Susutnya Asing di Hulu Migas

Investor Daily Rabu, 21 Maret 2018 | 09:10 WIB

Ada perubahan signifikan dalam delapan tahun terakhir tentang peta pemain industri hulu sektor minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. Perusahaan migas internasional kondang yang pada 2010 menguasai setidaknya dua pertiga produksi minyak di Indonesia, tahun ini menyusut hanya tinggal sepertiganya.

Berdasarkan kajian terbaru Wood Mackenzie, sejumlah grup perusahaan migas, produksinya meningkat dari 13 persen pada 2010 menjadi 20 persen pada tahun ini, termasuk di dalamnya pemain dari Asia Timur, yang sebagian didanai dari Timur Tengah dan sejumlah perusahaan swasta yang sudah beroperasi di Indonesia.

Yang menarik, kiprah Pertamina dalam percaturan migas nasional kian meyakinkan. Dalam periode delapan tahun terakhir, produksi minyak dan gas Pertamina naik dua kali lipat. Produksinya pun menguasai separuh pasar yang totalnya mencapai 1,9 juta barel setara minyak per hari tahun ini.

Sebuah berita yang menggembirakan tentu saja, perusahaan nasional mulai menunjukkan gigi dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, keberpihakan pemerintah memang semakin jelas. Pertamina diserahi sejumlah blok migas yang selama ini digarap oleh perusahaan asing dan kontraknya telah berakhir.

Maret ini setidaknya ada delapan blok migas kontrak kerja sama (KKS) yang sudah diterminasi dan diserahkan Pertamina. Kedelapan blok tersebut adalah Blok Ogan Komering, Tuban, South East Suma­tera, Sanga-Sanga, East Kalimantan, Attaka, Tengah, dan North Sumatera Offshore. Sebelumnya, Pertamina juga sudah mendapat limpahan dari beberapa blok migas besar.

Sebagian blok yang diserahkan tersebut, pengoperasiannya memang masih dikerjasamakan dengan kontraktor lama, karena ada masa transisi dan transfer teknologi yang tidak mudah. Namun, banyak blok migas yang langsung diambil alih oleh Pertamina dan dikelola langsung oleh insinyur-insinyur negeri sendiri.

Memang sudah saatnya perusahaan domestik diberi kepercayaan untuk mengelola kekayaan alam yang kita miliki. Dengan pengalaman, penguasaan teknologi, dan jam terbang yang tak diragukan lagi, kita yakin Pertamina mampu mengelola berbagai blok migas yang ada.

Terlebih lagi dengan terbentuknya holding migas dengan induk Pertamina, kapasitasnya bakal naik berlipat. Dalam holding migas ini, Pertamina akan membawahkan PGN dan Pertagas. Kemampuan permodalan dan leverage Pertamina juga meningkat. Kemampuan ekspansi juga kian terbuka lebar. Apalagi kita tahu, Pertamina bukan hanya gencar mencari sumur-sumur minyak baru di Indonesia, tetapi juga agresif ekspansi ke luar negeri.

Pertamina mengincar produksi hingga 1,9 juta barel setara minyak per hari (boepd) pada 2025. Peningkatan produksi diperoleh dari optimasi aset yang ada, pengambilalihan blok migas habis kontrak, dan akuisisi aset migas di negara lain. Apalagi akan ada 20 blok migas besar yang habis masa kontrak dalam lima tahun ke depan, dan itu kemungkinan besar diserahkan ke Pertamina.

Pertamina saat ini menganggarkan investasi sekitar US$ 3,32 miliar. De­ngan adanya holding migas, kapasitas belanja modal Pertamina pasti akan naik berlipat. Apalagi Pertamina juga berambisi agar kontribusi dari operasinya di luar negeri dapat mencapai 33 persen dari total produksi migas perseroan pada 2025.

Meskipun peran Pertamina makin besar, tentu bukan berarti pemerintah membatasi perusahaan asing. Pemerintah tetap harus berusaha menarik investor migas sebanyak mungkin, seiring dengan harga minyak yang tengah membaik. Sebab, belakangan ini semakin sedikit asing yang berminat ke sektor hulu migas di Indonesia.

Dalam konteks ini, iklim investasi migas harus terus diperbaiki. Karena itulah kita menyambut baik deregulasi sektor migas yang beberapa waktu lalu diluncurkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sebab kita tahu, tahun lalu, ada ratusan perizinan yang harus dilewati oleh investor migas, tetapi pemerintah berhasil memangkas sekitar 60 persen. Kemudian beberapa waktu lalu, Kementerian ESDM mencabut 54 peraturan yang intinya memberikan kemudahan kepada investor, terutama terkait perizinan.

Perbaikan iklim investasi migas sangat perlu mengingat semakin sulitnya menemukan cadangan baru. Skema bagi hasil migas dengan sistem gross split belum banyak menghadirkan investor secara signifikan, karena ketidakjelasan peraturan turunan yang masih ditunggu. Peme­rintah juga jangan terlena seolah-olah skema gross split menjadi obat mujarab yang dapat mengatasi persoalan iklim investasi sektor migas.

Di luar itu, pemerintah perlu mendesain insentif dan stimulus yang dibutuhkan para investor migas. Bagaimanapun, negara-negara lain juga terus berlomba memperbaiki iklim investasi, dengan beragam insentif dan stimulus yang tak kalah menggiurkan.

Dengan berbagai perbaikan tersebut, kita yakin bahwa Pertamina dan juga investor migas asing bakal merasa nyaman untuk berinvestasi di Indonesia. Apabila peran Pertamina dalam bisnis migas di dalam negeri semakin kuat, hal ini merupakan pertanda baik karena sesuai konstitusi agar kekayaan alam dapat dikuasai oleh negara demi kemakmuran rakyat. Dengan demikian, isu dominasi asing yang mencengkeram bisnis berbasis sumber daya alam yang selama ini sangat sensitif dapat diredam eksesnya.

CLOSE