Menjaga Etalase Indonesia

Suara Pembaruan Sabtu, 10 Maret 2018 | 18:21 WIB

Ibarat sebuah toko, Jakarta adalah etalase toko besar yang bernama Indonesia. Agar orang senang masuk ke toko itu, etalasenya pun harus dibuat menarik. Sebagai etalase negara, Jakarta harus menjadi contoh bagi kota-kota lain di Tanah Air. Jakarta yang setiap tahun didatangi orang asing, baik yang hendak bekerja atau sekadar berlibur, harus menampilkan wajah yang cantik.

Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk bersolek dan mempercantik Jakarta harus didukung oleh semua pihak. Pembenahan Ibu Kota agar sedap dipandang, sehingga warganya, termasuk orang asing, bisa hidup nyaman dan bahagia selama berada di sana.

Pada Agustus nanti, Jakarta akan menjadi tuan rumah pesta olahraga Asia, yakni Asian Games XVIII. Akan banyak orang asing yang merupakan atlet beserta tim ofisialnya, penonton, serta turis yang akan berkunjung ke Jakarta. Perhelatan akbar ini merupakan momentum yang tepat bagi Jakarta untuk menata ulang kawasan-kawasan utama agar lebih aman, nyaman, dan enak dipandang.

Salah satu upaya Pemprov DKI Jakarta untuk mempercantik Jakarta adalah dengan melakukan penataan trotoar di kawasan Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman. Dua jalan ini memang merupakan kawasan utama Ibu Kota. Pemprov DKI Jakarta berencana merampungkan penataan kawasan Sudirman-Thamrin sepanjang 5,4 km itu dalam waktu 5 bulan. Pengerjaan proyek dari dimulai dari Patung Pemuda Senayan hingga Patung Kuda Monas. Lebar trotoar yang akan dibangun di kawasan itu sebesar 10 meter.

Kita tentu mengapresiasi langkah Pemprov DKI Jakarta yang akan menata ulang trotoar di kawasan Sudirman-Thamrin ini. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, trotoar di jalur tersebut perlu ditata ulang lantaran belum mengakomodasi pengguna sepeda motor dan tidak ada arena untuk warga saling berinteraksi. Menurutnya, penataan ulang trotoar dan jalan di kawasan Sudirman-Thamrin merupakan langkah awal dalam menghidupkan lagi ruang-ruang ekspresi di trotoar Jakarta.

Dikatakan, penataan jalan dan trotoar tersebut meliputi satu lajur untuk busway, tiga lajur untuk kendaraan roda empat, serta satu lajur untuk bus reguler, bus wisasta, dan sepeda motor. Anies menegaskan, trotoar merupakan fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan di antara fasilitas-fasilitas lain, seperti lajur sepeda, tempat penyeberangan pejalan kaki, halte, serta fasilitas khusus bagi penyandang difabel dan para lanjut usia.

Trotoar di kawasan ini juga akan dijadikan cermin Jakarta yang memiliki ruang ekspresi, bukan sekadar tempat orang mencari nafkah. Karena itu, kawasan Sudirman-Thamrin sebagai salah satu koridor utama di Jakarta harus memiliki ruang ekspresi yang memunculkan aneka pertunjukkan seni dan budaya. Makanya, dalam penataan ulang trotoar di sana akan ada tempat warga dapat menyaksikan performa kesenian, sehingga Sudirman-Thamrin tidak sunyi, tidak hanya ada bunyi klakson, tetapi juga ada suara musik dan pertunjukkan tarian-tarian di sepanjang jalan tersebut.

Selain itu, Pemprov DKI juga akan membangun dan menata kios-kios khusus untuk pedagang kaki lima (PKL). Nantinya, PKL yang mendapatkan izin berdagang di sana dipilih secara khusus, terutama orang-orang yang memiliki disiplin dan kepatuhan yang tinggi.

Langkah Pemprov DKI ini patut didukung oleh semua pihak. Langkah ini bisa diterapkan di kota-kota lain di Indonesia. Pemprov DKI juga bisa meneruskan program ini ke kawasan-kawasan lain. Pasalnya, saat ini dari sekitar 2.600 kilometer panjang jalan arteri yang ada di DKI, panjang trotoar yang layak masih kurang dari 20 persen.

Kita bisa melihat jalan dan trotoar di beberapa ibu kota negara lain sebagai contoh, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, atau Taipei. Di sana, trotoar tidak hanya digunakan untuk berjalan kaki, tetapi juga bisa untuk menampilkan berbagai atraksi menarik bagi warga dan wisatawan yang berkunjung.

Namun, keberadaan trotoar dan jalan yang nyaman, aman, dan cantik itu tidak akan bertahan lama jika tidak dibarengi dengan disiplin warga. Disiplin warga untuk tidak membuang sampah sembarangan atau tidak melakukan aksi-aksi vandalisme sangat penting untuk diterapkan.

Kita tentu sedih ketika sejumlah pendukung tim nasional sepakbola Indonesia melakukan perusakan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) beberapa waktu lalu. Padahal, Stadion GBK baru saja direnovasi dan dipercantik untuk digunakan pada Asian Games XVIII Agustus nanti. Tindakan anarkisme seperti itu jangan terulang lagi, juga terhadap trotoar dan taman-taman yang sudah diperbaiki oleh Pemprov DKI. Jangan ada lagi aksi-aksi unjuk rasa yang berunjung pada perusakan fasilitas umum atau berakhir dengan sampah-sampah yang berserakan di mana-mana.

Disiplin warga itu bisa dibentuk dengan penegakan hukum yang tegas, keras, dan tanpa pandang bulu. Di Singapura, misalnya, orang yang membuang sampah sembarangan bisa dikenakan denda sebesar 500 dolar Singapura atau Rp 5 juta. Penegakan hukuman bagi yang melanggar disiplin ini tanpa ampun, sehingga membuat warga berpikir seribu kali untuk membuang sampah sembarangan.

Kita tentu berharap agar rencana Pemprov DKI Jakarta membangun kembali trotoar di kawasan Sudirman-Thamrin bisa terealisasi dengan baik. Mari kita jaga Jakarta sebagai etalase Indonesia agar banyak wisatawan asing yang mau datang ke sini.