Kualitas Merespons Keadaan

Investor Daily Senin, 14 Mei 2018 | 09:31 WIB

Kata orang bijak, kita tidak bisa menghentikan apa pun kejadian di luar diri kita. Yang bisa kita lakukan adalah merespons dengan cepat dan jitu setiap perkembangan yang memengaruhi kita. Demikian pula dengan dampak perkembangan ekonomi AS. Kita tidak bisa menghentikan perkembangan ekonomi di negeri Paman Sam itu. Kita tak bisa melarang otoritas moneter dan fiskal di Amerika untuk mengambil kebijakan yang menurut mereka baik untuk negerinya.

Dalam perspektif ini, kita mengevaluasi faktor penyebab depresiasi rupiah yang amat tajam dan rontoknya harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada dua pekan pertama Mei 2018. Rontoknya dua indikator ekonomi itu lebih disebabkan oleh lambannya respons otoritas moneter dan buruknya respons Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada saat tekanan eksternal begitu kuat, petinggi Bank Indonesia (BI) lebih memilih berada di luar negeri ketimbang merapatkan barisan di dalam negeri untuk merespons perkembangan global. Juga pada saat kondisi keuangan dalam negeri dalam tekanan, OJK mengumumkan hasil stress test terhadap perbankan.

Hasil stress test mestinya cukup untuk kalangan perbankan, tak perlu diumumkan kepada publik. Bahwa perbankan nasional mampu bertahan meski kurs rupiah membubung tinggi hingga Rp 20.000 per dolar AS adalah sesuatu yang bagus. Namun, ketika diumumkan ke publik, masyarakat menangkap lain. Publik menilai, rupiah hendak dibiarkan otoritas bergerak hingga Rp 20.000. Pengumuman ini memicu berbagai analisis. Ada yang mengatakan, apa iya, perbankan masih mampu bertahan jika kurs menembus Rp 15.000 per dolar AS. Tak pelak lagi, pengumuman ini mendorong pemilik dana untuk memegang dolar AS.

Setelah menaikkan Fed fund rate (FFR) 25 basis poin pada Maret 2018, The Federal Reserve (Fed) berencana untuk menaikkan lagi sekitar tiga kali suku bunga acuannya tahun ini. Seiring dengan perkembangan ekonomi AS yang terus membaik, kenaikan FFR akan berlangsung hingga tahun 2019. Saat ini, FFR berada di level 1,50 persen sampai 1,75 persen. Jika terjadi kenaikan tiga kali lagi, masing-masing, 25 basis poin, FFR akhir tahun ini akan berada di level 2,25 persen sampai 2,50 persen.

Pada kuartal pertama 2018, laju pertumbuhan ekonomi AS mencapai 2,3 persen dan inflasi 2,4 persen. Ini sebuah capaian yang luar biasa. Dalam pada itu, angka pengangguran terus menurun berkat lapangan kerja baru yang terus tercipta. Pada akhir Maret 2018, angka pengangguran terbuka tinggal 4,1 juta.

Dengan kebijakan ekonomi pemerintah yang tepat arah, ekonomi AS diyakini bakal terus membaik. Itu sebabnya, bank sentral merespons dengan penaikan suku bunga acuan untuk sedikit mengerem laju pertumbuhan kredit perbankan guna mencegah pemanasan mesin ekonominya. Tahun 2019, FFR kemungkinan besar akan dinaikkan lagi ke level 2,75 persen sampai 3,00 persen.

Suku bunga acuan bank sentral AS pernah mencapai 3,50 persen tahun 2008 saat krisis suprime mortgage pecah di negeri itu. Untuk menggerakkan ekonomi yang kekeringan likuiditas, The Fed mulai menurunkan FFR hingga level 0,00 persen-0,25 persen tahun 2015. Bersamaan dengan penurunan FFR, bank sentral memasok likuiditas ke perekonomian AS hingga mencapai US$ 4 triliun. Kebijakan yang disebut quantitative easing itu baru berakhir pada Oktober 2014.

Ketika The Fed memangkas suku bunga acuannya, BI juga menurunkan BI rate, suku bunga acuan yang kini berubah nama menjadi BI-7 days reverse repo rate (DRRR) itu dari level 9 persen ke 4,25 persen, posisi yang terus dipertahankan sejak delapan bulan lalu. Mestinya, ketika The Fed menaikkan FFR bulan Maret lalu, BI juga merespons dengan menaikkan suku bunga acuan. Paling tidak pada awal Mei, ketika rupiah terdepresiasi menembus level psikologis Rp 14.000 per dolar AS, BI-7DRRR juga dinaikkan 25 atau 50 basis poin.

