Kiai Maman Imanulhaq, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka

Oleh: Kiai Maman Imanulhaq

Surat Al-Anfal disebut pula surah al-Badar. Karena, menurut Ibnu Abbas, diturunkan saat perang Badar Kubra, sebuah perang yang terjadi pada tahun kedua hijrah dan sangat penting dalam menentukan sejarah Islam.

Surat ini mengupas tentang harta rampasan perang (al-ghonimah). Karena jumlah pasukan yang sedikit, sedang ghonimah berlimpah, maka timbul masalah. Bagaimana caranya membagikan ghonimah dengan adil? Karena terkadang, keikhlasan ternodai dengan perebutan ghonimah. Atau perjuangan sejati terlupakan karena kemewahan yang berlimpah?

Imam Asy-Syafii berkata,“Apabila kerakusan bersarang di hati, alamat bahaya mengancam diri.”

Nabi Nuh pernah diberitahu iblis bagaimana strateginya membinasakan manusia, yakni dengan menanamkan sifat dengki (hasad, iri hati) dan serakah dalam diri manusia.

“Wahai Nuh, aku akan berusaha membinasakan manusia dengan dua cara. Pertama, dengan cara menanamkan sifat dengki dalam hati mereka, dan kedua dengan cara menanamkan sifat serakah dalam jiwa mereka. Karena dengki, maka aku dilaknat Allah dan dijadikan sebagai setan terkutuk. Dan karena serakah, maka Adam menghalalkan segala makanan di surga sehingga ia dikeluarkan. Dengan dua sifat ini, kami semua dikeluarkan dari surga,” kata iblis.

Islam menentang hidup yang berlebihan sampai melampaui batas, sebab malapetaka yang timbul akibat keserakahan. Dalam surat ini ada sekelumit kisah suatu umat yang pernah tenggelam dalam keserakahan, kesenangan, dan kezaliman. Keserakahan timbul karena rasa takut kehilangan sesuatu yang dimilikinya dan kecintaan terhadap dunia yang berlebihan.

Imam Baqir pernah menasihati,“Perumpamaan orang serakah di dunia adalah ibarat ular sutra. Makin banyak sutra yang dijalin sekeliling dirinya, makin kecil kesehatannya untuk bertahan hidup, hingga akhirnya ia lemas sendiri.”

Keserakahan membuat banyak orang menjadikan agama sebagai komoditas. Sikap “agamis” dan “religius” dengan mengenakan simbol-simbol agama bukan karena dorongan iman, tapi semata-mata karena alasan yang sangat pragmatis: ekonomi dan materi. Oleh para selebritas (artis, penyanyi, dai, politikus, pejabat, dan seterusnya) kehidupan ini hanya dijadikan panggung sandiwara yang penuh kepura-puraan. Celakanya, simbol-simbol agama dipakai untuk meraih simpati dan dukungan dari massa, sehingga popularitas terdongkrak, jabatan naik, dan uang melimpah.

Uang bisa mengubah kepribadian, basis nilai, dan kesadaran seseorang. Ini berlaku universal bagi siapa pun. Di negeri ini, ada tokoh agama yang jadi presiden partai dakwah “tergelincir” dan “silau” dengan materi duniawi. Dan itu menjadi hal biasa bagi tokoh yang lain. Ada anekdot,“Kenapa para tokoh agama melakukan korupsi, padahal itu dosa yang sangat besar?” Jawabannya,“Karena mereka tahu persis bagaimana cara bertobat yang baik.”

Surat ini mengingatkan kita tentang keserakahan sekelompok kaum Muslimin karena terbuai oleh harta rampasan perang (ghonimah). Kita terinspirasi ucapan Ibnul Atsir dengan redaksi yang penulis sesuaikan,“Kebodohan, keserakahan, dan ketidakdisiplinan yang akan mengantarkan seseorang mengalami kekalahan, yaitu mereka yang punya mimpi sebatas perut dan kemaluan.”



Penulis: /AB