Geliat Industri Manufaktur

Investor Daily Selasa, 5 Juni 2018 | 09:15 WIB

Meski sedang diharu biru ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Indonesia tetap ekspansif. Hal itu ditunjukkan oleh membaiknya Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI). Pada Mei 2018, PMI Indonesia versi Nikkei-Markit tembus 51,7, naik dari bulan sebelumnya 51,6, dan merupakan level tertinggi dalam 23 bulan terakhir.

Kenaikan PMI yang menandakan industri di Tanah Air sedang ekspansif sungguh melegakan. Apalagi geliat manufaktur pada Mei 2018 didorong permintaan baru yang mengalami pertumbuhan paling cepat sejak Juli 2014. Produksi manufaktur juga terus naik dalam empat bulan terakhir yang merupakan periode ekspansi terpanjang sejak lima tahun silam.

Tak kalah melegakan, permintaan domestik yang menguat menjadi pendorong manufaktur Indonesia, mengingat permintaan ekspor sudah turun selama enam bulan berturut-turut. Lebih dari itu, kesehatan manufaktur Indonesia pada Mei 2018 merupakan yang terkuat sejak Juni 2016. Ini merefleksikan permintaan domestik yang lebih kencang, di tengah permintaan dari pasar global yang masih lambat.

Selain melegakan, PMI Indonesia pada Mei 2018 turut mempertebal optimisme bahwa perekonomian nasional tengah menggeliat, meski sedang terombang-ambing gejolak eksternal. Rencana The Fed menaikkan kembali fed funds rate (FFR) sebanyak 2-3 kali lagi tahun ini telah mendorong investor asing keluar dari pasar saham, surat berharga negara (SBN), dan pasar valas. Akibatnya, rupiah sempat terdepresiasi di atas level psikologis Rp 14.000 per dolar AS.

Perekonomian nasional juga sedang menghadapi risiko kenaikan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Tahun ini, CAD diperkirakan mencapai US$ 23 miliar atau 2,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), naik dari tahun lalu sebesar 1,7 persen, terutama akibat membengkaknya defisit neraca perdagangan.

Tekanan defisit neraca perdagangan bukan cuma datang dari impor nonmigas, tetapi juga migas. Dengan status Indonesia sebagai pengimpor sejati minyak (net oil importer), defisit neraca minyak kemungkinan membesar. Itu karena konsumsi bahan bakar minyak (BBM) terus meningkat di tengah tren kenaikan harga minyak dunia dan rendahnya realisasi produksi (lifting) minyak nasional.

Hengkangnya sebagian investor asing dari pasar saham, pasar SBN, dan pasar valas seiring pelemahan rupiah telah menorehkan sedikit kekhawatiran. Lambat atau cepat, tekanan terhadap pasar portofolio bisa mengimbas ke sektor riil. Ujung-ujungnya, aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) bakal terganggu.
Kekhawatiran itu cukup beralasan. Jika rupiah terus melemah, biaya produksi bakal naik karena sebagian besar bahan baku dan bahan penolong produk manufaktur berasal dari impor. Belum lagi jika memperhitungkan inflasi barang impor (imported inflation) yang dapat melemahkan daya beli masyarakat, sehingga penjualan produk manufaktur menurun. Namun, rupanya, kekhawatiran-kekhawatiran itu tidak terbukti.

Indikasi bahwa FDI masih mengalir deras ke Indonesia sebetulnya sudah tampak sejak kuartal I lalu. Pada periode Januari-Maret 2018, realisasi penanaman modal mencapai Rp 185,3 triliun, yang Rp 108,9 triliun di antaranya merupakan penanaman modal asing (PMA). Realisasi PMA kuartal I sudah 22,8 persen dari target sepanjang tahun 2018.

Namun, pencapaian industri manufaktur nasional pada Mei 2018 tak boleh membuat kita lengah. Bagaimana pun, rintangan ke depan masih banyak dan beragam, baik yang berasal dari lonjakan harga minyak, gejolak nilai tukar, maupun yang berasal dari pelemahan ekonomi global yang dapat menekan penjualan industri manufaktur di Tanah Air.

Di sinilah pentingnya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjaga berbagai indikator makro agar tetap sesuai target APBN. Dalam APBN 2018, pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4 persen, inflasi 3,5 persen, kurs Rp 13.400 per dolar AS, suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) tiga bulan 5,2 persen, harga minyak mentah nasional (ICP) US$ 48 per barel, serta lifting minyak dan gas bumi masing-masing 800.000 barel per hari dan 1,2 juta barel setara minyak per hari.

Satu hal yang tak boleh dilupakan, pemerintah perlu terus memperkuat industri manufaktur nasional. Sebab, faktanya, Indonesia bukanlah negara industri manufaktur. Buktinya, 60 persen ekspor nonmigas negeri ini masih berupa komoditas sumber daya alam mentah atau belum diolah, sehingga kontribusi industri manufaktur terhadap produk dometik bruto (PDB) masih rendah, cuma 18 persen, dengan pertumbuhan 4-5 persen per tahun.

Kita sepakat bahwa menjadikan Indonesia sebagai negara industri manufaktur yang kuat harus menjadi tekad segenap komponen bangsa. Bila Indonesia menjadi negara industri manufaktur yang hebat, kesejahteraan rakyat bakal melonjak karena kita memproduksi barang-barang bernilai tambah tinggi.

Dengan menjadi negara industri manufaktur yang kuat, Indonesia tak akan lagi mengekspor komoditas mentah. Kita akan menjual produk jadi yang harganya mencapai puluhan kali lipat dan menyerap tenaga kerja ratusan kali lebih banyak. Penerimaan negara bakal melonjak ratusan kali, menghasilkan cadangan devisa berlipat ganda, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat, lebih berkualitas, lebih inklusif, lebih adil dan merata.

CLOSE