Kejatuhan Indeks Sementara

Investor Daily Kamis, 8 Maret 2018 | 09:10 WIB

Indeks harga saham gabungan (IHSG) jatuh sangat dalam pada perdagangan Rabu (7/3). IHSG anjlok 2,03 persen dari penutupan sebelumnya ke level 6.368. Dana asing keluar hingga Rp 1,17 triliun di semua pasar. Secara year to date (ytd) hingga Rabu (7/3), investor asing telah melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 13,33 triliun.

Kejatuhan IHSG adalah yang tertinggi dibandingkan bursa-bursa regional. Contohnya indeks bursa Singapura anjlok 1,18 persen, bursa Hong Kong turun 1,03 persen dan Australia melemah 0,93 persen. Namun, secara year to date, IHSG masih mencatatkan kinerja positif 0,20 persen dibandingkan bursa Tiongkok yang melemah 1,07 persen dan Filipina minus 1,8 persen.

Ada beberapa faktor yang membuat IHSG tersungkur. Dari luar negeri, sentimen negatif dipicu oleh pelemahan sejumlah mata uang dunia terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Fed fund rate (FFR) sebanyak empat kali tahun ini. Bahkan Gubernur The Fed Jerome Powell memastikan akan menaikkan tingkat suku bunga acuan pada Maret ini. Situasi itu direspons negatif oleh investor saham di dalam negeri.

Kemudian, rencana pengenaan tarif impor baja dan aluminium AS juga mengirim sentimen negatif ke pasar saham. Kebijakan proteksionis AS itu membuat pelaku pasar khawatir bahwa situasi itu dapat memicu perang dagang global. Apalagi Presiden Donald Trump menyatakan jika dirinya tidak keberatan apabila nantinya terjadi perang dagang. Perang dagang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia dan memicu kepanikan di sektor keuangan seperti di pasar saham. Investor mengantisipasi hal itu dengan melepas sebagian aset sahamnya.

Sedangkan dari dalam negeri, nilai tukar rupiah yang terus anjlok, bahkan sebelumnya sempat menyentuh level Rp 13.800, membuat para investor lebih memilih menempatkan uangnya di dolar AS sehingga terjadi net sell yang begitu besar. Secara year to date, pelemahan rupiah terhadap dolar AS lebih besar dari IHSG. Rupiah melemah sebesar 1,46 persen, sedangkan IHSG masih tumbuh 0,20 persen.

Faktor lain adalah kebijakan pemerintah mengendalikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik hingga tahun 2019. Kebijakan ini membuat anggaran subsidi energi untuk solar dan listrik, membengkak. Kebijakan ini membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan berpotensi defisit anggaran melebar. Dampaknya selanjutnya adalah, peluang kenaikan peringkat utang Indonesia mengecil.

Sementara itu, kebijakan pemerintah yang mengatur harga batu bara untuk pasar domestik menjadi sentimen negatif untuk perusahaan-perusahaan tambang yang tercatat di BEI. Hal itu tercermin dari kejatuhan indeks sektor pertambangan di BEI sebesar 3,56 persen. Kemudian, disusul oleh penurunan indeks sektor industri barang konsumsi sebesar 3,07 persen, sektor aneka industri 2,57 persen, sektor industri dasar dan kimia 2,16 persen serta sektor properti, real estat dan konstruksi bangunan turun sebesar 2,08 persen.

Presiden Joko Widodo telah menandatangani beleid yang menetapkan harga batu bara khusus bagi pemenuhan kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO). Payung hukum itu berupa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. PP ini merupakan perubahan kelima atas PP 23/2010. Revisi yang dilakukan berupa menyisipkan satu ayat tambahan di Pasal 85 yang menyatakan bahwa dalam rangka pemenuhan kebutuhan batu bara untuk kepentingan dalam negeri, Menteri menetapkan harga jual batu bara tersendiri.

Setelah PP ini diterbitkan, menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM) yang mengimplementasikan kebijakan harga tetap (fixed price) batu bara untuk kelistrikan Kebijakan harga tetap batu bara untuk menolong PLN yang terbebani oleh kenaikan harga batu bara, karena hampir 60 persen pembangkitnya menggunakan bahan bakar batu bara.

Di sisi lain, pemerintah telah memutuskan tarif listrik tidak mengalami penyesuaian hingga 2019. Namun, pelaku pasar menilai pemerintah telah melakukan intervensi dan hal itu akan menciptakan distorsi karena ada dua harga yang berlaku. Itu sebabnya, kebijakan tersebut menjadi sentimen negatif bagi emiten pertambangan di BEI.

Kejatuhan pasar saham sebenarnya tidak mencerminkan fundamental emiten. Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai, pelemahan indeks merupakan persepsi koreksi sesaat, karena secara fundamental produk pasar modal masih baik dengan frekuensi transaksi yang cukup aktif. Optimisme pada bursa saham bisa dilihat dari kenaikan laba bersih sejumlah emiten. Dari 70 emiten yang sudah menyampaikan laporan keuangan tahun 2017, sebagian besar mengantongi kenaikan pendapatan. Sedangkan emiten yang masuk dalam indeks LQ45 mencetak kenaikan net income sebesar 24 persen.

Investasi di pasar saham adalah membeli masa depan. Dengan prospek kinerja emiten yang positif, masih terbuka peluang bagi investor untuk meraih keuntungan. Selama mayoritas emiten masih mencatatkan laba, kondisi pasar modal bisa dibilang tetap bagus. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 di 171 daerah tahun ini juga diharapkan akan memberi dampak positif ke pasar saham. Pilkada akan mendorong pengeluaran untuk aktivitas kampanye dan diharapkan berdampak positif bagi perusahaan ritel, hotel, dan transportasi. Seperti pengalaman sebelumnya, IHSG selalu naik pada tahun politik.