Ribuan umat Islam menjalankan Sholat Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tamu yang disambut dengan lapang dada dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadan (selamat datang
Ramadan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda,"Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkatan. Allah SWT telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadan, dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu, maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan." (Hr Ahmad)

Marhaban Ramadan, kita ucapkan untuk bulan suci itu karena mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT. Perjalanan menuju Allah SWT  itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.

Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga.

Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang
musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus ditabur di dalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadan dengan salat dan tadarus, serta siangnya dengan
ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

Penulis: Tim @SedekahHarian/AB