Naikkan Bunga Acuan

Investor Daily Rabu, 30 Mei 2018 | 09:24 WIB

Pasar ternyata kurang antusias merespons kenaikan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) pada 17 Mei lalu. Di pasar saham, investor asing tetap mengambil posisi jual. Di pasar valas, tekanan terhadap rupiah masih kuat. Begitu pula di pasar surat berharga negara (SBN).

Kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps) ke level 4,5 persen dianggap terlampau kecil untuk menarik kembali investor asing yang sudah keluar dari pasar saham dan pasar SBN. Kenaikan sebesar itu juga dinilai tidak akan membuat nyaman para investor asing yang masih memilih bertahan.

Di pasar saham, investor asing sudah membukukan penjualan bersih (net sell) Rp 39,64 triliun selama tahun berjalan (year to date/ytd). Sedangkan di pasar SBN, kepemilikan asing sudah negatif Rp 6,35 triliun sejak Januari hingga 24 Mei lalu.

Karena itu, wajar jika pasar menghendaki bank sentral dalam rapat dewan gubernur (RDG) Rabu (30/5) kembali menaikkan suku bunga acuan. Tuntutan pasar tidak terlalu muluk. BI hanya perlu menaikkan BI 7-DRRR sebesar 25 bps lagi.

Kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps diperlukan untuk mengangkat rupiah yang sudah terkoreksi sekitar 4,5 persen (ytd). Meski belum mencemaskan, depresiasi rupiah terhadap dolar AS cukup merisaukan. Bila terus di atas Rp 14.000, rupiah dikhawatirkan bablas dan menemukan ekuilibrium baru di level Rp 15.000 per dolar AS.

Dengan kenaikan kembali BI 7-DRRR, rupiah diharapkan tidak terus terombang-ambing di atas level psikologis Rp 14.000 per dolar AS. Posisi BI 7-DRRR di level 4,75 persen sudah cukup untuk mendorong investor asing kembali masuk ke pasar saham dan SBN, atau mencegah mereka keluar dari Indonesia.

Jika BI 7-DRRR berada di level 4,75 persen, potensi keuntungan yang dapat diraih investor asing dari selisih suku bunga acuan di dalam negeri dengan di AS dan negara-negara maju lainnya diharapkan tidak terlalu lebar. Dengan begitu pula, para pengelola hedge fund global tidak tergoda untuk mengalihkan dananya dari Indonesia ke AS.

Selisih antara suku bunga acuan di emerging markets dan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) sedang menyita perhatian para investor global. Itu pula yang menyebabkan hampir semua mata uang melemah terhadap dolar AS dalam beberapa bulan terakhir. Apalagi setelah The Fed mengisyaratkan bakal menaikkan Fed funds rate (FFR) sebanyak 2-3 kali lagi tahun ini setelah Maret lalu menaikkannya 25 bps ke level 1,5-1,75 persen.

Tuntutan para pelaku pasar agar BI menaikkan kembali suku bunga acuan terbilang wajar. Dengan asumsi BI menaikkan BI 7-DRRR ke level 4,75 persen, asing akan berhenti mengejar kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury Bond) yang dianggap lebih menjanjikan. Terlebih yield US Treasury Bond yang sempat mencapai 3 persen, kini turun lagi ke level 2,84 persen.

Paling penting, kenaikan BI 7-DRRR sebesar 25 bps ke level 4,75 persen juga masih tergolong moderat, sehingga suku bunga acuan di level itu tidak akan memberikan guncangan terhadap sektor riil. BI bisa meninjau kembali keputusan tersebut setidaknya sampai The Fed menaikkan kembali FFR pada 14 Juni mendatang.

Kita sepakat bahwa BI jangan terlalu bermurah hati menaikkan suku bunga acuan. Namun, kita juga sependapat bahwa bank sentral tidak boleh terlalu pelit untuk menyesuaikan BI 7-DRRR. BI harus berupaya agar suku bunga acuan adil bagi semua, baik bagi pasar finansial, maupun bagi sektor riil.

Harapan agar BI berlaku adil dalam menetapkan suku bunga acuan, tidaklah berlebihan. Kredit perbankan masih tumbuh single digit. Upaya BI dan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui sektor riil--dengan mendorong kredit lebih deras--akan tertahan bila perbankan merespons kenaikan BI 7-DRRR dengan menaikkan suku bunga kredit.

Di balik itu semua, kita juga perlu mengingatkan BI untuk selalu jeli, cermat, dan responsif, tetapi tetap hati-hati, dalam menaikkan suku bunga acuan. Keputusan RDG BI pada 17 Mei lalu yang hanya menaikkan BI 7-DRRR sebesar 25 bps termasuk keputusan yang kurang cermat dan kurang responsif.

Tak bisa dimungkiri, kenaikan BI 7-DRRR sebesar 25 bps pada 17 Mei lalu bukan hanya terlalu kecil, tetapi juga terlambat. Pasar menganggap BI telat merespons gejolak nilai tukar. Saat itu, tekanan terhadap rupiah begitu kuat, bahkan turut mendorong para investor asing ramai-ramai hengkang dari pasar saham dan SBN domestik.

Jelas, kita tidak mau pasar kembali menghakimi bank sentral hanya karena terlambat merespons gejolak nilai tukar. Kita juga tidak mau BI memberikan reaksi yang terlampau berlebihan terhadap situasi pasar yang masih diliputi ketidakpastian. Kita hanya perlu mengingatkan bahwa para petinggi BI tidak boleh tersandung untuk kedua kalinya gara-gara kerikil yang sama.

CLOSE