Saham Masih Menjanjikan

Investor Daily Rabu, 12 September 2018 | 10:03 WIB

Pasar saham domestik sedang diuji, bertubi-tubi. Dari sisi eksternal, ujian datang dari rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). The Fed berencana menaikkan Fed funds rate (FFR) sebanyak empat kali tahun ini, dua di antaranya sudah direalisasikan. Tahun depan, The Fed akan kembali menaikkan FFR tiga kali lagi.

Rencana kenaikan FFR yang saat ini berada di level 1,75-2,0% telah menimbulkan "kegaduhan" di pasar saham. Investor asing ramai-ramai melepas saham dan mengalihkan dananya ke AS. Itu karena instrumen investasi di AS ke depan dianggap lebih menguntungkan sejalan dengan pulihnya ekonomi Negeri Paman Sam.

Selain dihajar isu kenaikan FFR, pasar saham sedang digempur isu perang dagang antara AS dan Tiongkok, yang telah menjalar ke negara-negara lainnya. Perang tarif bea masuk (BM) memicu kekhawatiran ihwal berlarut-larutnya pemulihan ekonomi global. Ketidakpastian telah mendorong para investor keluar dari lantai bursa.

Masih dari sisi eksternal, pasar saham juga sedang diterjang isu krisis ekonomi di negara-negara emerging markets. Setelah Argentina, Venezuela, dan Turki terperosok ke jurang krisis, para investor khawatir krisis serupa akan melanda negara-negara emerging markets lainnya. Apalagi setelah Afrika Selatan dinyatakan masuk zona resesi.

Isu kenaikan FFR, perang dagang, dan krisis di emerging markets memberi pukulan telak terhadap pasar saham domestik. Investor asing makin agresif melepas saham. Selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal Januari hingga 10 September 2018, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 53,19 triliun.

Arus modal keluar (capital outflow) yang masif di pasar saham membuat nilai tukar rupiah tertekan. Selama tahun berjalan, rupiah sudah melemah 8,6% dari Rp 13.548 ke Rp 14.835 per dolar AS, bahkan mata uang NKRI sempat menemus level Rp 15.000 per dolar AS. Dalam APBN 2018, asumsi rupiah dipatok "cuma" Rp 13.400 per dolar AS.

Tak hanya dari sisi eksternal, pasar saham domestik juga diserang dari sisi internal. Neraca perdagangan yang terus defisit turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Pada Januari-Juli 2018, defisit neraca perdagangan mencapai US$ 3,09 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, neraca pedagangan membukukan surplus US$ 7,39 miliar, bahkan selama tiga tahun terakhir, neraca perdagangan selalu mencatatkan surplus.

Karena neraca perdagangan terus minus, neraca transaksi berjalan (current account) hingga kuartal II-2018 mengalami defisit US$ 8,03 miliar, hampir dua kali lipat dari defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuartal II-2017 sebesar US$ 4,71 miliar. CAD sampai akhir tahun 2018 diperkirakan tembus US$ 25 miliar. Para investor khawatir CAD yang menganga semakin lebar akan menyebabkan rupiah semakin lunglai dan stabilitas APBN terganggu.

Lantas, apakah ujian-ujian yang datang bertubi-tubi itu akan menjadikan pasar saham crash? Tentu saja tidak. Fundamental ekonomi Indonesia tak serentan yang diperkirakan para investor. Pemerintah masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi pada level 5% dan inflasi pada kisaran 3-4%, yang merupakan modal utama untuk menjaga kesinambungan roda ekonomi ke depan.

Kekhawatiran para investor terhadap triple deficit (defisit APBN, defisit neraca transaksi berjalan, dan defisit neraca pembayaran Indonesia/NPI) juga terlampau berlebihan. Sebab, secara historis, negara ini sudah terbiasa digelayuti multidefisit, dari defisit APBN, defisit perdagangan, defisit neraca transaksi berjalan, defisit NPI, hingga defisit keseimbangan primer.

Kecemasan terhadap semakin parahnya depresiasi rupiah mungkin masih bisa dimaklumi. Namun, kecemasan itu bakal segera luntur karena neraca perdagangan akan kembali berimbang, bahkan berpotensi surplus, suplai dolar AS di dalam negeri lebih terjamin, spekulasi valuta asing (valas) mereda, dan cadangan devisa bertambah.

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah formula untuk mengobati rupiah. Pertama, eksportir mineral dan batu bara (minerba) wajib memasukkan seluruh devisa hasil ekspor (DHE)-nya ke rekening bank nasional. Kedua, proyek di bidang energi wajib menggunakan barang modal, bahan baku, dan peralatan buatan dalam negeri. Ketiga, perluasan program pencampuran 20% kandungan minyak sawit dalam solar atau biodiesel (B20). Keempat, penaikan tarif pajak penghasilan (PPh) impor terhadap 1.147 pos tarif.

Selain punya bumper ekonomi yang kokoh, pasar saham domestik punya investor lokal yang militan. Merekalah yang menjadi tameng saat pasar saham dibombardir aksi jual investor asing. Kesaktian investor lokal terbukti pekan lalu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 5 September terjun bebas 221,8 poin atau 3,7% ke level 5.683, dan investor asing mencatatkan net sell Rp 877,36 miliar. Esoknya, IHSG justru rebound 1,63% ke posisi 5.776, kendati investor asing membukukan net sell hampir Rp 1 triliun. IHSG diselamatkan investor lokal.

Jangan lupa pula, emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini masih mencetak pertumbuhan laba rata-rata 20%. Maka bukan sesuatu yang luar biasa bila para analis menganjurkan para investor, terutama investor domestik, mengakumulasi saham-saham berfundamental bagus yang valuasinya sudah di bawah. Dengan membeli saham saat harganya murah seperti sekarang, para investor akan menuai keuntungan investasi (capital gain) yang optimal saat harganya menguat kelak.