir mengembangkan sistem intelijensia buatan atau AI.

"Kami meyakini bahwa kombinasi interaksi AI dan dokter adalah masa depan teknologi konsultasi medis karena teknologi ini mampu memberikan informasi yang terpercaya dan personal dalam tempo yang sangat cepat. Kami sadar bahwa pasien ingin bicara langsung dengan dokter, dan AI ini tidak mengganti fungsi dokter tetapi membantu dokter dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pasien. Jawaban yang diterima pasien tetap berasal dari dokter," kata Nathanael.

Nathanael mengatakan ke depan belanja kesehatan di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan implementasi BPJS.

Menurut penelitian BNP Paribas, belanja kesehatan di Indonesia diperkirakan meningkat tiga kali lipat dari US$ 7 miliar di 2014 menjadi US$ 2020 di 2019 didorong oleh meningkatnya populasi kelas menengah, kebijakan pemerintah yang mendukung, dan investasi yang lebih tinggi di industri kesehatan. Sementara Frost and Sullivan memprediksi belanja kesehatan Indonesia pada 2020 akan mencapai US$ 50,8 miliar atau 4,3 persen dari PDB.

Menurut data 2014 dari WHO, belanja kesehatan per kapita di Indonesia baru mencapai US$ 299, lebih rendah dibanding Thailand di US$ 600, Malaysia US$ 1.040, dan Filipina US$ 329.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT