Menggapai Prestasi Tingkat Asia

Suara Pembaruan Sabtu, 4 Agustus 2018 | 17:10 WIB

Penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk menorehkan sejarah dalam hal sukses penyelenggaraan dan sukses meraih prestasi olahraga. Berbagai pembangunan fisik berupa stadion dan arena berbagai cabang olahraga sudah selesai dibangun. Persiapan fisik terkait penyelenggaraan gamblang terlihat. Mana yang kurang dan apa yang sudah sempurna dari pembangunan infrastruktur maupun manajemen penyelenggaraan gampang diukur. Sebaliknya, persiapan terkait prestasi lebih sulit untuk dilihat dan dipastikan.

Persiapan atlet yang sudah sangat optimal saat ini belum tentu berbuah hasil sesuai target pada saat bertanding. Masih ada beberapa faktor penentu sukses prestasi, antara lain kondisi fisik dan psikologi atlet saat berlaga, grafik puncak penampilan, performance lawan tanding, dan bahkan dukungan penonton.

Kontingen Merah Putih menargetkan mampu masuk 10 besar negara pendulang medali terbanyak pada Asian Games ke-18. Sudah 18 tahun atau sejak Asian Games 1990 di Beijing, Indonesia tidak pernah lagi masuk dalam daftar tersebut.

Target kita 16 emas. Perolehan medali bakal didapat dari sejumlah cabang olahraga unggulan, seperti bulutangkis, angkat besi, panahan, atletik, dan lainnya.

Dari catatan sejarah, posisi tuan rumah menjadi faktor pendongkrak torehan prestasi. Tuan rumah diuntungkan oleh adanya cabang-cabang olahraga andalannya yang dipertandingkan sekalipun cabang tersebut tidak populer di mayoritas negara peserta.

Dalam sejarah Asian Games, tuan rumah selalu masuk dalam jajaran 10 besar pengumpul medali terbanyak. Prestasi terburuk tuan rumah adalah pada 2006 di Doha ketika tuan rumah Qatar hanya bisa menempati posisi kesembilan. Tentu kita berharap prestasi Indonesia tidak lebih buruk dari Qatar.

Memang tidak mudah bagi Indonesia masuk 10 besar. Atlet negara-negara lain, seperti Tiongkok, atau negara lain seperti Jepang, Korea, India, Iran, Taiwan, Kazakstan, Thailand, dan Uzbekistan, memiliki atlet yang cukup merata prestasinya dan sulit dikalahkan.

Di sisi lain, harus diakui bahwa prestasi olahraga Indonesia jauh tertinggal dibanding negara-negara Asia lainnya, bahkan bila dibandingkan dengan Thailand sebagai sesama negara Asia Tenggara. Dari perjalanan penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia ini, Kontingen Merah Putih terengah-engah untuk bisa menggapai 10 besar.

Sejak 1951 hingga penyelenggaraan yang ke-17 pada 2014 lalu, Indonesia sembilan kali masuk 10 besar, termasuk pada penyelenggaraan Asian Games perdana di India, di mana Indonesia menduduki peringkat ketujuh dari hanya 11 negara peserta.

Prestasi terbaik Indonesia adalah pada penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962. Sebagai tuan rumah, Indonesia menduduki peringkat kedua. Sementara Thailand, sebagai pesaing sudah 10 kali masuk 10 besar pengumpul medali.

Ketika Indonesia dan Thailand sama-sama masuk daftar 10 besar Asian Games, Negeri Gajah Putih ada di peringkat lebih baik ketimbang Pasukan Garuda. Sejarah mencatat, dalam tujuh kesempatan masuk 10 besar Asian Games, lima kali Thailand ada di posisi yang lebih baik. Perolehan medali Indonesia ada di atas Thailand hanya dua kali. Pada perhelatan di Jakarta tahun 1962 Indonesia di peringkat kedua dan Thailand di posisi ke tujuh. Berikutnya pada Asian Games 1990 di Beijing, Tiongkok, Indonesia menduduki posisi ke tujuh dan Thailand ke sembilan. Keunggulan Thailand atas Indonesia juga bisa dilihat dari prestasinya pernah dua kali menduduki peringkat ketiga dan sekali peringkat keempat.

Prestasi olahraga Indonesia yang boleh dibilang terpuruk setelah era reformasi, bisa dibangkitkan dengan menjadi tuan rumah. Syaratnya seluruh komponen yang terdekat dengan penyelenggaraan bahu-membahu mendukung pemerintah, KONI dan kontingen Indonesia menggapai target. Hal paling nyata di depan mata adalah memberikan fasilitas kepada para atlet yang hendak bertanding. Modal nasionalisme saja tidak cukup. Atlet butuh ketenangan dan kestabilan. Biarkan atlet hanya fokus pada prestasi tertinggi tanpa harus dibebani masalah keterlambatan uang saku atau uang makan.
Kita mengapresiasi pemerintah maupun pihak swasta yang menjanjikan bonus sebagai salah satu pelecut semangat atlet.

Tak kalah penting adalah dukungan dari penonton terutama warga Jabodetabek dan Palembang. Pihak penyelenggara harus memikirkan ulang bagaimana mendatangkan penonton sebanyak mungkin terutama pada cabang olahraga unggulan tuan rumah. Jangan sampai tiket yang tak terjangkau membuat pesta olahraga se-Asia ini sepi. Sepi penonton yang bisa membuat sepi prestasi.