Rupiah Mulai Perkasa

Investor Daily Kamis, 8 November 2018 | 12:33 WIB

Rupiah mulai menunjukkan keperkasaannya. Setelah sebulan terakhir berada di atas level Rp 15.000 per dolar AS, nilai tukar rupiah mulai ditransaksikan di kisaran Rp 14.500-an per dolar AS pada perdagangan Rabu (7/11/2018). Penguatan nilai tukar rupiah yang dimulai sejak akhir pekan lalu diharapkan akan terus berlanjut.

Penguatan rupiah akhir-akhir ini terjadi setelah dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Pelemahan dolar AS itu seiring menguatnya ekspektasi kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu untuk menguasai Kongres AS. Kemenangan Partai Demokrat akan memberikan penyeimbang peta politik di Negeri Paman Sam dan mengurangi dominasi Partai Republik yang saat ini sangat menentukan arah pengelolaan fiskal AS ke depan dan proses legislasi berbagai kebijakan strategis.

Selain itu, dolar AS melemah setelah adanya sinyal positif dari meredanya tensi perang dagang. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jin Ping dikabarkan akan bertemu untuk membahas kembali solusi perang dagang di sela pertemuan para pemimpin G20 pada akhir November di Buenos Aires, Argentina. Meski belum bisa dipastikan hasilnya sebelum pertemuan itu digelar, kabar tersebut turut memberi angin segar bagi rupiah.

Sentimen lain yang menekan nilai tukar dolar AS yakni tercapainya kesepakatan Brexit yang membuat mata uang euro menguat. Dengan kesepakatan tersebut, perusahaan jasa keuangan Inggris masih diperbolehkan memiliki akses ke pasar Eropa. Hal ini akhirnya membangun sentimen positif di pasar yang diikuti penguatan euro.

Sementara dari sisi internal, penguatan nilai rupiah terhadap dolar AS belakangan ini dikarenakan investor percaya terhadap prospek perekonomian nasional yang sehat dan kuat. Meski tumbuh melambat menjadi 5,17% year on year (yoy) pada kuartal III-2018 dibanding 5,27% di kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbilang tinggi dan menunjukkan pergerakan roda ekonomi yang positif.

Investor merespons positif perekonomian Indonesia dengan memburu sejumlah aset berdenominasi rupiah, sehingga permintaan terhadap rupiah meningkat. Arus modal asing pun mulai kembali masuk (capital inflow). Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) senilai Rp 1,3 triliun di pasar saham. Sementara di pasar obligasi, arus modal masuk mencapai Rp 5,86 triliun. Derasnya aliran modal asing itu membuat rupiah menguat 1,72% terhadap dolar AS selama pekan lalu.

Penguatan rupiah juga ditopang oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat untuk pertama kalinya di tahun ini. Data Bank Indonesia menyebutkan bahwa cadangan devisa per akhir Oktober 2018 sebesar US$ 115,2 miliar dibandingkan posisi akhir September 2018 sebesar US$ 114,8 miliar, namun lebih rendah dari posisi US$ 117,9 miliar pada akhir Agustus 2018. Cadangan devisa tersebut dinilai mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Peningkatan cadangan devisa pada Oktober 2018 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan penarikan utang luar negeri (ULN) pemerintah yang lebih besar dari kebutuhan devisa untuk pembayaran ULN pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif.

Meski mulai menunjukkan tren penguatan, stabilitas rupiah belum sepenuhnya aman dari tekanan global. Rupiah akan kembali mendapat tekanan jika bank sentral AS atau The Fed menaikkan lagi suku bunga acuannya pada Desember mendatang. Kenaikan bunga acuan The Fed yang kemudian direspons investor dengan memburu dolar AS sebagai aset yang menguntungkan akan memberi tekanan ke rupiah.

Dari dalam negeri, data neraca perdagangan Indonesia yang kemungkinan masih defisit hingga akhir tahun juga memberi sentimen negatif. Meski pada September mencatatkan surplus US$ 0,23 miliar, secara kumulatif periode Januari-September 2018 neraca perdagangan Indonesia masih defisit US$ 3,78 miliar akibat sektor nonmigas mengalami surplus US$ 5,59 miliar tapi sektor migas defisit minus US$ 9,37 miliar.

Kita berharap rupiah akan terus stabil. Untuk menjaga stabilitas rupiah, ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah. Yang harus dilakukan saat ini adalah menjaga kondisi fundamental Indonesia tetap baik dan kuat. Kemudian, menyediakan banyak instrumen investasi yang bisa menjadi daya tarik bagi dana asing tetap bertahan di dalam negeri.

Pemerintah juga harus menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya, yakni mengatasi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Data makro ekonomi ini menjadi biang keladi rentannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena minimnya pasokan valas di dalam negeri. Pada kuartal II-2018, defisit transaksi berjalan tercatat US$ 8,0 miliar atau 3,0% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan defisit kuartal sebelumnya sebesar US$ 5,7 miliar (2,2% PDB). Menurut proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, CAD akan mencapai 3% dari PDB sampai akhir tahun karena tingkat impor yang tinggi.

Untuk menurunkan CAD, pemerintah harus meningkatkan pasokan valas dengan memperkuat ekspor dan secara bersamaan membatasi barang impor. Defisit neraca minyak yang masih menjadi masalah utama dari CAD harus segera diatasi. Karena itu, implementasi program pencampuran 20% bahan bakar nabati (BBN) ke dalam solar atau B20 harus terus dikebut agar impor bahan bakar minyak (BBM) bisa dikurangi.

Terakhir, pemerintah harus menciptakan iklim investasi yang membuat dana-dana asing betah tinggal lama di Indonesia. Derasnya capital inflow akan mampu mendongkrak kekuatan mata uang rupiah. Di samping itu, arus modal asing yang masuk akan menjadi sumber pembiayaan bagi defisit neraca dagang dan transaksi berjalan sehingga mengurangi tekanan terhadap rupiah.

CLOSE