Akibat terlambatnya respons BI dan kebijakan OJK yang kurang tepat, harga saham rontok dan rupiah tergerus. Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 8 Mei, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun ke level 5.774, terpangkas 1,88 persen dari hari sebelumnya. Pekan sebelumnya, Kamis, 3 Mei, indeks terpangkas 2,55 persen seiring dengan rontoknya nilai tukar rupiah.

Terhitung sejak Januari 2018, indeks merosot 6,28 persen. Sedang dari level tertinggi 6.689 yang dicapai, Senin, 19 Februari 2018, IHSG terjungkal 10,9 persen. Daya tarik ekonomi AS, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian pasar menyebabkan asing lebih banyak melakukan aksi sell dibanding buy dan hold. Dalam empat setengah bulan pertama 2018, net selling asing sudah mencapai Rp 37,6 triliun, hanya terpaut Rp 2 triliun lebih dibanding net selling asing selama setahun penuh, 2017.

Aksi menjual juga mulai melanda pasar surat berharga negara (SBN). Meski masih mencatat peningkatan sejak awal tahun, net selling asing di SBN sudah terjadi sejak awal Mei 2018. Kepemilikan asing di SBN sempat mencapai level tertinggi Rp 880,2 triliun. Namun, kini sudah terpangkas Rp 15,5 triliun.

Memasuki Mei, kurs rupiah terhadap dolar AS kian meninggalkan asumsi APBN 2018, Rp 13.400 per dolar AS. Level psikologis Rp 14.000 pun terlampaui. Sejak Januari (ytd), rupiah terdepresiasi 3,69 persen. Peso Filipina dan rupee India jatuh lebih dalam. Peso Argentina rontok hingga 18%. Ekonomi AS kinclong di tengah perlambatan ekonomi kawasan.

BI dinilai sudah terlambat menaikkan bunga acuan. Untuk mengangkat rupiah, paling tidak BI-7DRRR perlu dinaikkan 50 basis poin menjadi 4,75 persen. Meski BI menggunakan bauran kebijakan atau sejumlah instrumen moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, penaikan BI-7 days reverse repo rate tetap dinilai sebagai solusi paling penting. Kalangan bankir pun mendukung penaikan suku bunga acuan.

Para bankir tidak khawatir akan kenaikan suku bunga acuan BI. Sejak tahun 2016, kredit bertumbuh di bawah 10 persen meski suku bunga kredit sudah turun jauh, bahkan kredit investasi dan konsumsi sudah satu digit. Kenaikan suku bunga acuan BI akan menaikkan bunga simpanan dan juga bunga kredit. Namun, dalam kondisi ekonomi slow down, kenaikan suku bunga pinjaman relatif tidak memengaruhi pertumbuhan kredit.

Otoritas moneter tak perlu terus-menerus menuding sektor riil sebagai biang kerok pelemahan rupiah. Sudah menjadi masalah klasik bahwa struktur ekonomi Indonesia bermasalah. Pertama, ekspor Indonesia terlalu rendah, sedang impor terus membesar. Kondisi ini menyebabkan surplus neraca perdagangan tidak cukup kuat untuk menopang neraca transaksi berjalan. Kedua, ekspor Indonesia didominasi ekspor komoditas yang bernilai tambah rendah. Ekspor produk industri bernilai tambah tinggi masih minim.

Indonesia memang tidak sendirian. Peso Filipina merosot 4,8 persen selama Januari hingga 11 Mei 2018, year to date (ytd). Rupee India anjlok 5,2 persen, dan peso Argentina terjungkal 17,8 persen. Namun, bath Thailand menguat 2,8 persen, ringgit Malaysia 0,4 persen, dan dolar Singapura terapresasi 0,2 persen terhadap dolar AS. Karena itu, depresiasi rupiah ytd sebesar 3,7 perlu perlu menjadi bahan bagi otoritas moneter dan otoritas keuangan untuk melakukan introspeksi. Tak perlu selalu mencari pembenaran lewat membanding-bandingkan dengan negara lain. Juga tak perlu selalu menuding sektor riil kita yang memang agak rapuh.

 

CLOSE